πŸ’œ T-U-J-U-H B-E-L-A-S πŸ’œ

556 Kata
Ketika Fattan ingin masuk ke dalam mobilnya, Gretha buru-buru menarik pelan baju pria itu. "Apaan?" tanya Fattan sambil menoleh ke arah Gretha. "Gue tiba-tiba mual kalau lihat mobil di jalanan," kedua kening pria itu mendadak mengerut, dia mulai mencurigai akan ada tindakan aneh yang akan Gretha lakukan, "gue ga mau duduk di kursi sebelah lo. Gue enggak mau duduk di samping kursi kemudi." "Terus?" "Mau duduk di tengah." "Biar?" Gretha terdiam sebentar. Biar apa ya. Yang jelas sih, biar bisa bersebelahan dengan Nagendra sehingga ada kesempatan untuk berbincang berdua, tapi enggak mungkin Gretha beralasan seperti itu. Malu. Kelihatan banget dia seagresif itu. "Biar enggak pusing. Kan gue mual kalau duduk di depan," jawab perempuan itu disertai dengan cengiran. "Terus gue kaya supir gitu?" Iya sih benar kaya supir kalau menyetir tanpa ditemani seseorang di sebelahnya. Enggak mungkin kalau Nagendra berpindah posisi ke depan karena pria itu sudah duduk di kursi tengah. Gretha jadi bingung, memilih sahabatnya atau mengikuti keinginannya untuk memperlancar pendekatan dirinya dengan Nagendra. "Bang Gen gue suruh pindah ke depan." "Eh jangan!" Kalau begitu ya sama aja, Gretha jadi enggak bisa modus-modus. Kalau begitu sih mendingan dia di sebelah Fattan daripada duduk sendirian di bagian tengah. "Kenapa? Kan yang penting lo enggak pusing." "Fat, Gret, masih lama?" kali ini perbincangan mereka terganggu dengan panggilan Nagendra yang sudah menunggu di dalam mobil. "Sebentar lagi, Bang. Gretha rese." Kedua mata Gretha membulat sempurna. "Ih, lo mah. Jangan begitu. Jangan jelek-jelekin gue," ucap perempuan itu berbisik-bisik. "Lo kenapa sih lagian? Makin aneh aja," kedua mata Fattan memicing, berusaha menerawang apa yang direncanakan oleh gadis itu, "dasar centil. Masuk ke bagian tengah mobil," ucap Fattan lalu dia masuk ke bagian kursi kemudi. Gretha tersenyum lebar sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Matanya seketika berbinar-binar ketika berada di sebelah Nagendra. Ternyata selain ganteng, pria ini juga wangi. Wanginya enak banget. Gretha mencoba menaiki nafasnya dengan lebih dalam, mencoba menikmati dan berusaha mendefinisikan wangi apa nih. Seketika perempuan itu teringat kebiasaannya yang selama ini apabila bertemu dengan pria ganteng, ketika berpapasan saat jalan, dia selalu menarik napas dalam, menghirup wangi yang dikeluarkan oleh pria-pria itu. Dan wangi Nagendra hampir sama mereka. Gretha jadi berpikir, apa kalau pria ganteng parfumnya sama ya? Daripada pusing menjawab pertanyaan aneh itu, Gretha buru-buru menepisnya dan kembali menikmati wangi Nagendra. Setelah ini pastinya dia semakin betah dekat-dekat dengan Nagendra. Ada efek nagih. Bukan cuma ganteng, tapi juga wangi. Bukan cuma cuci mata, tapi juga cuci hidung. Begitu bukan sih? "Gretha," panggil Nagendra. Perempuan itu seketika terenyuh saat mendengar suara yang begitu lembut. Banyak banget sih nilai plus pria ini. "Iya, Bang?" tanya Gretha sambil menampilkan senyuman terbaiknya. "Saya belum mandi sore. Jangan tarik nafas dalam-dalam. Saya jadi takut badan saya bau. Nanti kamu enggak nyaman." Apa? Belum mandi sore? Belum mandi aja udah sewangi ini apalagi kalau habis mandi. Enggak kebayang wanginya semerbak apa. Seketika gejolak ingin dipeluk agar bisa menikmati wangi tubuh Nagendra melambung tinggi. Dia jadi berpikir bagaimana ya caranya biar bisa dipeluk pria itu. Kalau sama Fattan, dia harus sedih dulu baru dipeluk. Mereka kan kakak adik, bisa saja sama. Sama-sama berempati dengan memberikan pelukan kepada perempuan yang sedang sedih. Gretha jadi punya ide, apa nanti dia adakan drama pura-pura sedih di depan Nagendra biar dipeluk. Gretha mengangguk-angguk tidak jelas. Sebelah tangannya dia genggam erat. Nanti dia akan lakukan itu ide itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN