๐Ÿ’œ D-E-L-A-P-A-N B-E-L-A-S ๐Ÿ’œ

472 Kata
Malam hari tiba. Gretha yang tengah mendengarkan musik harus terhenti ketika mendengar suara bel yang ditekan berkali-kali, dengan tidak sabar. Awalnya dia mencoba acuh, dia lagi enggak mood untuk menerima tamu, tetapi bel terus-menerus berbunyi. Dengan disertai decakan sebal, Gretha mematikan musik yang mengalun melalui speaker kamarnya lalu dia berjalan untuk membukakan pintu. "Buku catatan gue mana?" baru saja pintu terbuka, suara Fattan langsung terdengar. "Apaan?" "Buku catatan gue. Tadi siang lo ambil kan di apartemen gue." "Apaan? Enggak," tanyaku mencoba pura-pura linglung. Wajah Fattan menjadi semakin datar. "Enggak mau bercanda ah, Gret. Catatan panting itu buat gue rapat besok." Melihat wajah Fattan yang seperti itu, Gretha menjadi tidak tega. Dia membukakan pintu apartemennya lebih lebar. "Masuk dulu. Habis kerja masa langsung marah-marah begitu. Yuk, sahabat ganteng kita ngopi dulu." Fattan mendesis. "Ganteng-ganteng. Padahal kata lo Bang Gen lebih ganteng," ucapnya sambil melenggang masuk ke dalam. "Emang iya. Bang Gen lebih ganteng, tapi kan dia bukan sahabat gue jadi panggilannya tetap lo sahabat ganteng," ucap perempuan itu sambil berjalan mengikuti Fattan. Namun, saat ditengah jalan, dia memilih untuk duduk, sedangkan Gretha mengambil buku catatannya yang masih berada di dalam tas. "Nih," Gretha memberikan buku catatan itu, "gue balikin. Tadi buat alibi doang." Fattan mengambilnya lalu memasukkannya ke dalam tas miliknya. "Lo ganjen banget lagian. Masuk-masuk ke apartemen gue pakai segala ngaku itu buku catatan lo lagi. Biar bisa deket-deket sama Bang Gen kan?" tanyanya sambil menatap Gretha sinis. Perempuan itu mengangguk lalu dia berputar dan duduk di sebelah Fattan. "Kebelet banget punya pacar," ucap Fattan mencibir. Seketika aura panas memasuki tubuh perempuan itu. "Heh, Fattan, sadar," Gretha mengubah posisi duduknya sehingga berhadapan dengan pria itu, "lo sendiri kan yang nyuruh gue biar cepat-cepat punya pacar. Biar enggak terus gangguin dan nyusahin lo lagi. Biar cewek-cewek lo enggak cemburu. Lo yang nyuruh gue nyari pacar." Gretha menarik napasnya panjang, sedangkan Fattan hanya terdiam sambil menatap perempuan itu lekat. "Gue kemarin udah berusaha buat dekat sama Rey, tapi lo suruh gue menjauh, gue tuโ€”" "Dia kan enggak benar makanya gue suruh lo ngejauh. Orang jelas-jelas dia mau memperkosa lo, masa lo masih mau aja PDKT sama cowok modelan begitu," potong Fattan cepat. "Iya, emang dia enggak benar." "Terus?" "Terus sekarang gue mau deketin cowok yang benar-benar aja. Deketin Abang lo misalnya. Udah pasti baiknya. Biar lo juga setuju. Seharusnya lo nih dukung gue, bukan malah ngatain gue centil dan agresif," Gretha berdecak sebal, entah kenapa dia jadi terbawa emosi, "gue begini juga karena didasari atas kebaikan kita bersama. Gimana sih." "Enggak tahu deh, Gret. Terserah lo." "Jangan terserah-terserah dong. Bantuin gue." Fattan mengambil tasnya lalu dia bergegas untuk keluar. "Gue bantuin bukain pintu kalau lo mau PDKT sama dia di apartemen gue." Gretha berdecak sebal. Bantuin apaan tuh, masa cuma bukain pintu. Kalau itu dia juga bisa sendiri. Dasar sahabat ganteng nyebelin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN