? E-N-A-M ?

505 Kata
Fattan menutup file tentang laporan keuangan perusahaan bulan ini yang baru saja selesai. Dia melirik ke arah jam tangan hitamnya yang melingkar di tangannya. Waktu sudah lewat lima menit dari jadwal pulangnya. Dia memakai jaket kulit berwarna hitam lantas dia berjalan keluar dari kantornya menuju ke parkiran. Dia mengendarai motornya menyusuri jalanan Jakarta yang padat merayap. Sebelum sampai ke apartemennya, dia menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu restoran pinggir jalan untuk membelikan roti panggang kesukaan Gretha. Dia memesan dua, dengan toping yang sama yaitu cokelat keju untuk dirinya dan juga untuk perempuan itu. Setelah mendapatkannya, dia kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa saat kemudian, Fattan menekan tombol lantai 8 dimana kamar apartemen milik Gretha berada, sedangkan apartemen miliknya ada di lantai 10. Dia ingin memberikannya bungkusan roti panggang ini untuk Gretha. Sama seperti Gretha, dirinya juga menyimpan id card apartemen gadis itu. Namun, sebelum masuk ke dalamnya, dia memiliki etika untuk menekan tombol bel. Hanya dua kali dia menekannya, Gretha sudah langsung membukakan pintu. "Ribet banget. Kalau mau masuk, tinggal masuk aja. Kan udah gue kasih id cardnya kan," ucapnya langsung mengomel. Fattan hanya terdiam lalu dia masuk ke dalam. Meletakan bungkusan yang dia bawa di meja makan lantas dia duduk di kursinya. "Apaan tuh?" tanya Gretha sambil jalan mendekatinya. "Kesukaan lo." Gretha membuka bungkusan itu lalu kedua matanya berbinar-binar. "Widih. Mantap. Makasih ya sahabat ganteng," ucapnya dengan centil. Fattan berdengus lalu membuka roti panggang miliknya. "Gue punya kabar yang menyenangkan," ucap Gretha yang bersemangat. Dia memutari meja makan lalu duduk tepat di sebelah Fattan. "Kenapa harus deket-deket banget sih, Gret?" pria itu menuju ke kursi di hadapannya, dimana tadi Gretha berada, "di situ aja. Kenapa harus pindah ke sini sih?" "Ya kenapa? Orang gue maunya di sini." Fattan terdiam lalu memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya. "Kabar apaan? Pasti enggak penting." Mendengar itu membuat Gretha langsung mengebrak meja pelan. "Penting dong. Bagi gue dan bagi lo. Bagi kita bersama." Fattan mulai tidak yakin dengan ucapan itu. Namun, dia berusaha tetap mendengarkan agar Gretha tidak marah-marah. "Kenapa?" "Gue sama Rey jadi satu partner. Terus dua food vloggers lain ternyata suami istri. Terus pengisi acaranya jadi kebagi dua. Gue sepasang sama Rey," ucap Gretha dengan begitu bersemangat dan gembira sampai-sampai roti panggangnya dia lupakan. Fattan menaikan sebelah alisnya. "Terus?" tanyanya. Gretha tersenyum lebih lebar. "Gue senang. Gue jadi punya kesempatan lebih banyak buat deket sama dia." "Semangat." "Mulai besok dan seterusnya gue kerja bareng sama dia." Fattan buru-buru menghabiskan roti miliknya lalu dia menengak segelas air mineral. "Pulang perginya naik mobil sendiri ya. Mulai besok gue kerja pagi soalnya." "Iya. Ketakutan banget." Gretha menoleh ke arah pria itu lalu tersenyum tipis. "Fat. Kalau gue butuh lo, pulang dari sana gue langsung ke apartemen lo ya." Fattan membalas tatapan itu dengan lekat. "Kalau lo lagi enggak butuh gue, lo tetap main ke apartemen gue nggak?" "Ya enggaklah. Ngapain," perempuan itu menyipitkan matanya, "kenapa? Lo kangen sama gue?" tanyanya sambil  tersenyum menggoda. "Enggak. Bantuin gue habiskan kopi lima liter yang kemarin lo beliin. Gue kembung minum sendirian." "Dasar nyebelin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN