Air hujan mengguyur membasahi jalanan Kota Adarlan. Matahari tak menampakkan dirinya meski waktu sudah semakin siang. Satu persatu murid akademi Lorillis berdatangan. Tak jarang dari mereka yang datang dengan posisi seragam yang basah kuyup dan rambut lepek.
Gerhard melangkahkan kakinya sembari melihat ke tangan kanannya yang habis dikoyak oleh Aul, dan ajaibnya tangannya sembuh dengan sendirinya dan tak menyisakan goresan apapun seolah tak pernah ada luka di tangannya.
Namun berbanding terbalik dengan seragamnya yang justru tampak kotor dan terdapat bercak darahnya di sana. Gerhard meringis karena merutuki kebodohannya yang turun dari Styx dan berhadapan. Tapi di sisi lain, terdapat tanda tanya yang sangat besar mengapa dirinya bisa berbicara dengan para Aul?
Meski Aul terkenal sebagai hewan dengan kekuatan sihir yang luar biasa, dan bahkan bisa mengubah bentuk tubuhnya selayaknya manusia berkepala serigala, namun berbicara dengan Aul sepertinya sangatlah mustahil. Tapi nyatanya, Gerhard bisa mengerti apa yang mereka katakan. Padahal, menurut Morana, yang ia dengan Gerhard berbicara dengan para Aul dan Aul itu hanya terdiam dan terdengan menggeram, membuat para penumpang Styx lain ketakutan dan khawatir terjadi sesuatu dengan Gerhard.
"Hei!"
Tiba - tiba seseorang menepuk bahu Gerhard yang masih tampak kebingungan berjalan di lorong kelas dengan tatapan yang terpaku pada tangannya. Sadar dengan Gerhard yang hanya memperhatikannya, pria itu pun berjalan mendahului Gerhard dan berhenti tepat di depannya.
"Hei? Kau tidak dengar aku menyapamu dan menepuk bahumu?" tanya Jaromir membuat langkahan kaki Gerhard terhenti dan menatap Jaromir yang kini berdiri di hadapannya.
"Benarkah? Maaf sepertinya aku sedang tidak fokus," jawab Gerhard.
Antheia yang melihat Jaromir serta Gerhard yang berhenti di tengah jalan pun langsung berjalan menghampiri kedua pria itu.
"Ada apa?" tanya Antheia.
Gerhard dan Jaromir menatap Antheia tanpa menjawab. Sedangkan Antheia tampak kebingungan karena Gerhard mengangkat tangannya yang sedari tadi diperhatikan olehnya.
"Tanganmu kenapa? Sakit?" tanya Antheia lagi.
"Ti - tidak," balas Gerhard.
"Kau sudah sarapan?" tanya Jaromir.
Gerhard pun teringat Morana yang membawakan makanan untuknya.
"Aku membawanya di dalam tas," jawab Gerhard cepat.
"Kalau begitu sebaiknya kau makan sebelum kelas dimulai. 10 menit lagi bel masuk, lebih baik kita ke kelas sekarang," ucap Jaromir lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Antheia dan juga Gerhard.
Antheia hanya menatap Gerhard kemudian menarik lengan pria itu dan mengajaknya ke dalam kelas mereka. Sedangkan Gerhard hanya berjalan mengikuti Antheia yang menarik lengannya.
Setibanya di dalam kelas, Gerhard langsung duduk di tempatnya. Dan seperti biasa, beberapa wanita menghampiri mejanya untuk menyapa Gerhard yang baru saja datang.
"Selamat pagi Gerhard," sapa seorang wanita yang duduk 2 meja dari tempat ia duduk.
"Pagi," sapa Gerhard kaku.
"Makan sarapanmu sekarang. Tidak biasanya kau datang hampir waktu jam masuk," titah Jaromir lalu menumpu kedua tangannya di atas meja dan membenamkan wajahnya di antara ke dua tangannya.
Gerhard hanya menganggukan kepalanya patuh dan mengeluarkan kotak yang diberikan oleh Morana tadi kepadanya. Gerhard menyantap sarapan paginya dalam keheningan, tanpa suara dan bahkan matanya hanya kembali terfokus pada buku catatan yang sempat ia baca di halte Styx tadi.
"Kau sudah belajar? Katanya hari ini ada kuis," sahut Antheia yang duduk di depan meja Gerhard.
"Aku sedang membacanya," jawab Gerhard dengan mulut yang dipenuhi dengan roti yang sedang ia makan.
"Cepat habiskan sarapanmu. Pak Dusan tidak suka melihat orang yang sedang mengunyah di dalam kelasnya," ucap Antheia.
Gerhard mempercepat frekuensi makannya. Dan dalam waktu beberapa detik, 3 potong roti yang dibuatkan oleh Morana habis seketika. Melihat Gerhard yang kesusahan mengunyah, Antheia pun memberikan minum yang ia bawa untuk Gerhard.
"Minum ini," ucap Antheia.
"Terima kasih," ucap Gerhard dengan mulutnya yang penuh dengan roti.
Suara bel pun terdengar berdering hingga ke seluruh penjuru kelas. 5 detik setelah bel berbunyi, seorang pria berpakaian serba hitam dengan goresan bekas luka pada mata kirinya masuk ke dalam kelas. Pria itu berdiri di hadapan para murid akademi Lorillis dengan mata tajamnya.
"Hari ini kuis saya tiadakan," ucapnya.
Semua orang di dalam kelas yang tahu betul watak seorang Dusan Lycus menatap satu sama lain dengan tatapan bingung. Terlebih baisanya pria itu selalu menepati jadwal mengajarnya.
"Saya akan mengajarkan kalian mengenai sejarah hewan sihir yang ada di Lacoste. Saya dengar hari ini Aul menghadang salah satu Styx dari Solandis dan ada 2 korban. Korban ditemukan sudah tak bernyawa dan 1 nya lagi selamat tanpa luka sedikit pun," ucap Dusan.
Sontak seluruh murid yang ada di dalam kelas berbicara mengenai korban yang selamat tanpa luka. Telinga Gerhard bisa menangkap setiap pembicaraan yang melintas di sekitarnya.
"Bagaimana bisa? Bukankah Aul adalah hewan sihir yang cukup buas? Bahkan mereka bergerombol seperti sedang melakukan parade," bisik salah seorang wanita yang duduk di belakang Gerhard.
Dusan tampak mengeluarkan bukunya. Ia adalah seorang pengajar khusus hewan - hewan yang ada di Lacoste. Segala jenis hewan ia kenali tanpa terkecuali. Namun karena materi yang diajarkan belum cukup jauh dan baru sebatas hewan - hewan non sihir, maka ilmu tentang hewan sihir belum pernah dipelajari sedikit pun.
Di Lorillis sendiri, mata ajar untuk hewan - hewan seperti ini sangat langka dan jarang ditemukan. Bahkan di Wendlyn, mata ajar hewan ditiadakan. Dan beruntung bagi masyarakat Adarlan yang diperkenalkan mata ajar ini.
Dusan maju ke depan dan mulai menmberikan penjelasan pada kelasnya di pagi hari, "Hewan terbagi menjadi 2 yakni sihir dan non sihir. Atau biasa disebut dengan Oriel untuk hewan dengan kekuatan sihir dan Oura untuk hewan tanpa kekuatan sihir. Oura sendiri hanyalah hewan biasa yang umumnya biasa dikonsumsi untuk bahan makanan seperti ayam, bebek, sapi dan bahkan tak jarang yang ikut memakan buaya dan sejenisnya," ucapnya.
Buku berwarna biru tua yang sudah usang dibuka oleh Dusan, matanya menyorot ke arah buku dan mulai membaca isinya lagi.
"Sedangkan Oriel, sang hewan dengan kekuatan sihir tentu saja tak bisa dikonsumsi. Jangankan untuk ditangkap dan dipelihara, bertemu dengan Oriel saja bisa menjadi petaka. Hewan - hewan yang termasuk Oriel salah satunya Aul. Aul adalah sejenis serigala namun bisa dibedakan dari tubuhnya yang 4 kali lebih besar," ujar Dusan.
Dusan melangkahkan kakinya mendekati Gerhard dan berhenti di hadapan pria itu, "Aul dikenal sebagai salah satu Oriel buas yang tidak pernah bisa dijinakkan. Siapapun yang bertemu dengan Aul akan berakhir dengan meregang nyawa. Tapi bagaimana bisa, salah satu murid di Lorillis berhasil kembali tanpa tergores luka sedikit pun?" ucap Dusan sambil menatap Gerhard.
Gerhard hanya menelan ludah tak berani menjawab. Sedangkan Dusan kembali menghampiri buku usangnya dan membaca isinya.
"Menurut buku tua ini, Aul memiliki racun pada setiap cakarannya. Taringnya yang tajam bisa mengoyak tubuh manusia hingga tak berbentuk. Tapi, air liurnya justru menjadi obat bagi setiap luka yang diberikan oleh Oriel ini. Namun sayang, Aul bukan salah satu sebagai hewan yang suka m******t. Mereka lebih suka menggigit dan merusak yang ada di hadapannya. Menurutmu, bagaimana dengan kasus langka ini, Gerhard Alastair?" tanya Dusan sambil menatap ke arah Gerhard dan membuat seisi kelas menatapnya termasuk dengan Jaromir dan juga Antheia.
"Bagaimana luka yang kau terima bisa sembuh dan bagaimana Aul mau menjilati luka yang mereka perbuat sendiri?" tanya Dusan.
"I - itu," jawab Gerhard terbata - bata.
Dalam hati, pria itu bertanya pada dirinya sendiri apakah jika ia mengatakan bisa mengerti bahasa Aul dirinya akan dianggap gila? Atau justru menjadi hal yang luar biasa bagi orang - orang yang mendengarnya.
"Itu karena kau memiliki darah sihir dalam dirimu," potong Dusan.
"Apa?!" semua orang yang ada di dalam kelas langsung membicarakan Gerhard saat mendengar Gerhard memiliki darah sihir di dalam tubuhnya.
"Ti - tidak mungkin, Pak. Tidak ada seorang penyihir di keluarga saya. Keturunan saya yang sebelumnya pun tak pernah belajar ilmu sihir. Kami murni seorang manusia biasa," ucap Gerhard.
Dusan hanya tersenyum menatap Gerhard, "Aku bercanda. Anggap saja dirimu beruntung bertemu dengan Aul. Jangan lupa jika Aul juga bisa merubah bentuknya menjadi bertubuh manusia dengan kepala seperti serigala," ujar Dusan.
Gerhard sangat yakin jika dirinya tak memiliki sihir di dalam tubuhnya. Meski hal - hal aneh sering terjadi kepadanya, namun ia terus berpikir positif jika ia hanyalah seorang manusia biasa yang beruntung.
Terlebih menurut sejarah, bangsa elf dan bangsa vampir sudah lama menghilang sejak 1000 tahun yang lalu. Bangsa - bangsa yang memiliki sihir seperti itu tentu saja tidak akan pernah menikah dan memiliki keturunan dengan manusia biasa. Bahkan para bangsawan dari Kerajaan Odor tak memiliki sihir sama sekali.
Lacoste kini hanya menjadi dunia yang diisi dengan manusia biasa yang hidup berdampingan dengan para hewan - hewan dengan kekuatan sihir yang tidak biasa.
"Gerhard," panggil Dusan yang membuat Gerhard tersadar dari lamunannya.
"Ya, pak?" sahut Gerhard.
"Apa ada tips lain darimu untuk selamat dari Aul? Aku yakin semua orang yang ada di sini penasaran dengan cerita bagaimana kau bisa lolos dari Aul," ucap Dusan.
Gerhard menelan ludahnya susah payah. Keringat pun menetes di kening Gerhard. Tentu saja ia akan bungkam dengan kejadian yang menimpanya barusan. Ia tak ingin di cap sebagai orang kurang waras oleh teman sekelasnya.
Seolah mengerti dengan Gerhard yang sedang menutupi sesuatu, Antheia pun mengalihkan perhatian dengan mengangkat tangannya seolah ingin bertanya.
"Ya, Antheia?" tanya Dusan.
"Apakah Aul memakan manusia? Saya dengar mereka bisa memakan manusia," tanya Antheia.
Antheia bisa mendengar deru napas lega dari mulut Gerhard karena Antheia mengalihkan topik pembicaraan kepada hal lain.
"Tentu saja tidak. Rumor yang beredar itu palsu. Aul tidak memakan manusia. Mereka hanya menyakiti manusia," jawab Dusan.
"Mereka menyakiti manusia yang angkuh dan berusaha ingin menginjak kawanan Aul," sambung Gerhard membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Dusan tersenyum menatap Gerhard, "Kau benar," ucap Dusan.
Kelas Dusan pun tetap berlanjut namun kali ini mereka juga membahas Oriel lainnya seperti Phoenix. Gerhard lagi - lagi bercerita jika dirinya pernah terbakar oleh api dari ekor Phoenix. Tak hanya itu, Dusan juga membahas Ahool, kelalawar raksasa yang sempat meresahkan masyarakat Adarlan.
Seluruh Oriel yang beredar dan tertulis dalam buku memang benar adanya. Namun karena keseimbangan bangsa kaum vampir dan elf yang menipis, perlahan Oriel tak lagi menunjukan keberadaannya. Hanya orang - orang tertentu yang secara kebetulan bertemu dengan makhluk itu.