[12]

1802 Kata
Gerhard bercermin sambil mengenakan seragam Lorillis yang telah diberikan kepadanya sejak 2 hari lalu. Selama 1 minggu terakhir, Gerhard tidak pergi bekerja, melainkan sibuk mempersiapkan dirinya untuk masuk ke Lorillis. Meski terhitung ia akan bolak balik Kota dengan Desa Solandis, semangatnya sama sekali tak surut. Justru sebaliknya, Gerhard merasa bahagia karena akhirnya bisa menjajal pendidikan paling tidak sekali di seumur hidupnya. Setelah selesai mengenakan seragam miliknya, barulah Gerhard keluar dari kamarnya. Gerhard berpapasan dengan William yang kebetulan juga baru saja keluar dari kamarnya. "Sudah mau berangkat?" tanya William dengan nada khas suara orang baru bangun tidur. "Sudah, Ayah. Aku sudah membuatkan sarapan dan maaf aku sarapan lebih dulu," jawab Gerhard dengan sedikit nada penyesalan di dalam kalimatnya. William melangkah mendekati Gerhard dan memeluk tubuh anak semata wayangnya yang kini sudah beranjak dewasa, "Jagai dirimu baik - baik selama di Lorillis. Mungkin beberapa dari mereka ada yang menganggapmu sebelah mata, terlebih kau hanya anak dari seorang penambang di Solandis yang tak pernah menjalani pendidikan apapun sebelum ini," ucapnya. Gerhard melepas pelukannya pada William dan menganggukan kepalanya patuh. Ia sangat tahu rasa khawatir sang Ayah dan juga menyesal karena tak pernah membiarkan Gerhard untuk menempuh pendidikan sebelum ini. "Kalau begitu aku berangkat dulu, Yah. Aku akan segera pulang setelah selesai kelas. Jangan menungguku jika aku pulang larut," ucap Gerhard yang sudah tahu kebiasaan William yang seringkali tidak tidur jika Gerhard belum pulang. "Cepat pulang dan jangan biarkan aku tidur larut," balas William lalu menepuk pundak anaknya sesaat sebelum anaknya keluar dari rumah. Di ambang pintu, Gerhard melambaikan tangannya kepada sang Ayah dan akhirnya keluar dari rumah. Gerhard melangkahkan kakinya meninggalkan rumahnya dengan senyuman cerah, kakinya terus melangkah menuju ke tempat pemberhentian Styx yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Styx adalah sebuah kendaran yang digunakan untuk mengangkut orang - orang di desa Solandis menuju ke Kota Adarlan. Terdapat beberapa tempat pemberhentian Styx di Solandis dan salah satunya di dekat rumah Gerhard. Tak berapa lama setelah Gerhard tiba di tempat pemberhentian Styx, sebuah angkutan datang. Orang - orang pun segera masuk ke dalam Styx dan mencari tempat duduk. Gerhard masuk paling akhir dan duduk di kursi paling pinggir. Berbeda dengan 18 tahun yang lalu, kini angkutan dari Solandis menuju Adarlan sudah menggunakan sebuah kendaraan dengan mesin, siapa lagi jika bukan orang - orang asal Wendlyn yang mencetuskan ide angkutan umum itu. Seorang petugas datang menghampiri Gerhard sambil mengadahkan topi yang digunakan dan mengisyaratkan untuk membayar biaya angkutan Styx ke Adarlan. Gerhard pun memasukan uang 20 wyon ke dalam topi. Namun orang itu justru mengerenyitkan dahinya dan menatap Gerhard. "25 wyon," ucapnya. Gerhard menganggukan kepalanya mengerti. Ini pertama kali baginya menaiki Styx, jadi wajar saja jika ia tak tahu berapa biaya menuju ke Kota Adarlan. Sambil menaruh tambah 5 wyon, Gerhard pun menghitung jika dalam 1 hari ia membutuhkan 50 wyon, maka dalam 3 tahun ia akan menghabiskan uang hampir 40.000 wyon hanya untuk angkutan umum. Setelah selesai menagih uang bayaran dari para warga Solandis yang naik ke Styx, sang supir pun kembali ke tempat duduknya dan mulai menjalankan Styx. Gerhard tersenyum senang merasakan dirinya yang diangkut oleh kendaraan itu dan perlahan kecepatannya kian bertambah. Selama perjalanan, Gerhard hanya melihat ke arah luar jendela. Pria itu sangat menikmati pemandangan Desa Solandis yang tampak asri. Sampai akhirnya dirinya memasuki Kota Adarlan yang sudah tampak berbeda dari 18 tahun yang lalu sejak kali terakhir ia melihat kota itu untuk menyambut kedatangan Raja yang baru saja menikah. Gerhard masih mengingat betul bagaimana orang - orang yang terpana menatapnya kala itu dan memberikan roti gandum untuk keluarganya makan malam. Styx yang ditumpangi oleh Gerhard berhenti di salah satu tempat pemberhentian bertuliskan Lorillis. Sadar jika Gerhard sudah tiba di tempat tujuannya, Gerhard pun segera turun dan tak lupa mengucapkan kata terima kasih kepada sang supir. Orang - orang dari Solandis yang tampak mengenali Gerhard di dalam Styx pun melambaikan tangan mereka sembari tersenyum. Mata Gerhard langsung membulat dan pupil matanya membesar saat melihat sebuah gedung pencakar langit yang tampak tinggi dan bertuliskan Lorillis di atasnya. Ini adalah pertama kalinya bagi Gerhard melihat gedung - gedung Kota Adarlan yang selalu menjadi bahan pembicaraan para warga di Desa Solandis. Gerhard pun mengikuti langkahan orang - orang yang juga memakai seragam sepertinya. Kebanyakan dari mereka tampak membicarakan kedatangan Gerhard yang baru terlihat. "Sepertinya aku baru pertama kali melihatnya. Apa dia berasal dari akademi lain waktu dulu?" ucap salah seorang wanita ke temannya yang berusaha mengingat Gerhard saat melihat wajah tampannya. Ketika orang - orang sibuk melihat ke arah Gerhard yang terlihat tampan dengan balutan seragam Lorillis yang ia kenakan, Gerhard justru sibuk melihat - lihat Lorillis yang baru saja ia datangi untuk pertama kalinya. Tempat itu benar - benar berbanding terbalik dengan kondisi Solandis. Gerhard melemparkan senyumannya beberapa kalia pada orang - orang yang menatapnya. Sampai akhirnya banyak wanita yang mengikutinya seolah terhipnotis dengan ketampanan Gerhard. Kaki Gerhard berhenti di depan sebuah ruangan bertuliskan Eclipse. Ruangan yang akan menjadi tempatnya belajar selama 3 tahun ke depan di Lorillis. Saat Gerhard melangkahkan kakinya masuk, orang - orang yang tadi mengikuti Gerhard langsung berhenti karena tau itu bukanlah ruangan mereka yang seharusnya. Tapi tetap saja, mereka menatap ke arah Gerhard yang baru saja masuk ke dalam kelas. Seisi kelas Eclipse berhenti dan terdiam saat melihat kehadiran Gerhard. Mereka membciarakan kehadiran Gerhard yang membuat heboh satu Lorillis. "Kau si anak baru yang dipanggil langsung oleh Pak Aldrich?" tanya salah seorang pria dengan seragam sama seperti yang Gerhard gunakan. "I - Iya. Perkenalkan saya Gerhard dari Solandis," ucap Gerhard. "Baru pertama kali ke akademi ya? Sepertinya aku baru pertama kali melihatmu," sahut salah seorang wanita dari arah lain yang membuat Gerhard menoleh dan tersenyum kepadanya sambil menganggukan kepalanya. Sontak wajah wanita itu memerah saat melihat senyuman Gerhard, Gerhard bisa melihat wanita itu bergumam tanpa suara yang memuji ketampanannya. Dua orang dengan seragam sama pun datang ke ruangan Eclipse dan menghentikan langkahan kakinya saat melihat seorang pria berdiri di depan kelas karena tampak kebingungan harus duduk di mana. Merasa diperhatikan oleh dua orang yang baru saja datang, Gerhard pun menoleh dan mengerenyitkan dahinya. "Kau Gerhard kan?" ucap salah seorang pria yang baru saja datang. Wanita yang datang bersamanya pun ikut mengerenyitkan dahi dan melangkah mendekati Gerhard. "Hei Jaromir! Bukankah kau bilang kau juga dari Solandis? Kau seharusnya mengenali pria tampan yang membuat kehebohan seisi Lorillis kan?" sahut pria yang tadi menyapa Gerhard. Wanita yang datang bersama Jaromir pun langsung memeluk Gerhard membuat semua orang yang tadi mengikuti Gerhard di luar kelas langsung berteriak. "Astaga! Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kau masih mengingatku kan? Ini aku, Antheia!" pekik Antheia lalu melepaskan pelukannya. Jaromir pun ikut memeluk Gerhard dan menyapa pria itu, "Gerhard! Sudah lama sekali kita tidak bertemu!" sapa Jaromir. "Jaromir? Antheia?" panggil Gerhard dan melihat kedua orang itu secara bergantian. Terakhir kali Gerhard bertemu dengan Jaromir dan Antheia sekitar 7 tahun yang lalu. Itu pun karena mereka masuk ke akademi Marjorie yang didaftarkan oleh kedua orang tua mereka. Alhasil selama 7 tahun mereka tak pernah bertemu. "Aku tak menyangka kita akan bertemu di sini lagi," ucap Gerhard yang tampak senang. "Aku pikir siapa pria yang akan diangkat oleh Pak Aldrich masuk ke Lorillis dari Solandis, rupanya itu kau!" pekik Antheia yang masih tak percaya. Karena memang berita mengenai Aldrich yang ingin menjemput seorang murid baru dari Solandis terdengar ke seluruh penghuni Lorillis tanpa terkecuali. Dan mereka sama - sama terpesona dengan penampilan Gerhard yang jauh dari kata biasa saja. "Kalau begitu kau duduk di sampingku saja," ajak Jaromir lalu menarik tangan Gerhard untuk duduk di samping kursinya. Suara bel pun berbunyi, Gerhard sempat tersentak mendengar suara itu. "Kau pasti terkejut ya? Bel itu menandakan kita sudah masuk kelas dan lihatlah, orang - orang yang tadi mengikutimu satu persatu bubar," ujar Jaromir sambil menunjuk ke arah jendela kelas dan benar saja, orang - orang yang tadi mengikuti Gerhard satu persatu kembali. "Astaga aku masih merasa senang karena kembali bertemu denganmu," sahut Antheia. Sejak pertemuan pertama mereka di hutan dan menaklukan seekor ular black mamba, Gerhard memang berteman dengan Jaromir dan juga Antheia. Bahkan tak jarang mereka akan bermain bersama - sama ke hutan untuk berburu. Suasana kelas yang semula ricuh seketika hening saat seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas masuk ke dalam ruangan Eclipse. Jaromir langsung menarik ujung baju yang dikenakan oleh Gerhard dan berbisik, "Itu Pak Aldrich." "Selamat pagi semua. Saya rasa anak yang saya panggil dari Solandis sudah hadir hari ini. Mungkin beberapa dari kalian bertanya - tanya mengapa ia bisa loncat ke Lorillis tanpa masuk ke akademi sebelumnya yakni Afsin dan Marjorie. Tapi sebelum saya menjelaskannya, saya persilakan kepada Gerhard Alastair untuk memperkenalkan dirinya sendiri," pinta Aldrich. Gerhard meletakkan tas yang ia bawa di atas meja kemudian melangkah maju ke depan dan memperkenalkan dirinya. Wanita yang ada di kelas itu tampak terpana dengan ketampanan Gerhard, terlebih senyuman pria itu yang terlihat manis. "Jadi, Gerhard ini memang tidak mengemban pendidikan di akademi Afsin dan Marjorie tapi saat ia seusia kalian, Gerhard mengenyam pendidikannya secara mandiri di dalam perpustakaan sebuah gudang milik tetangganya. Gerhard bisa membaca dengan lancar, membuat karya tulis dengan baik dan tak lupa.." ucapan Aldrich menggantung dan pria itu justru membalik tubuh Gerhard, membuka jas putih yang dikenakan oleh Gerhard dan menampilkan otot bahu Gerhard yang tercetak jelas di balik kemeja yang Gerhard kenakan. "Dia sudah bekerja di sebuah penambangan. Tak hanya jago di otak, tapi Gerhard juga mampu menyeimbangkannya dengan fisik. Oleh karena itu saya memutuskan memberikan pendidikan akhir tingkat lanjut sebelum kalian menginjak usia 30 tahun ke Lorillis," sambung Aldirch. Di Lacoste sendiri, pendidikan hanya ada 3 dan setiap orang diwajibkan menyelesaikan ketiga akademi mereka sebelum menginjak usia 30 tahun. Sebenarnya Lorillis adalah akademi opsional dan tidak diwajibkan, terlebih untuk masuk Lorillis harus memiliki nilai Marjorie yang baik, jika tidak, sudah pasti akan tertolak. "Saya rasa alasan saya memanggil Gerhard ke Lorillis sudah cukup jelas. Kalau begitu, Gerhard tolong ambilkan sebuah buku bernomor 6 dari rak sana dan hari ini kita akan belajar mengenai Lacoste yang akan dijelaskan langsung oleh Gerhard," ucap Aldrich sambil menunjuk ke arah rak yang ia maksud kemudian mengambil duduk di samping Jaromir seolah - seolah dirinya dengan Gerhard bertukar tempat. Aldrich sendiri saat ini baru menginjak usia 35 tahun dan ia termasuk lulusan berperstasi. Aldrich terkenal sebagai pria dingin yang pintar tapi juga s***s. Aldrich tak segan mengeluarkan muridnya yang dirasa tak mampu dan sebenarnya ia juga yang mengadakan sistem seleksi dan standar Lorillis di Adarlan yang selanjutnya diikuti oleh Lorillis di kota lainnya. Sesuai dengan perintah Aldrich, Gerhard pun menjelaskan tentang Lacoste dari buku itu. Gerhard sempat membacanya sejenak dan saat menyadari ia pernah membacanya, barulah ia memulai penjelasannya. Orang - orang di kelas Eclipse tampak menikmati penjelasan yang diberikan oleh Gerhard bahkan dari 60 orang yang ada di dalam ruangan itu, tak satu pun dari mereka yang merasa bosan dengan penjelasan yang diberikan oleh Gerhard.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN