[22]

1164 Kata
Kerajaan Nephthys, Kota Eyelwe * Nikita melangkahkan kakinya menuruni anak tangga di istana miliknya. Di ujung pandang matanya, Emi sudah berdiri di sudut ruangan menanti kehadiran Nikita untuk menikmati makan siangnya sekaligus mengisi kembali energi Nikita yang sudah cukup lama tidak meminum darah. "Darahnya sudah saya siapkan di meja makan, Nona," ucap Emi tepat setelah Nikita berhenti di hadapannya.  "Terima kasih Emi," balas Nikita kemudian meninggalkan Emi. Emi pun mengikuti langkahan kaki Nikita ke arah ruang makan, membantu menarik kursi dan mempersilakan Nikita untuk duduk di atasnya. Setelah itu, barulah Emi menuangkan darah ke dalam gelas milik Nikita yang sudah ia siapkan dihadapan ratunya. "Silakan diminum Nona. Saya akan menyiapkan daging asapnya sebentar lagi," ucap Emi kemudian pergi meninggalkan Nikita untuk mengambil daging asap untuk Nikita. Meski Nikita bisa dikatakan seorang vampir, nyatanya darah manusia yang mengalir pada tubuhnya tetap membutuhkan asupan nutrisi. Terbukti dari Nikita yang kerap merasa lapar meski telah meminum darah segar. Nikita tetap membutuhkan asupan protein yang berasal dari daging. Sayangnya, Nikita sama sekali tak menyukai sayuran dan juga sejenis roti ataupun kentang.  Dia tak membutuhkan karbohidrat. Di lidahnya, makanan yang mengandung karbohidrat dan zat besi seperti sayuran dan kentang dan roti membuat lidahnya terasa kelu dan pahit. Emi kembali datang dengan sepiring penuh daging asap di tangannya. Kemudian melangkahkan kakinya mendekati Nikita dan meletakkan piring tersebut ke hadapan Nikita. "Terima kasih Emi," ucap Nikita. Emi menganggukan kepalanya, baru saja wanita itu akan pergi meninggalkan Nikita yang ingin memulai makannya, tiba - tiba Nikita kembali memanggil namanya. "Emi," panggil Nikita. Emi pun menoleh, "Ya Nona?" balasnya. "Maukah kau menemani aku makan siang?" tanya Nikita. Merasa heran dengan sikap Nikita yang tidak seperti biasanya dan untuk pertama kalinya setelah ratusan tahun ia melayani Nikita, barulah kali ini ia melihat Nikita yang mengajaknya makan siang bersama di atas meja makan yang sama. "Ya?" ucap Emi yang terkesan kebingungan. "Sepertinya aku terlalu lama tidak pernah makan bersama orang lain disini. Terlebih di sini hanya ada kau seorang diri. Tak ada salahnya kan jika kita makan bersama? Lagi pula, kaulah yang merawatku sejak kecil," ujar Nikita. Memang benar, sejak Nikita belum lahir sekalipun, Emi lah yang merawat Ibunya hingga melahirkan seorang gadis cantik. Ibu Nikita yang hanya seorang manusia biasa pun meninggal saat melahirkan Nikita. Sedangkan sang Ayah, ikut pergi karena patah hati kehilangan kekasihnya. Sejak kepergian kedua orang tuanya, Nikita berubah menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh. Di luar mungkin dia terlihat hangat dan membuka diri, namun nyatanya wanita itu sangat menutup siapapun yang ingin mencoba mendekatinya. Tak ada yang tahu perasaan Nikita yang sesungguhnya. Bahkan untuk sekedar makan bersama, Nikita kerap menyendiri dan menghabiskan makanannya seorang diri tanpa ditemani siapapun. "Apa ini karena efek anda sering bertemu dengan manusia, Nona?" tanya Emi memberanikan diri kepada sang ratu Kerajaan Nephthys itu. "Tidak juga. Selain itu, aku memang ingin makan bersama dengan seseorang yang mengenalku. Terlebih sejak Ayahku meninggal, satu persatu pelayan pergi dari sini karena sudah terlalu tua. Pada akhirnya, kastil ini hanya ditinggali oleh kau seorang diri. Karena hanya kau satu - satunya manusia abadi buatanku," jawab Nikita. Saat Nikita mengucapkan manusia abadi, tiba - tiba saja ia teringat pada seseorang yang pernah membuat harinya menjadi hangat. Seorang pria yang mampu meluluhkan hatinya. Namun dengan cepat Nikita kembali pada topik pembicaraannya dengan Emi. "Bagaimana?" tanya Nikita. "Baik Nona, saya akan mengambil makanan saya di belakang agar kita bisa makan siang bersama," jawab Emi. Emi pun pergi meninggalkan Nikita dengan berlarian kecil ke arah dapur. Sedangkan Nikita yang sudah cukup lapar, mulai meminum darah manusia miliknya hingga meninggalkan bekas garis kemerahan di sudut bibirnya. Tepat saat Nikita meneguk darah itu, bola matanya berubah menjadi merah mengkilap seolah energinya baru saja terisi kembali dengan darah yang baru saja ia minum, "Ini sangat nikmat," ujar Nikita. Saat kecil sebenarnya Nikita memang diajarkan lebih dulu dengan meminum darah, tapi karena Nikita juga setengah manusia, tubuhnya semakin kurus saat ia hanya meminum darah. Akhirnya Emi memperkenalkan Nikita dengan daging dan olahan dagingnya. Hingga akhirnya Nikita bisa menyantap makanan selayaknya manusia normal. Sejak saat itu, tubuh Nikita kembali seperti sedia kala. Menjadi perempuan cantik yang lebih berisi dari sebelumnya. Emi benar - benar menjadi saksi kehidupan Nikita dari awal sampai akhir. Bahkan ia masih mengingat bagaimana Nikita kecil yang tumbuh menjadi dewasa.  Karena satu persatu bangsa vampir menghilang dan begitu pula dengan bangsa elf, alhasil hanya tinggal menyisakan sosok Nikita yang berada di ambang antara vampir dan manusia. Tentu saja Nikita tidak diterima oleh bangsa vampir karena ia memilki darah keturunan seorang manusia.  Alhasil, Nikita tinggal seorang diri di Kerajaan Nephthys, menjadi ratu tanpa rakyat dan bahkan tanpa pelayan. Hanya Emi yang menemaninya dan bagi Nikita, Emi sudah lebih dari cukup untuknya. "Maaf saya membuat Nona menunggu lama," ujar Emi kemudian menarik kursi yang berada di dekat Nikita duduk. "Tidak apa - apa," jawab Nikita sambil tersenyum dan memperlihatkan gigi taringnya. Padahal Emi sudah pernah terbiasa melihat gigi taring bangsa vampir, tapi entah mengapa ketika Nikita menyeringai dan menunjukan taringnya, memberikan kesan yang justru lebih seram daripada Krys sendiri. "Ah maaf, aku membuatmu takut," ujar Nikita yang menyadari jika Emi terlihat takut melihat gigi taringnya.  Nikita pun kembali menyembunyikan gigi taringnya. Sesaat setelah gigi taringnya kembali normal, mata merahnya yang semula menyala dan mengkilap dengan indah pun perlahan meredup dan hanya menyisakan warna merah gelap yang tetap memberikan kesan cantik di matanya. "Maafkan saya yang terkadang masih belum terbiasa melihat wujud asli anda, Nona," ujar Emi sembari menundukan kepalanya. "Tidak apa - apa. Kita juga sudah beberapa ratus tahun terakhir jarang bertemu. Aku sibuk berbaur dengan manusia sedangkan kau terkurung seorang diri di sini. Maafkan aku karena membuatmu seperti ini," balas Nikita. "Saya tidak pernah merasa keberatan tinggal di Nepthys, Nona. Justru saya merasa bersyukur bisa hidup selama ini meski saya hanyalah manusia biasa," ujar Emi. Nikita hanya tersenyum, kemudian melanjutkan makan siangnya. Begitu juga dengan Emi yang mulai menyantap makannya yang tentu saja berbeda jauh dengan Nikita. Emi memakan banyak kentang dan juga sayuran, kemudian ia juga menambahkan potongan daging ayam di dalam piring. "Emi," panggil Nikita di selan - sela makan siang mereka. Emi hanya mendongakan kepala, menatap Nikita dan tanpa menjawab apapun. "Apa kau masih ingat dengan pria itu?" tanya Nikita. Emi menganggukan kepalanya, "Tentu saja, Nona. Saya masih mengingatnya, tapi saya tak pernah berani menyinggungnya karena saya tau itu akan membuat hati Nona akan terasa sakit." "Kau pernah melihat jenazahnya kan? Kau ingat jika pria itu benar - benar mati di tanganku kan?" tanya Nikita lagi. "Iya Nona, saya melihatnya. Saya yang mengurus pemakamannya, bahkan saya masih mengingat letak dimana makamnya berada," ujar Emi. Nikita berdiam sejenak kemudian tampak berpikir membuat Emi yang berada di sampingnya penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh ratunya. "Ratusan tahun aku hidup dengan identitas manusia, tak pernah aku merasa jatuh hati pada mereka. Tapi kali ini, tiba - tiba aku merasakan getaran yang sama persis seperti aku yang bertemu dengan pria itu. Pria yang selalu aku nantikan namun pada akhirnya aku sendiri yang mengakhiri hidupnya," ujar Nikita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN