3. Sial!

1908 Kata
Tak, tik, tuk. Tak, tik, tuk.  Bukan suara kuda lumping ya guys. Itu suara langkah kaki. Langkah kaki Elgio dari tadi berbunyi dari sepatu pantofel yang ia kenakan. Yang punya kaki sedang tidak bisa diam. Bagaimana ia akan fokus bekerja. Saat di kantor saja pikirannya mengudara. Memikirkan bagaimana nasib cerahnya jika tidak bisa menghasilkan keturunan gara-gara miliknya yang lemah tak berdaya. Elgio tidak tahu akan berbuat apa. Dia bingung. Benar-benar bingung. Entah jalan apa yang harus Elgio tempuh. Kanan atau kiri, atas atau bawah, lurus atau belok. Ah …. Semuanya membingungkan. Perasaannya pun campur aduk bagaikan es campur atau es cendol emang-emang kang es di tepi jalan. Mungkin saat ini dia lebih baik bertanya pada kakaknya saja. Otak Biyan juga pintar. IQ di atas rata-rata. Belum lagi kakaknya punya amunisi baru. Calon istri yang muda dan membawa perubahan baru untuk hidup Biyan. Siapa tahu Elgio nanti ketularan. Ketularan dapat daur muda dan ketularan keberuntungannya. Musibah ini sungguh merubah masa depan Elgio yang cerah menjadi keruh. Air yang semula jernih terkena limbah, seperti itulah nasibnya. Bau dan menjijikan bagai air comberan hingga Elgio frustasi. Mana ada gadis yang mau dengan cowok ganteng tapi miliknya loyo. Di sela kesibukannya dengan kesibukan sang kakak, Elgio meminta untuk bertemu dengan Biyan. Masa iya dia minta bantuan temannya? Kan tidak mungkin, nanti derajatnya bisa turun. Dari yang tadinya ada di ubun-ubun jadi di atas lantai lebih baik menceritakan keluh kesahnya pada sang kakak daripada orang lain. Pada ibu, ayah atau adiknya itu tidak mungkin. Jadi lebih baik ke Biyan kakaknya saja. Siang benderang, tengah hari bolong-bolong, Elgio mengajak kakaknya untuk makan bersama di sebuah restoran daging. Menjalankan aksi meminta pendapat itu kan butuh sogokan. Jadi dia akan menyogok Biyan dengan makanan enak. Menggunakan wanita sih tidak mungkin, bisa kena amuk Jesica nanti. Chef di restoran tersebut benar-benar mirip yang ada dan booming di i********:. Gayanya dengan kacamata hitam bulat, rambut gondrong yang diikat ke belakang, memakai kaos warna putih dan memasak dengan gaya koboi.  Biyan datang menemui sang adik karena dia juga siang ini sedang lapar dan ingin makan daging. Jessica tengah sibuk sekolah jadi mereka tidak bisa makan siang bersama. Daripada sendirian, jadi Biyan memilih bersama Elgio saja. Sekarang makanan yang menggugah selera dari bahan dasar daging telah tersaji di atas meja. Sang chef menaburkan bubuk parsley dengan tangan berototnya lalu pergi ke dapur kembali. Hari ini terik matahari sangat panas. Biyan yang kehausan segera meraih botol Aqua di hadapannya lau meminum air putih yang tersebut secara terburu-buru. "Gue dikutuk, Bang!" Ujar elgio frustasi dia ingin curhat pada sang kakak. Dia langsung bilang saja tanpa basa basi. Menghemat waktu dan suara. Waktu karena mereka harus kembali bekerja, suara karena suara Elgio akan di gunakan untuk memarahi karyawan dan meeting bersama kliennya. Byurrrr …. Semua air di mulut Biyan tersembur ke arah wajah Elgio yang duduk di sebelahnya. "Hah ... apa? Siapa yang berani ngutuk lo, El?" Biyan kaget zaman sekarang memangnya masih ada kutuk mengutuk? Halows …. Ini sudah tahun dua ribu dua puluh satu. Masih ada yang percaya dan menganut ilmu kutuk mengutuk seperti itu. Ini di kota bukan di desa. Mungkin jika di desa tertentu yang masih ada. "Nenek-nenek gambreng, Bang. Tolongin please!" Elgio mengguncang-guncangkan tangan Biyan sambil merengek manja meminta bantuan. Dia seperti ucing yang merajuk ke majikannya. "Di kutuk apa?" tanya Biyan yang tidak tahu apa-apa. Dikutuk? Jika punya kesalahan pantas dikutuk. Masalahnya, salah Elgio ini apa sehingga ada orang yang menutuknya? "Imp*ten, Bang!" Ucap elgio hanya satu kata. Seolah ada batu besar yang menghujam ya sehingga lumpuh dan tidak bisa berdaya. Hidup tapi seakan mati. Uhuk, uhuk ….  Biyan yang sedang minum pun sampai tersedak. Dia mengatur nafas dan menepuk dadanya, lalu Biyan pun tertawa "Bhahahaha. Masa iya?" Dia melemparkan pandangan seolah tidak percaya dengan yang Egio alami. Mana ada kutukan impoten? Kutukan jadi batu sih ada, contohnya ya Malin Kundang. Apa mungkin adiknya sedang berhalusinasi dan dalam pengaruh narkotika, atau adiknya ini tengah mabuk? Biyan mengendus-endus tubuh Elgio untuk memastikan tidak ada jejak bau alkohol atau yang lain. Please …. Ini tengah hari bolong-bolong, masa iya Elgio melantur. Tidak ada sundel bolong pula disini. "Beneran gue gak bohong. Kutukannya nyata!" Elgio mengangguk-ngangguk. Dia bergidik seolah ketakutan. Elgio yang macho dan pemberani ternyata bisa takut juga. Dia sudah beberapa kali mencoba tidur dengan gadis yang paling seksi aduhai tapi miliknya tak kunjung terbangun. Elgio sampai menyewa gadis paling mahal dan paling memuaskan di suatu klub, tapi itu juga hasilnya nihil, miliknya masih saja tidak terbangun, biarpun digoda dengan wanita yang paling ter the best. "Oh my God. Ada kutukan kayak gitu emang?" tanya Biyan sambil memperhatikan gelagat Elgio apakah sedang nge-play atau beneran sadar. "Beneran gue kagak bohong milik gue nggak bangun-bangun perlu gue coba sama Jesica?" tanya Elgio. Kekasih kakaknya yang di kenalkan beberapa hari yang lalu cantik dan berbody aduhai meski masih remaja. "Eh jangan. Itu calon bini gue. Jesica masih perawan. Gue aja nggak pernah bobol dia." Biyan menjaga betul kehormatan sang kekasih. "Ah yakin lu Bang?" Elgio menatap Biyan penuh keyakinan. "Tapi lumayan buat gue dulu aja. Kali aja milik gue jadi bangun gitu, kalau sama yang perawan." Elgio menakut-nakuti Biyan. Sungguh tidak mungkin dia merebut kekasih kakaknya. "Gue cekokin mulut lu pakai sambel, mau loh? Enak aja pengen calon bini gue. Cari yang lain aja sana!" Biyan emosi. Kini daging yang menggugah selera di hadapannya itu menjadi enggan ia sentuh. "Iya kagak akan gue ambil Jesica. Tolongin dong Bang cariin jalan keluarnya!" Elgio mengunyah daging sambil memohon. "Lu ingat kagak, itu sih nenek pas mau ngutuk lo karena apa? Lalu cara matahin nya dengan apa?" Bagaikan di adegan film kolosal zaman old. Kan ada sebab, ada musabab, ada juga solusinya. "Gue lagi mabok, Bang. Pas di kutuk sama si nenek." Dia sendiri malu. Elgio yang mabuk malah tidak memberikan uang pada pengemis. Tangan Biyan yang kekar memukul kepala adiknya yang sering mabuk-mabukan ini. "Au …." Elgio meringis kesakitan. "Lo kenapa getok kepala gue?" tanya Elgio yang bingung kenapa di hajar. Dia kan minta solusi, bukan ingin di bully atau di hakimi. "Dasar anak nakal, doyannya mabok lagi mabok lagi. Itu pukulan biar lu inget juga. Mikir dulu sana sambil makan!" Biyan ingin mskan dulu sebelum memberikan solusi.  Otaknya lemot jika sedang lapar. Jadi, isi amunisi dulu sebelum digunakan untuk berfikir. Mereka berdua menjadi makhluk Tuhan paling tampan yang sedang makan di restoran tersebut. Lalat saja sampai jatuh cinta. Belum lagi wanita yang lalu lalang sampai ada yang terpeleset, menabrak meja atau salah arah. Saking pandangan mereka tertuju pada dua makhluk paling macho ini. Makanan diatas meja kini sudah habis. Minuman juga sudah tandas. "Bang. Gue inget nih." Biyan menoleh ke arah Elgio. "Nenek itu hukum gue gara-gara gue bukannya ngasih duit tapi ngasih minuman alkohol. Si nenek itu tuh pengemis Bang." Elgio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lu kurang ajar banget. Masa iya pengemis lo kasih minuman keras. Kasihnya duit. Ya pantes dia marah ke elu, terus ngutuk lu." Biyan mengusap wajahnya kasar. Adiknya Elgio kenapa bego. "Lu dimana pas kejadian itu?" tanya Biyan. "Ya jelas di tempat hiburan malam, Bang," jawab Elgio antusias. Dia merindukan tempat tersebut untuk menghamburkan uang. "Aduh Elgio. Kebiasaan ya lu, tiap malam bolak-balik ke klub. Kapan lu isyaf?" Adik Biyan yang satu ini memang yang paling nakal. Biyan pun menyandarkan kepalanya ke atas meja. Menjadikan tangannya sebagai bantal. Dia pun berpikir.  Ada ide yang bisa dijadikan solusi. "Wah mungkin si nenek itu pengen lu insaf, makanya aset punya lo dibuat tidur. Jadi nggak bisa buat enak-enak lagi, sengsara kan lo kena karma. Itu kurma karena Lo ga insyaf-insyaf." Biyan menepuk-nepuk pundak Elgio. "Ya ampun! Karma begini amat bang. Jangan ginilah, Bang. Hidup gue yang masih muda, masa depan gue masih panjang, harusnya cerah!" Elgio mengusap wajahnya kasar. "Ah …. Lu lagi. Ada-ada aja lu, malah ngasih botol alkohol ke nenek-nenek pengemis. Ya jelas marah!" Elgio dianggap membangunkan singa yang tengah tertidur. "Ingat gak, cara matahin kutukannya apa?" Menurut Biyan pasti ada kata-kata yang dilontarkan pengemis sebelum pergi meninggalkan Elgio. Elgio menekan pelipisnya dengan jari telunjuk. "Oh iya cara matahin kutukannya itu dengan berbuat kebaikan dan mencari cinta sejati." Elgio sekarang ingat. Butuh bertemu orang pintar seperti Biyn dulu agar dia bisa berpikir jernih. "Tuh kan. Berbuat kebaikan, berarti lu disuruh berubah biar jadi orang lebih baik, lu jangan b***t lagi, malu gue ngakuin lu adik guenya!" Biyan mencoba mencairkan suasana agar Elgio tidak tegang. "Carilah pasangan yang terima Lo apa adanya. Kurang lebihnya contohnya kayak Jesica ke gue gitu.  Lu bisa lihat cintanya itu, nyata cintanya itu tulus!" Biyan mengagungkan sang kekasih. "Lu malah ngasih tahu kisah cinta lu ke gue. Gue nggak mau dengar tentang itu, gue maunya solusi. Gue manggil lu kan buat cariin gue solusi Bang." Elgio mengingatkan apa tujuan awalnya. "Mana cari alat tulis. Tulis solusinya dari gue biar ga lupa." Biyan pun mau memberikan solusinya. Elgio mencatat di ponselnya saja. "Satu, cari orang yang bisa lu ajak kerja sama, dan buat bantu. Jangan gue lah, gue sih sibuk, mau kawin sama mau honeymoon plus mau bikin anak!" Biyan terkekeh. "Dua, lo banyak-banyak bersedekah. Uang lo kan banyak, gak akan habis belasan turunan tuh, pake buat sumbang ke panti asuhan, ke panti jompo, ke rumah sakit atau ke pusat pendidikan biar harta lo yang haram itu bersih." Yang ini ada benarnya juga. "Terus ketiga. Lu sambil cari dah tuh cewek yang terima lu apa adanya. Bukannya cewek yang suka sama lo banyak? Ya bila perlu lo sekalian tes tuh satu-satu. Mereka mau kagak kalau lo enggak berduit, kalau lu jelek, kalau lo banyak kekurangannya. Kalau lo pura-pura sakit, sandiwara kayak gitu tu sekalian tes mereka apakah suka sama lo cuma karena tampang dan harta. Apa benar emang apa adanya." Biyan pun menyimpulkan dalam hati bahwa yang banyak tertarik karena tampang dan harta. "Itu sulit Bang. Gimana caranya?" tanya Elgio kebingungan. "Ya nyamar kek atau apa. Lu kan pintar, jadi artis gitu emang bakat lo!" Mulut Biyan terasa berbusa memberikan solusi untuk sang adik. "Terus yang ke-empat terserah lo deh mau buat sayembara kek, apa kek gitu. Yang penting cari cewek yang bisa bangunin asetnya lo!" "Oke deh Bang. Gue coba itu semua saran dari lo!" Elgio akan merekrut Reginald. * Kring …. Suara alat yang digunakan untuk memesan makanan di tekan untuk mengagetkan dan membangunkan seorang gadis yang tertidur di sembarang tempat. Saking lelahnya gadis ini. Dia tertidur saat mengupas bawang. "Astaga …. Jangan berisik gue lagi enak-enak tidur!" Eh dia lupa kenyataan bahwa dia sedang tidur dimana. Ini di tempat ia bekerja. "Eh, Adem Sari Anti Dandruf. Kerja lu, kok malah molor!" Manajer Sari membangunkannya. Nama gadis ini benar-benar unik. Terdiri dari empat suku kata dan bisa menjadi bahan olokan. Ibunya entah mengidam apa saat melahirkan Sari. "Maaf Bang. Capek semalam habis begadang cari beasiswa buat kuliah. Beasiswa yang kemarin kurang, kan bentar lagi mau masuk kuliah." Sari mencari beasiswa tambahan dengan berselancar di Mbah Google. "Iya. Tidur di rumah lo, bukan di sini. Sekarang saatnya kerja. Sana buang sampah  ke belakang." Sari diperintahkan kembali bekerja. "Iya Bang iya" Sari lalu pergi membuang sampah. Tempat pembuangan dekat parkiran. Byurrrr .. Sari membuang sampahnya kurang ikhlas. Jadi sebagian jatuh berserakan dan mengenai mobil yang terparkir disitu. "Astaga …. Aduh itu sampah nya malah tumpah kena mobil. Mana mobilnya mewah lagi. Gue nanti dimarahin yang punya." Sari menyesal dia tidak fokus bekerja dan tidak profesional. "Oh my God mobil gue yang mahal kotor."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN