Gadis pemilik nama Adem Sari Anti Dandruf ini ketakutan karena pemilik mobil mewah ini datang. Restoran sangat ramai pada jam makan siang sehingga halaman belakang juga digunakan untuk parkir mobil pelanggan. "Ma- ma- maaf, Tuan. Saya gak sengaja!" ujar sang gadis meminta maaf pada Elgio.
Elgio menatap miris keadaan mobilnya. "Gak sengaja, gak sengaja. Ini mobil kesayangan. Honey bunny sweety saya ternodai." Mata Elgio bagaikan puppy eyes. Si hitam nan macho sekarang menjadi kotor. Mobil kesayangan Elgio ini sangat ia jaga layaknya kekasih KW Elgio.
"Saya bersihkan ya?" tanyanya yang bersiap mengambil air dan alat lap agar mobil Elgio kembali bersih.
"Gak usah." Elgio menolak. Mobilnya tidak boleh disentuh oleh sembarang orang. Bisa tambah lecet nanti.
"Ma- ma- maaf, Tuan." Dia terus saja menunduk.
Elgio memandang sang gadis dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak menarik dan sama sekali tidak cantik. "Udah maafin aja, El. Kasian mbaknya." Biyan menengahi pertikaian ini. Elgio jangan sampai membuat kesalahan lagi. Nanti jika ada yang mengutuk lagi bisa berabe.
"Silahkan anda kembali bekerja!" Biyan mengusir pelayan secara halus.
Elgio menatap mobilnya yang kotor. Mobil ini baru ia beli satu bulan yang lalu. Hasil dari keuntungan tender terbaru. “Cup, cup, cup Sayang. Honey bunny sweety nya Daddy. Abis dari sini mandi yang bersih di tempat cuci mobil paling mahal ya!” Elgio mengusap-usap mobilnya.
"Sial banget hidup gue ketemu cewek burik, bau, culun, pembawa sial lagi. Aduh mobil kesayangan gue. Harus dicuci ini. Dicucinya gak sembarangan. Pakai kembang tujuh rupa biar enggak ketularan sialnya cewek itu!" Elgio menatap si karyawan perempuan yang sedang berjalan kembali masuk ke restoran.
Biyan menepuk pundak adiknya. "Woi. Lo kan harus berubah, kenapa sekarang kata-kata kotor keluar dari mulut lo. Berubah napa biar kutukannya itu terpatahkan." Biyan hanya bisa mengingatkan agar sikap Elgio berubah.
"Emosi liat mobil kesayangan gue kotor bau sampah." Elgio sampai menutup kedua lubang hidungnya.
Kakak beradik itu pun berpisah dan kembali ke dunianya masing-masing.
*
Adem Sari tengah membersihkan bagian luar restoran yang sedikit berantakan.
Seorang nenek yang berjalan dengan tongkat dan tubuhnya bungkuk menghampiri dia.
Tuk …. Tuk …. Tuk ….
Suara hentakan dari tongkat kayu si nenek terdengar jelas. Semakin dekat hingga berada di depan tubuh Sari. "Nak, minta sumbangannya, Nak!" Nenek ini menyodorkan mangkuk yang isinya ada uang recehan. Tampaknya sang nenek ini adalah seorang pengemis.
Sari mengenali Nenek ini karena sering lewat. "Nenek apa kabar?" Baru kali ini ada yang mengajak sang Nenek berbicara.
"Nenek masih di wilayah ini? Saya kira Nenek udah pindah." Belakangan ini Sari tidak melihatnya mengemis.
"Kabar kurang baik, Nak. Nenek habis sakit jadi nenek ga keliling. Tidur aja di kolong jembatan sana!" Nenek ini terlihat pucat.
Sari sangat iba melihat keadaan nenek ini. Dia menjadi ingat neneknya di kampung yang sudah meninggal. "Sebentar ya Nek aku ambilkan makanan buat nenek ya!"
Adem Sari mengambilkan makanan sisa di dapur yang tidak dimakan tapi masih tetap bagus dan bersih. Terkadang ada pelanggan yang sudah membeli makanan tapi sama sekali tidak dimakan. Setidaknya makanan di restoran ini bergizi dan bisa membuat perut si nenek kenyang.
"Nek. Ini makanan buat nenek. Kalau kebetulan aku ada disini, nenek panggil saja Sari. Nanti biar aku bawain makanan buat nenek!" Hati Sari baik sekali. Perilakunya juga baik pada orang sekitar. Nenek ini mengagumi Sari. Biar kata orang Sari berwajah jelek, burik, kucel and the kumel, berjerawat dan miskin. Sari tidak memiliki hati yang busuk. Hatinyalah yang cantik. Banyak gadis sekarang yang wajahnya cantik tapi hatinya jelek.
"Baik sekali kamu, Nak. Semoga rezeki kamu tergantikan dan lancar ya. Terima kasih. Maaf nenek suka merepotkan." Nenek ini bersyukur masih ada orang baik di kota ini.
"Tidak apa-apa, nenek tidak merepotkan kok. Ini ada uang sedikit buat nenek. Barangkali ada kebutuhan yang nenek ingin beli." Sari memberikan beberapa lembar uang berwarna hijau. Dia menyisihkan uangnya yang biarpun sedikit untuk bersedekah.
"Kenapa kamu kasih uang sebanyak ini?" tanya nenek ini dengan mata berkaca-kaca. Dia terharu dengan kebaikan Sari. Orang memberi dia uang seribu dua ribu tapi sari memberikan uang enam puluh ribu.
"Itu buat nenek. Anggap saja traktiran dari aku yang sedang ulang tahun." Sari hari ini tengah berulang tahun. Tidak ada yang mengucapkan selamat kepadanya bahkan teman di restoran ini sekalipun.
"Ulang tahun? Ulang tahun yang keberapa?" tanya si nenek.
"Ke sembilan belas tahun, Nek." Sari baru lulus SMA dan akan berkuliah.
"Kamu mau hadiah dari nenek?" Nenek ini berniat memberikan sebuah hadiah untuk Sari.
"Jangan. Saya tidak mau merepotkan." Sari menolaknya. Lagi pula tidak ada yang memberikan hadiah kepadanya selain sang ayah dan ibu, itu juga jika semuanya memiliki uang.
"Ya sudah nenek berikan kamu doa saja ya. Sini tangan kamu." Si nenek menjulurkan tangan. Ingin meraih tangan Sari. Sari pun menjulurkan tangan kanannya.
Si nenek terlihat komat kamit sebentar lalu menatap Sari sambil menggenggam tangannya. "Tangan inilah yang akan banyak membantu orang lain. Tangan inilah yang akan banyak bersedekah. Tangan inilah yang akan merawat anak-anakmu dan suamimu kelak. Tangan inilah yang membuat kamu menjadi wanita yang kuat dan sukses. Sebentar lagi hidup kamu akan berubah, bersabarlah.
Ingat apa kata nenek kamu harus berbuat baik dan jangan lupa ubah orang yang jelek juga menjadi baik seperti kamu." Sari diberikan doa dan sebuah misi.
Sari terharu dan dalam hati mengucapkan kata aamiin. "Terima kasih doanya, Nek. Aku kerja lagi ya!" Sari tersenyum lebar, senyumannya manis juga. Jika dilihat dari dekat, gadis ini manis semanis madu. Sayang wajah Sari hitam dan memiliki jerawat.
"Selamat tinggal, Nak. Nenek mau lanjut ngemis dulu, nanti baru makan makanan dari kamu di bawah jembatan."
"Silahkan dinikmati, Nek!" Sari kembali bekerja.
***
Hari pernikahan Biyan sudah tiba tapi Elgio tidak kunjung menemukan solusi permasalahannya. Dia pun duduk bersama Reginald yang tengah patah hati.
“Lu kenapa tong kenapa bersedih?” Tanya Elgio sambil merangkul Reginald yang tengah melihat ayahnya mengucapkan ijab kabul.
“Lu kan tahu permasalahan gue, Om.”
“Oh yang itu. Ya kan gue mau bantu lo. Santai aja kali nggak usah galau terus. Mending lo bantu gue aja sambil menunggu Bapak lu izinin lo ke Paris.” Elgio sangat mudah sekali membantu permasalahan Reginald.
“Bantuin apa?” tanya Reginald penasaran. Otaknya cerdas dan bisa diandalkan.
“Ya kan Gue minta bantuin elu cari cewek kek, atau bantu gue caranya berbuat baik. Harus ke panti asuhan mana? Panti jompo mana? Kayak gitu, yang penting intinya misi gue satu cari cewek, dua berbuat baik.
“Lu kayak orang kesambet, Om. Sehat?” Reginald sampai memeriksa temperatur suhu tubuh Elgio dengan menempelkan punggung tangannya ke kening sang Om. Dia rasa tidak ada yang panas. Berarti masih normal.
“Tumben mau jadi orang baek. Aneh-aneh aja deh!” Reginald tidak percaya dengan keinginan Omnya ini.
“Elu mau dibantuin kagak? Bantuin gue nyicil-nyicil gitu, bantuin sekarang ama bantuin nanti setelah pulang dari Paris. Jadi ponakan yang berbakti ngapa!” Tingkah Elgio berhasil menghibur Reginald yang tengah galau.
“Ya udah gue bantuin!” Reginald berbaik hati. Toh Elgio juga baik.
****
Follow i********: aku @Lianaadrawi ya guys!
***
Elgio merana beberapa minggu ini karena ia sibuk bekerja dan tidak kunjung berbuat kebaikan. Dia juga jarang merasakan tidur nyenyak.
Byurrr ….
Elgio yang sedang tidur nyenyak diguyur seember air. Di alam mimpi baru-baru ini, Elgio seakan menjelajahi ruang waktu, dia juga sering memimpikan bertemu si nenek yang memberikan wejangan-wejangan islami macam Mamah Dedoh. Elgio tak percaya sama sekali dengan hal spiritual, dia juga tidak suka dengan aturan. Hidupnya yang mengatur orang lain, bukan dia yang diatur. Hanya mama Arisa dan papa Arga yang boleh mengatur plus paling Biyan yang merupakan kakak pertamanya.
Malam saat terakhir ia tidur nyenyak adalah saat Elgio menemani Mamihnya tidur, bak Elgio sewaktu bayik. Arisa memeluknya erat karena takut setan. Padahal yang bersuara menangis seperti tangisan setan adalah anaknya sendiri.
Semenjak tidur menemani Arisa, dia sering bermimpi buruk. Bangun-bangun saat hari sudah siang, dia melihat Arisa berwajah nenek yang mengutuknya. Alhasil Elgio di tampar sang mama karena berteriak ketakutan mengatai mamahnya nenek-nenek tua. Arisa yang tidak suka dikatai tua emosi, dia masuk komunitas generasi menolak tua, setiap bulan mondar mandir klinik kecantikan untuk botox, laser atau treatment lain agar kerutan menghilang, wajah glowing dan licin, semut pun bisa terpeleset jika melewati wajah Arisa. Dia kesal pada Elgio sejak hari itu. Elgio merasa bersalah pada ibunya sendiri yang senang dibilang cantik dan awet muda.
Elgio harus merayu dengan rayuan maut agar dia kembali berbaikan dengan sang mama.
Pria tampan ini melebarkan matanya, tapi ia masih merasa di alam mimpi. “Hu, ha, hu, ha. Brengs*k mimpi apalagi gue. Kenapa rasanya kek beneran, kampr*t.” Elgio mengatur napasnya agar tidak merasa sedang berenang dan menahan napas. Air itu membuat dia sesak seketika. Sepertinya ada yang masuk ke rongga pernafasannya. Tubuh atas Elgio basah dan terasa dingin. Masa iya mimpi sampai terasa dinginnya ke pori-pori? Yang benar saja!
Dia melirik ke arah dua pria tampan yang sudah wangi dan berdiri di hadapannya. “Kenapa ada setannya Reginald dan Reyhan di kamar gue ya? Apa rohnya lagi gentayangan ya? Udah mati lo duo o***g? Masuk mimpi gue malem ini?” tanyanya pada Reyhan dan Reginald yang benar-benar asli mereka seperti Upin dan Ipin karena menggunakan pakaian yang sama. Bukan seperti malaikat pencabut nyawa kok, jadi jangan anggap mereka syetan. Dia kira Reyhan dan keponakannya sudah mati dan mendatangi mimpinya.
“Bangun Om nackal. Ini sudah siang to the beurang!” ujar Reginald melemparkan ember ke arah Elgio, hari ini dia dalam mode tidak sopan karena ada temannya yaitu Reyhan. Mau di marahi pun kan berdua, tidak sendirian. Jadi tidak perlu ada yang di takutkan.
Elgio menangkap ember kosong tersebut agar tidak membentur wajahnya yang tamvan maksimal, terasa dingin di telapak tangannya. “Kampr*t gue bukan mimpi ini?” Elgio melirik jam di dinding.
“Bukan Om yang usianya udah waktunya kawin.” Kedua anak remaja itu menggelengkan kepalanya. Masa sudah siang begini Elgio masih mimpi. Reyhan dan Reginald sudah terbiasa bangun dini hari untuk belajar. Elgio malah enak-enakan bangun siang, mentang-mentang bos. Sultan mah bangun jam berapapun bebas cuy!
“Kurang ajar lu duo o***g. Ngapa lancang guyur gue lagi tidur?” Mata Elgio membulat. Dia emosi karena tidak diperlakukan dengan sopan. Satu ponakan dan satu temannya ini sepertinya ingin mengajak ia gelut.
“Demi bisa ke Paris!" ujar Reginald karena ingin berangkat. Ayah dan ibu tirinya sebentar agi berangkat ke Bali.
"Demi cuan!" ujar Reyhan di iming-imingi uang oleh Reginald. Dia yang akan membimbing dan membantu Elgio selama Reginald di Paris. Jadi sekarang saat ada Reginald ya dilakukan berdua dulu itung-itung kursus.
“Ini dua bocah mau ngapain ke rumah gue pagi-pagi?” tanya Elgio, dua anak remaja ini ia rasa sangat merepotkan.
“Lu kan minta di bantuin cari pasangan, sama jadi orang baik, ayok!” celetuk Reginald. Reyhan memperhatikan untuk contoh. Dia kan jadi karyawan Reginald yang bertugas nanti setelah bosnya berangkat.
“Bukan kayak gini caranya. Kurang asem lu bikin ranjang sultan jadi basah begini. Ini tubuh sultan jadi basah kuyup. Kampr*t lu bocah!” Elgio bersiap bangun. Dia menyayangkan kasur empuk king sizenya kini basah oleh guyuran air. Entah bagaimana caranya membuat kasur ini kering. Sepertinya Elgio akan meminta bantuan pembantunya.
“Demi kebaikan dan demi keberhasilan.” Segala cara akan dilakukan Reyhan dan Reginald. Mereka melakukan gerakan tos. Tanda keberhasilan membangunkan Elgio yang keblu.
“Gak usah gitu caranya. Itu air apaan yang lu pake?” Elgio mengendus-endus baju tidurnya yang kini bau. Baju dari bahan sutra sayang sekali di basahi air yang entah air apa.
“Air pellan! Hehe!” Reyhan nyengir kuda. Tadi Reyhan yang mencarikan air.
“Kurang ajar lu. Sini gue kebi*i!” Elgi bangun dan akan menimpuk kepala Reyhan dengan ember kosong lalu mengancam akan mengebi*inya.
“Ampun Om, ampuuuunnnn ….!” Reyhan menutup kepalanya sementara Reginald menahan gerakan Elgio.
“Reyhan gilaaaaa ….” Elgio berteriak karena kesal. Aset tubuhnya yang berharga ini masa iya di guyur air bekas mengepel.