5. Cowo Burik

1725 Kata
"Lo juga. Pati lo yang nyuruh ini anak.” Elgio memelototi Reginald.  Reginald yang merasa menyuruh Reyhan mencari air pun ketakutan. “Ampun!” Reyhan dan Reginald segera berlari. Tapi pintu segera ditutup. Mereka kemudian beralih ke pojokan dan mengeluarkan kertas perjanjian antara Regnald dan Elgio. “Kenapa lu keluarin itu surat perjanjian? tanya Elgio. Dia melihat surat perjanjian yang dibuat Reginald beberapa waktu lalu. Mereka kan simbiosis mutualisme. Saling membantu demi mendapatkan keuntungan masing-masing. Tapi surat tersebut isinya menjengkelkan sekali dan merugikan Elgio jika tidak menurut, Elgio akan di hukum. Isi hukumannya sangatlah memalukan. “Kan kita berbaik hati ingin membantu Om tamvan dan menawan. Ingat perjanjian ini yak!” Reginald menyombongkan diri. Dia tidak jadi di timpuk oleh Elgio. “Sebel gue. Nyesel udah tanda tangan itu kontrak.” Elgio menggaruk kepalanya kasar. “Yeee … selamet kita gak jadi di kebi*i.” Reyhan dan Reginald bersorak gembira. “Jangan seneng dulu lu pada, Tong.” Elgio menarik kerah baju mereka. “Awas jangan bales dendam, tar gak jadi kita bantuin.” Mereka mengangkat dua jari tanda vis. Jika saja tidak membutuhkan bantuan. Elgio tidak akan menerima perlakuan semena-mena ini. Elgio menatap langit-langit kamarnya tanpa melepaskan kerah baju Reyhan dan Reginald . “Tuhan tolong jauhkan hamba dari orang-orang seperti mereka.” Elgio mengedipkan matanya. “Tumben lu panggil Tuhan Om. Biasanya kaga kan?” Reginald sedikit menyindir tapi memang kenyataannya seperti itu, Elgio tak pernah ingat yang maha kuasa. “Apaan lu? Nyindir gue yak?” Elgio mengepalkan tangannya bersiap memberikan sebuah pukulan. “Set dah, jan galak-galak dong Om. Gue baik hati nih mau bantuin. Kasih duit bukan kasih bogem mentah.” Reginald berusaha membujuk agar tak kena sebuah tonjokan.  “Dasar bocah-bocah mata duitan.” Elgio melepaskan mereka. Bocah-bocah ini tidak sebanding jika melawan kemarahannya. “Gue mandi dulu. Ini kulit sultan takut melepuh abis kena air pellan. Djijik gue.” Elgio mengibaskan tangannya di bagian pundak kanan kiri. “Bukan air pellan kok. Air cucian si bibik.” jelas Reyhan, berarti tidak sejijik air bekas mengepel. “Apa bedanya. Sama-sama kotor, iuhhhh.” Dia jijik dengan baunya yang aneh. Mungkin bukan produk Rinsu seperti biasa. “Huh … so jijik banged sih sultan.” Reyhan dan Reginald duduk santai di kasur hot Om ini.Mereka memasang wajah tanpa dosa (Watados). Seakan tidak punya salah.  “Sana pergi jangan di kamar sultan.” Usir Elgio. Dia tidak mau orang lain berada di kamarnya. Kalau cewek cantik dan sexy sih boleh-boleh saja. “Baik kanjeng!” Mereka menunggu di luar sambil main playstation. Setelah menunggu setengah jam, mandinya Elgio yang bak anak perawan menurut Reyhan dan Reginald, bahkan pacar Reyhan saja tak mandi selama itu. Pant*t keduanya sampai terasa berakar kelamaan duduk menunggu om-om tamvan ini. Elgio berdiri begitu wangi dan menawan di depan dua anak remaja yang terlihat polos, lengkap dengan jam tangan model terbaru yang baru ia beli. Merknya pun merk branded. “Rencana kalian apa bocah-bocah?” tanya Elgio. Mungkin mereka akan ke pusat perbelanjaan atau sekolah, pikirnya. “Ets, jangan ketus dan galak ama kita ya! Om kan yang butuh kita!” Reginald menyombongkan diri karena merasa dibutuhkan. “Songong amat ni bocah, pengen ta hiiihhh ….” gumam Elgio pelan. “Ngomong apa lu bisik-bisik Om?” Reginald menoleh saat dia sedang melirik Reyhan di sampingnya, merasa Elgio mengumpatnya. “Kaga!” Elgio menggelengkan kepalanya. Reyhan memberikan sebuah jinjingan warna biru. Yang tadi sudah di persiapkan dengan Reginald. Mereka sampai membeli ini dari pemulung di pinggir jalan.  “Noh pake!” pinta mereka. Baju yang mereka beli di hargai lima puluh ribu rupiah tadi. Orisinil from abang-abang pemulung. Elgio langsung membukanya. Kain kaus kumuh dan lusuh berwarna coklat, bahkan terlihat compang camping. “Baju apaan nih?” “Gembel,” jawab keduanya sambil terkekeh. “Aje gileeee … lu pade pake baju bagus, sedangkan gue di pake baju gembel? Iuuuhhh, demi apa? Emak gue bisa malu liat anaknya yang biasa pake baju bahan sutra terus pake baju gembhel.” Elgio melemparkan baju itu ke sembarang arah. Curiga langsung di kerumuni lalat ataupun semut saking kotor dan baunya. Biar Reyhan atau Reginald saja yang pakai. Reginald menjewer baju tersebut dan Reyhan melemparkannya kembali pada Elgio. “Mau pake gak? Kalo gak mau ya lo berarti telanjang di arak-arak di atas ondel-ondel.” Ini isi di dalam perjanjian. “Kampr*t itu Reginald, bikin perjanjian kek gitu amat, kalo gue gak butuh gak akan tanda tangan dah.” Elgio mau saja tanda tangan karena butuh bantuan, ke siapa lagi? Ke temannya sama saja bunuh diri! “Ayok dong Om ganteng. Di pake baju kebesarannya!” Reginald membujuk sambil merajuk manja bak ucing yang lelendotan ke majikannya. “Kebesaran-kebesaran endasmu. Bajunya bau lagi, iuuuhhh … oh em ji, pen muntah gue.” Elgio sampai mengendus-endus aromanya. Reginald berubah dalam mode tegas. “Om … pake sekarang!” Dia melotor di temani Reyhan. Elgio melihat sendiri mata kedua anak ini yang tengah melototinya. “Iya. Awas lu bocah-bocah!” Kedua tangannya meraih baju tersebut dan ia kembali ke kamar untuk berganti pakaian. “Hahahaha, enak banget merintah Om-om ketceh badai dan berwibawa, sekarang turun derajat jadi di bawah kita!” Keduanya terkekeh. “Awas lu pada ya!" Elgio melirik ke belakang. Dalam lima menit dia keluar kamar. Meski bajunya lusuh seperti ini, Elgio masih terlihat tamvan maksimal. Mau bentukan yang bagaimanapun, orang ganteng mah ya tetep ganteng. “Sini Om.” Reginald mengibaskan tangannya. “Gue mau di apain lagi?” Elgio mendekat pada dua bocah ini. Entah ide gila apalagi yang direncanakan oleh mereka. Pagi-pagi begini Elgio sudah terkena musibah. Dua anak ini seperti iblis yang mengganggu ketentramannya. Keduanya heran karena biarpun baju Elgio jelek. Pria yang tinggi berisi ity masih terlihat tampan. “Biar tamvannya hilang!” Habisnya pakai baju jelek masih tamvan, perlu polesan makeup gelap agar wajah tampan itu hilang sirna diterjang ombak dan badai. “Mamiihhhh Arisa …. Tolong anakmu!” Elgio hanya bisa pasrah saja. “Mamih lu lagi pergi Om. Jan di panggil, mati gentayangan!' Reginald masih bisa bercanda sementara yang diajak bercanda merasa tersiksa. Wajah Elgio sudah di poles oleh tanganajaib Reyhan dan Reginald. Mereka menggunakan wajah Elgio layaknya kanvas yang bisa di lukis sembarangan hingga yang tampan berubah jadi burik. “Tuh kan. Totalitas tanpa batas!” Reyhan memberikan kaca, sekarang pria tampan itu sudah bak gembel sejati yang biasa nangkring di kolong jembatan. “Nih pegang sebagai pelengkap!” Dia memberikan plastik bekas ciki yang ujungnya di linting tiga kali. Ini untuk menampung uang. “Lu mau nyuruh gue ngemis?” tanyanya karena penampilan ini bak pengemis gelandangan. “Iyaps.” Empat jempol mengacung. “Aje gileeee … seumur-umur serba berlebih, tinggal di kastil mewah, tinggal panggil si embik buat anter makan, gesek duit buat bayar sesuatu pakai kartu yang transaksinya tanpa batas. Sekarang gue harus ngemis Bro. Lu pada waras gak? Batok kepalanya pada lepas kali ya!” Elgio menepuk jidatnya. Masa iya sultan nyamar jadi pria burik kang ngemis di pinggir jalan. Baru seumur-umur dia sekarang terlihat buruk. “Waras. Ini ide Reginald biar Om berubah.” Reginald melirik ke arah sahabatnya, semuanya ide gila Reginald. “Kamp*et, gue laporin bapak lu nanti.” Tak habis pikir, keponakannya menyiksa Elgio dengan cara ini. Cara Reginald ini membuat Elgio sadar diri dan lebih peduli sekitar, hanya saja Omnya belum paham. “Ayo beraksi. Naik mobil, lo gak boleh bawa uang Om.” Reyhan dan Reginald merangkul Elgio paksa agar mau diajak pergi. Tak lupa mereka memasangkan wig yang rambutnya macam orang gimbal. Habisnya rambut Elgio sudah rapi dengan pomade. Nyamar jangan tanggung-tanggung ia khan. Harus totalitas hingga sandal yang digunakan pun merk swallow yang kotor oleh lumpur. “Makan dulu dong, gue belom sarapan.” Elgio menolak dengan menahan langkah kakinya. Cacing di perut Elgio sudah meronta minta untuk di isi. Ada aroma nasi goreng dari dapur, sepertinya bibik tengah memasak sarapan untuk tuan rumah.  “Gak bowleh. Lo makan hasil dari ngemis aja ntar.” Reyhan dan Reginald semakin menarik dengan paksa. “Makan apa dengan uang hasil ngemis?” Elgio butuh setidaknya lima ratus ribu paling murah untuk makan. Dia kan makan harus di restoran mewah bukan yang abal-abal. Usus dan lambung Elgio bisa sakit jika makan makanan yang kurang higienis. “Banyak, di warteg.” Reginald saja yang anak sultan bisa makan di warteg. “Demi apa? Gue gak pernah seumur-umur makan di warteg. Dari brojol keluar dari rahim emak gue, selalu makan lima sehat empat sempurna, emas juga gue makan di tempat restoran bintang lima. Sekarang dua bocah suruh gue pura-pura jadi orang susah." Elgio merasa jijik dan perutnya bisa sakit jika makan buatan warteg. Belum apa-apa, hanya membayangkannya saja dia sudah mual-mual. “Sekali-kali aja dong. Biar lu rasain jadi orang susah kek gimana.” Reginald dan Reyhan juga secara tidak langsung mengajarkan sisi hidup prihatin pada Omnya ini. “Lo pada aja yang rasain sendiri. Ogah guweh.” Elgio berusaha berputar haluan. “Ets … mau kaga di bantuin?” Reyhan dan Reginald kompak menarik kerah belakang baju Elgio. “Huft, yaudah iya.” Elgio lagi-lagi pasrah. Entah kenapa belum apa-apa sudah terasa berat. Dua remaja ini menepuk pundak pria yang berjalan di tengah mereka ini. “Belajar bungkuk. Biar totalitas.” Semua harus dilakukan secara normal dan totalitas. Anggap saja sedang membuat reality show atau membuat sosial eksperimen macam bunda Sarwendah.  “Sepertinya guweh mau ngelamar jadi artis. Cocok jadi aktor nih.” Dia melirik Reyhan dan Reginald dengan tatapan tajam. “Gue vidioin ya!” Si Reyhan malah mengira Elgio mengajaknya bercanda. Kebetulan ia membawa kamera untuk dokumentasi. “Awas jangan ke sebar, malu ue.” Elgio memperingatkan. “Tenang aja kanjeng! Om, lu biasanya dingin dan berwibawa, sekarang boro-boro.” Mereka terkekeh mengejek setelah melihat penampilan Elgio segembel ini. Beda seratus delapan puluh derajat dengan Elgio yang asli. “Lu pada yang ubah gue macam gembel sih.” Reyhan menyetir mobil dan Reginald duduk di sebelahnya. Reginald kan tidak pandai menyetir. Reyhan yang baru belajar menyetir itu lama sekali hingga memakan waktu satu jam. Dia berhenti di wilayah pinggiran Jakarta. Wilayah perkampungan padat penduduk dan kumuh. Beda jauh dengan lingkungan rumah Elgio yang bersih dan mewah. “Mangkal disana Om!” tunjuknya ke bawah jembatan penyebrangan. Mata Elgio membulat “Owgh …. Mamih …. kumuh syekali iuuhhh.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN