6. Jago Bersandiwara

1419 Kata
Setelah lama mobil melewati aspal panas kota Jakarta. Mereka berhenti di wilayah pinggiran. Wilayah perkampungan padat penduduk dan kumuh. Beda jauh dengan lingkungan rumah Elgio yang bersih dan mewah. Aroma terasi menyengat sebagai tanda wilayah ini tempat memproduksi rebon menjadi terasi dan dekat dengan bibir pantai. “Mangkal disana Om!” kedua anak ABG yang akan duduk di bangku perkuliahan. Arah tangan itu menunjuk ke bawah jembatan penyebrangan. Mata Elgio membulat “Owgh …. Mamih …. kumuh syekali iuuhhh.” Selma ini matanya disuguhkan dengan perkotaan elit, gedung yang menjulang tinggi dan barang-barang branded. Sekarang dia melihat sampah dimana-mana, rumah penduduk saling berdempet tanpa celah dan begitu ramai. "Kali aja kalo rame gitu kantong dari ciki lu cepet keisi Om!" Reginald terkekeh. Dia bisa juga menyiksa Elgio. Momen seperti ini sangatlah langka. Elgio sama sekali tidak pernah ke perkampungan kumuh atau ke perkebunan. "Om, Om. Jangan lupa kaya gini yak!" Reginald membungkuk dan mempraktekkan caranya mengemis. Dia sampai totalitas dengan memegang ciki kosong untuk meminta sumbangan. Contoh ini diharapkan akan membuat Elgio bisa mempraktekkannya dengan luwes. "Pak, minta sumbangannya Pak. Saya belum makan tiga hari!" Raut wajahnya pun dibuat-buat agar orang iba. Reginald pintar sekali berakting. Elgio rasa Reginald saja yang harusnya turun tangan ke lapangan. "Kayak gitu ya, Om. Bisa kan?" tanya Reginald. Dia selesai mempraktekkan bagaimana cara mengemis ala Reginald. Gurih-gurih nyoiii …. "Edan lu tong. Elu aja tuh yang pinter. Jangan gua!" Elgio menghilang tangan di depan d**a. Ogah sekali dia panas-panasan dan bukan untuk jalan-jalan dengan wanita berbikini seksi. Ini panas-panasan untuk ngamen cuy. Yakali anak sultan ngamen. Dimana harga diri Elgio sang mahakarya Tuhan paling aduhai. "Ets …. Om lah. Kan Om yang harus merasakan jadi orang susah, biar bisa berbuat baik." Reginald turun dan membukakan pintu untuk Elgio. Dia akan memaksa Elgio agar keluar dan mau mengemis. "Eh ada air laut tuh. Kesana yok. Gue pengen lelepin dua anak abege yang ga sopan sama gue nih!" Elgio melihat ada pantai. Apakah harus membawa Reginald dan Reyhan ke pantai dan dia tenggelamkan macam ibu Susi, menteri kelautan yang tengah bertugas. "Eh …. Lu mau di bantuin kaga Om?" tanya Reginald. Jika tidak mau, lebih baik dia rebahan saj di rumah. Untuk apa susah payah membantu Elgio hingga datang ke tempat ini. "Mmmm …." Elgio akhirnya mau turun. "Sana!" Reginald menunjuk tempat Elgio mangkal. Bukan mangkal jadi pedagang, pebisnis yang tengah menunggu gadis penghibur atau yang lainnya. Ini mangkal untuk mendapatkan uang hasil ngemis. Elgio berjalan membelakangi mobil. Dia menatap langit yang cahayanya mulai terik. Perut Elgio juga sudah mulai lapar. Jika tahu akan dikerjai seperti ini, Elgio akan bangun pagi dan sarapan terlebih dahulu. "Buset panas bat, bau pula. Gue gusur dah wilayah ini jadi perkantoran," ujar Elgio sang bos pembangun gedung-gedung elit di Jakarta pusat. Brukkk …. Elgio menabrak seorang ibu-ibu yang membawa jinjingan belanjaan. Sepertinya ibu ini sudah berbelanja dari pasar ikan. Bau keranjang belanjaannya berbau amis. "Ih …. Mas-nya jangan ngehalangin jalan dong." Ibu tersebut mengomel sambil memelototi Elgio. Dia tidak suka jalannya di halangi.  Memangnya ini jalan aspal milik ibu ini seorang. Sebegitu luasnya malah menabrak Elgio. Yang menabrak siapa, yang marah siapa. "Ma- maaf, Bu." Elgio meminta maaf.  Ibu itu menutup lubang hidungnya saat mencium aroma tidak sedap dari baju yang Elgio kenakan. Dia juga melihat penampilan Elgio dari ujung kepala hingga ujung kaki. Benar-benar seperti gembel sejati. "Ibu-ibu dimana-mana sangar ya!" Elgio mengeluh sambil menyebrangi jalan. Tiiinnnnn …. Suara klakson motor terdengar nyaring. Rupanya Elgio menyebrang tanpa lihat kanan kiri dulu. Maklum keseringan naik mobil. Kapan dia menyeberang dengan berjalan kaki. Sultan jalan mah biasanya dengan red carpet. "Oi …. Jangan menyebrang sembarangan lu!" Seorang bapak-bapak memarahi Elgio. "Maaf, Pak." Elgio menggaruk tengkuknya kasar.  "Set dah orang disini belom apa-apa galak-galak Cuy." Elgio menghembuskan napas kasar, entah berapa kali di hari ini. Sudah panas, bau, becek, ga ada odjek. Lengkap sudah penderitaannya ulala. Kulit mulusnya yang putih mentereng kini merah-merah. Bagaimana tidak merah? Wong kang mas ganteng alergi yang kotor-kotor. Sudah biasa serba steril sih. Kotor dikit jadi gatel ya Khan. Sayangnya Elgio tidak punya alas bersih untuk duduk di dekat jembatan penyebrangan. Begonya dia, tadi menyebrang sembarangan, tidak lihat apa ini ada jembatan penyebrangan segede gaban.  Jika di nilai, tempat ini mendapatkan dilai di bawah enam. Tidak layak disebut bersih dan rapi. Ada plastik hitam yang terbang di jalanan terbawa angin. Elgio menggunakannya untuk alas duduk. Pantat Elgio yang aduhai bisa bisulan jika duduk sembarangan. Tidak elok nanti guys! "Ehem …. Dia pun duduk menghilangkan kaki. Reginald dan Reyhan tetap menyalahkan AC mobil. Mereka layaknya bos yang menunggu setoran dari para pengemis jalanan. Kerjanya diam dan mengawasi saja dari dalam mobil. Enaknya lagi mereka ternyata membawa camilan. Reyhan yang polos dan jahil malah membuka kaca mobil. Dia memakan burger bikinan mamanya yang dibawa sebagai perbekalan. Melahapnya dengan aduhai baknartis mukbang.  Elgio yang melihat pemandangan itu hanya bisa menelan salivanya susah payah. "Kampretos tu anak-anak abegeh malah enak-enakan makan. Awas ya lu o***g-o***g. Gue bales entar!" Elgio lama duduk disitu tapi tidak ada yang memberikan ia uang. Seratus bahkan dua ratus perak pun tidak ada. Kantong ciki kosong yang ia bawa masih tidak berpenghuni. Begini ternyata rasanya cari uang sebagai pengemis. Miris cuy …. Jarang ada orang yang iba lalu memberikan uang. "Kerja lu tong. Masih muda kayaknya. Malah ngemis lu!" Kata-kata kasar terucap dari seorang bapak-bapak yang lewat. Elgio dianggap masih muda dan masih kuat untuk bekerja, bukan sebagai seorang pengemis. Jadi kuli panggul kek atau kuli jualan plastik di pasar dekat situ. Lebih berfaedah daripada ngemis. Tapi dibalik mulut pedasnya, bapak itu memberikan uang lima ratus perak. Hallows, lima ratus perak? Cukup untuk apa cuy? Tapi Elgio sedikit senang. Uang ini ia anggap sebagai pelet penglaris. Semoga akan ada lagi yang memberikan ia uang. Kruukk …. Kriuuukkk …. Cacing di perut Elgio semakin meronta-ronta meminta untuk diisi. Apalah daya, dia tidak membawa sepeserpun uang. Hasil ngemis satu jam saja baru lima ratus perak. Lima ratus perak cukup untuk apa? Harga rotis aja yang kecil di atas dua ribuan. Elgio hanya bisa mengusap perutnya. "Sabar ya para cacing. Nanti papa pulang, papa isi daging berlapis emas, ya!" Elgio membayangkan steak yang dihiasi dengan emas yang bisa dimakan. Netranya melihat dua anak yang tengah asik bercanda gurau sambil mengemil di dalam mobil. Reginald dan Reyhan enak sekali makan camilan perbekalan dari tadi. Elgio memperhatikan ke arah lain. Ada anak kecil yang bekerja menjual roti. Anak kecil tersebut seperti berumur tujuh tahun. Pundak mungilnya itu digunakan memanggul kotak yang di buat khusus untuk menampung roti. "Et dah itu bocah kecil ngapain sekecil itu dagang." Elgio salut dengan semangat sang anak. Sekecil itu sudah belajar mencari uang sendiri. "Om …. Dibeli Om." Dia menawarkannya pada Elgio. "Lo jualan apa, Dek?" tanya Elgio. Kebetulan ia lapar. Ets, tapi ia lupa tidak punya uang. "Roti Om. Dua ribuan!" Murah sekali bagi Elgio. Tangannya bergerak merogoh kantung celana. Sial, Elgio lupa dia tidak membawa dompet. Ingin rasanya dia memborong semua dagangan anak ini agar laris manis. "Om ga punya uang, Dek. Adanya lima ratus perak," ujar Elgio. "Hmmm …." Anak ini menunduk. Mungkin ia sedih karena tidak dibeli. Sepertinya dagangan dia belum laku karena masih terlihat penuh. "Kamu gak sekolah? Kenapa berdagang?" tanya Elgio sambil memperhatikan sang anak. "Gak punya uang untuk sekolah, makanya aku dagang daripada ngemis," ujar sang anak. Dia lebih suka kerja keras daripada mendapatkan uang gratisan. Jleeebbb …. Seketika itu Elgio malu karena ia menjadi pengemis. "Om belum makan ya?" tanya aank ini melihat Elgio yang seperti orang kelaparan. Mungkin dia tidak tega. "Iya. Belum." Elgio mengangguk. "Nih makan aja!" Anak ini memberikan satu roti untuk Elgio. "Aku kasih harga lima ratus perak buat Om!" Senyuman terukir dari wajahnya yang berkulit coklat dan bergigi putih. Anak ini terlihat menyedihkan dengan baju yang sedikit compang camping. "Yakin?" tanya Elgio memastikan. "Yakin!" Anak ini baik sekali. Dia saja hidup susah. Tapi mau membantu orang yang kesusahan. Hatinya sungguh sangat mulia. Elgio meraih satu bungkus roti berukuran kecil dan memberikan uang lima ratus perak yang ia dapat tadi. Mereka duduk bersebelahan. Menyantap roti berbarengan. Anak itu sama sekali tidak jiji makan di emperan seperti ini bersama Elgio. "Copet …. Tolong ada copet!" Teriak seorang gadis yang tengah berlari. Plukkk …. Sendal jepit swalow melayang, melambung tinggi hingga mendarat di pipi Elgio. Sungguh salah sasaran. "Aduh!" keluhnya yang terkena tamparan sendal jepit. Sedang enak-enakan makan roti baru habis setengah, sudah ada gangguan. Nasib, nasib!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN