Lumpur Yang Pekat
"Hanya singa yang kuat yang dapat bertahan. Kamu sama sekali tidak boleh terlihat lemah," suara ayahnya menggema dengan nada dingin yang mencengkeram hati.
Arman mendapati dirinya terperangkap di tengah hutan yang gelap dan menyeramkan. Di sekelilingnya, pepohonan tinggi menjulang menutupi langit, menciptakan bayangan yang bergerak seakan hidup. Ia berlari dengan terburu-buru, merasakan setiap langkahnya terasa berat dan melelahkan. Suara napasnya yang terengah-engah seolah memenuhi seluruh hutan, bercampur dengan suara gemerisik daun dan ranting yang patah di bawah kakinya.
Tubuh Arman yang atletis dan tegap tampak memukau di bawah sinar rembulan. Kaus hitam yang dikenakannya melekat erat pada setiap lekuk ototnya, memperlihatkan perutnya yang rata dan d**a yang bidang. Kaus tersebut kini tampak kusut dan kotor, memperlihatkan kerasnya perjuangan yang dia hadapi. Tubuhnya yang berkilau karena keringat, dengan kulit kecokelatan yang lembab, membuat setiap gerakan terlihat jelas dan kuat.
Bau tanah hutan yang lembap menyelimuti hidungnya, mengisi udara dengan aroma busuk yang hampir membuatnya mual. Bau tersebut seolah bercampur dengan bau keringatnya sendiri, menciptakan sensasi pengap yang menyiksa. Setiap kali ia menghirup udara, rasa pahit dan amis di mulutnya semakin kuat, seperti ada sesuatu yang busuk menyumbat tenggorokannya.
Suara ayahnya terus-menerus bergema di antara pepohonan, semakin mendekat dan semakin menakutkan. “Yang kuat yang bertahan,” suara itu kembali menggaung dengan tekanan yang semakin meningkat, seakan-akan menyelimuti dirinya dalam kegelapan. Setiap kata terdengar seperti cambukan yang menyayat, menambah berat beban yang ia rasakan.
Arman merasakan dingin menjalar di sepanjang tulang punggungnya, seolah cengkeraman es tak terlihat mencengkeramnya dengan keras. Rasa dingin ini seolah menyatu dengan keputusasaannya, menciptakan sensasi menyiksa yang mengganggu pikirannya. Dia berlari lebih cepat, tubuhnya merasakan setiap gerakan sebagai usaha keras melawan sesuatu yang tidak terlihat.
Di tengah hutan, bayangan hitam mulai muncul, mengancam dengan kegelapan yang semakin besar dan berat. Bayangan ini tidak memiliki bentuk yang jelas, hanya kekosongan hitam pekat yang semakin menelan segala sesuatu di sekelilingnya.
Arman mencoba berteriak, tetapi suaranya tidak keluar, tidak peduli seberapa kerasnya dia mencoba. Ia merasa ada yang membekap mulutnya, membuatnya merasa sesak dan tidak bisa bernapas. Setiap langkahnya semakin terasa berat, seakan-akan ada beban tak terlihat yang menariknya ke bawah. Ia merasakan tanah di bawahnya berubah menjadi lumpur lengket, bau busuk dari lumpur yang menempel di kulitnya menciptakan sensasi yang hampir membuatnya muntah.
Di kejauhan, ia melihat seberkas cahaya, tetapi bayangan hitam itu semakin mendekat, menutupi cahaya tersebut. Arman berusaha meraih cahaya itu, tetapi bayangan gelap semakin dekat, seolah-olah siap menelannya bulat-bulat. Suara ayahnya yang semakin nyaring di gendang telinganya membuat ketegangan semakin tak tertahankan, menambah rasa sesak di dadanya.
Ketika bayangan hitam itu melompat ke arahnya, cengkeramannya semakin dekat, membuat Arman merasa seolah hidupnya akan segera berakhir dalam kegelapan yang tak terhindarkan. Dalam ketegangan yang memuncak, ia terbangun dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.
Di dunia nyata, Arman terbaring di ranjang empuknya yang mewah, tubuhnya masih basah oleh keringat dari mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Piyama sutra hitam yang dikenakannya menempel lembut di kulitnya, menonjolkan lekuk tubuhnya dengan jelas. Dia masih bisa merasakan ototnya menegang karena mimpinya. Wajah dan rambutnya basah terkena keringat, berkilauan memantulkan sinar bulan dari balik jendela yang remang dan lembut.
Kamar tidurnya yang biasanya memberikan rasa nyaman kini terasa seperti penjara. Lampu kamar tidur yang temaram menciptakan efek siluet lembut di dinding, sementara aroma linen segar dan lilin aromaterapi tidak mampu sepenuhnya mengusir rasa tercekik yang ia rasakan.
Arman duduk, piyamanya melorot dari pundaknya, menampilkan pundaknya yang lebar, dan juga basah oleh keringat. Dia meraih segelas air di samping tempat tidurnya, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. Ia meraih ponselnya, jam di layar menunjukkan pukul tiga. Masih terlalu dini untuk bergerak. Ia mengerang, mengacak-ngacak rambutnya yang basah sambil menundukkan kepalanya. Mimpi itu semakin sering muncul seiring semakin dekatnya ulang tahun perusahaan.
Arman memutuskan untuk berdiri. Keinginannya untuk menghempaskan kembali badannya ke kasur yang nyaman sangat menggodanya, namun ia tahu ia tidak akan mendapatkan istirahat yang ia dambakan karena pikirannya yang sudah terjaga. Ia menyelipkan kakinya ke sandal tidur di bawah kasurnya, dan menyeretnya dengan lambat ke kamar mandi.
Arman melepaskan piyama yang melekat pada tubuhnya dengan satu gerakan cepat. Otot-otot dadanya yang keras dan perutnya yang berlekuk terlihat jelas saat dia membuka pintu kamar mandi.Air hangat mulai mengalir dari shower, menciptakan suara gemericik yang menenangkan. Arman merasakan air tersebut menyentuh kulitnya, membersihkan keringat dan kotoran yang menempel. Dia mengambil sabun, menggosokkannya perlahan ke seluruh tubuhnya.
Dia menutup mata, menikmati sensasi air yang mengalir di tubuhnya. Tangan Arman bergerak turun ke perutnya, membersihkan setiap lekukan otot. Dia memijat pundaknya, merasakan ketegangan yang perlahan menghilang di bawah sentuhan air hangat. Setelah puas, dia membilas sabun dari tubuhnya, air membawa pergi semua sisa keringat dan ketegangan.
Arman menyandarkan kepala ke dinding shower, membiarkan air menyiram rambutnya yang basah, menetes ke wajah lelahnya dengan rahang yang tegas dan bibir yang sedikit terbuka, memperlihatkan ketenangan yang perlahan kembali. Dia menarik napas dalam-dalam, mencari kejernihan pikirannya kembali.
***
"Hari ini ada pertemuan dengan Dewan Direksi pukul sepuluh, lalu makan siang dengan klien di Hotel Grand Imperial. Dan...," Bima berhenti sejenak, ragu-ragu.
"Apa lagi?" tanya Arman dengan nada datar namun tegas.
"Hari ini juga hari ulang tahun ibu Anda."
Arman mengerutkan kening, sejenak kehilangan kata-kata. Ia benar-benar lupa.
"Sial," geramnya pelan. "Aku belum menyiapkan hadiah."
Saat mobil mereka melaju di jalanan kota yang sibuk, mata Arman menangkap sebuah toko bunga di sudut jalan. "Berhenti di sana, Bim," perintahnya, menunjuk ke arah toko tersebut.
Bima segera meminggirkan mobil, dan Arman keluar dengan langkah cepat. Ia mengernyit. Toko bunga yang terlihat dari luar tampak seperti bangunan lama yang telah melalui banyak musim. Dindingnya yang berwarna krem sedikit pudar, menunjukkan tanda-tanda usia, dengan beberapa bagian cat yang mulai mengelupas. Jendela-jendela besar di bagian depan toko memberikan pandangan jelas ke dalam, dihiasi dengan beberapa pot bunga yang ditempatkan dengan hati-hati. Papan nama di atas pintu masuk “Fiore di Luna” tampak baru saja diperbarui, kontras dengan keseluruhan bangunan.
Begitu memasuki toko bunga, aroma semerbak langsung menyergap indra penciumannya, menciptakan suasana yang sejenak membuatnya melupakan segala beban yang ia pikul. Mata Arman tertuju pada seorang gadis di balik meja kasir. Dengan tatapan skeptis, Arman melangkah ke meja kasir di mana Maya berdiri. Ia memandang sekeliling toko dengan ekspresi dingin. “Saya butuh bunga yang bagus untuk ibu saya. Apakah Anda memiliki sesuatu yang pantas untuk beliau?” tanyanya dengan datar.
Maya tersenyum ramah, meskipun merasa sedikit tersinggung dengan nada bicara Arman. “Tentu, Pak. Kami memiliki berbagai pilihan bunga yang segar dan indah. Apakah ada jenis bunga tertentu yang Anda inginkan?” tanyanya dengan sopan.
Arman memandang bunga-bunga yang dipajang. “Berikan yang terbaik. Kalian punya lebih banyak di belakang, kan? Bunga-bunga disini terlihat biasa saja.” katanya dengan nada menyepelekan.
Maya merasa jantungnya berdetak lebih cepat, berusaha menahan perasaan tersinggung. Ia tahu bahwa tidak semua orang bisa menghargai keindahan dan usaha yang ia curahkan pada setiap rangkaian bunga. “Kami bisa membuatkan rangkaian khusus yang sesuai dengan keinginan Anda, Pak. Saya yakin ibu Anda akan menyukainya,” jawab Maya dengan tenang, meskipun hatinya sedikit terluka.
Namun, Arman terus-menerus mengkritik setiap bunga yang ditunjukkan Maya. “Bunga ini terlalu kecil. Yang ini warnanya terlalu pudar. Apakah tidak ada yang lebih baik lagi?” setiap kata yang keluar dari mulut Arman seperti jarum yang menusuk hati Maya.
Kesabaran Maya habis. Ia menatap Arman dengan tatapan tegas, namun tetap tersenyum sopan. “Pak, semua bunga di toko kami adalah yang terbaik yang kami miliki. Kami selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk setiap pelanggan. Jika Anda tidak menemukan apa yang Anda cari, mungkin Anda bisa mencoba toko bunga lain,” tegur Maya dengan suara yang tenang namun penuh ketegasan.
Arman tertegun. Biasanya, orang-orang hanya tertawa dan tersenyum sambil meminta maaf. Arman menatap Maya dengan tajam. Wajah Maya, dengan kulit sehalus porselen dan pipi yang merona alami, tampak menenangkan meskipun Arman tahu dia sedang menahan amarahnya. Matanya yang besar dan berwarna cokelat terang bersinar cerah, seolah mampu menembus lapisan terluar dirinya yang biasanya dingin dan tak tersentuh. Bibirnya yang penuh dan merah alami, tampak lembut dan mengundang, menarik perhatian Arman sejenak dalam keheningan yang tiba-tiba.
Arman mengangguk pelan, “Saya tidak punya banyak waktu. Buatlah rangkaian terbaik untuk ibu saya,” katanya dengan nada yang lebih tenang.
Maya tersenyum, merasa bahwa akhirnya ada pengertian di antara mereka. Ia mulai merangkai bunga-bunga terbaik di tokonya, menciptakan sebuah rangkaian yang indah dan penuh makna. Jemari tangannya yang ramping dan terampil memilih bunga-bunga dengan kecekatan yang memukau. Aroma lembut bunga-bunga yang ia rangkai seakan menyatu dengan keharuman alami tubuhnya, menciptakan suasana yang memikat indra penciuman. Arman mengamati dengan seksama.
Setelah selesai, Maya menyerahkan rangkaian bunga itu kepada Arman. “Ini dia, Pak. Semoga ibu Anda menyukainya,” ucapnya dengan senyum tulus. Tampaknya ia sudah melupakan rasa marahnya setelah merangkai bunga.
Arman menerima rangkaian bunga itu tanpa ekspresi. “Saya harap begitu,” katanya sembari keluar dari toko bunga tanpa menatapnya.
“Kamu bisa bilang ke aku kalau cuma ingin beli buket bunga seperti ini.” Bima menyapa Arman dengan heran, saat dia masuk mobil dengan buket bunga yang besar. Arman hanya menyuruh Bima menjalankan mobilnya.
“Sudah terlambat, aku takut lupa lagi. Agenda hari ini padat.”Arman memperhatikan Maya yang menghentak-hentakkan kakinya sambil menggerutu tanpa suara, menirukan gaya Arman yang menerima buket tanpa ekspresi, lalu kembali menggerutu.
Tanpa disadari, Arman mengeluarkan senyum tipis. Bima menengok Arman dari spion untuk kedua kalinya untuk memastikan bahwa itu adalah senyum yang terbentuk dari bibir Arman, meskipun samar.
“Nampaknya agenda hari ini akan berjalan mulus,” celetuk Bima, yang menyadarkan Arman, dan kembali dengan tatapan dinginnya. Arman hanya menggeram, teringat kembali akan pekerjaannya.