Pagi ini begitu cerah, tergambar dari matahari yang menyapa kamar Rama dari celah jendela. Menghangatkan ruangan yang kendati telah di pasang pendingin suhu ruang. Rama menggeliat, perlahan membuka kelopak mata walau rasa kantuk masih melanda. Dengan terpaksa Rama harus segera bersiap untuk kembali ke Jakarta, sang anak sulung telah mengabari sedang butuh bantuan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di perusahaan si sulung. walau rasa rindu pada anak bungsunya masih belum sepenuhnya terobati. Rama menegakkan badannya dan bersender di kepala ranjang, tersenyum dengan satu fakta yang ia temukan. Sungguh tak menyangka, jika si bungsu menaruh hati pada mantan istri si sulung. Cinta tak bisa dipaksakan pada siapa akan terlabuh, seperti Alvin yang seakan buta pada Hulya yang status kasarny

