Bab 7. Apa Dia Peduli? Panggilan itu membuat Rendy kalang kabut. Dia melajukan mobilnya lagi-lagi dengan kecepatan tinggi. Bahkan ketika di lampu merah, Rendy tidak peduli harus beberapa kali menekan klakson supaya mobil di bagian paling depan segera melaju. Rendy beberapa kali mengutuk dirinya dan juga siapa pun yang menghalangi jalannya sekarang. jika dia mengelak kalau tidak khawatir, tentu saja dia sangat pandai. “Ugh! Kepalaku pening sekali,” desis Tamara ketika ia siuman. Sambil mengerjap-kerjakan kedua mata, Tamara menyapu pandangan pada ruangan asing ini. “Di mana aku?” ucapnya dengan suara berat. Dia mengangkat tangan dan melihat ada selang di sana. Yang membuat Tamara terkejut bukan itu, melainkan sosok berambut panjang yang menelungkup di tepi brankar. “Sonya,” panggilnya p

