Bab 14. Pikiran Yang Salah Kepergian Lita tidak serta merta membuat Sonya tenang. Dia yang mencoba menahan emosinya, sekarang merasakan lelah dan sudah jatuh terduduk di kursi kerjanya. Di luar masih banyak pembeli, dan Sonya tentu belum bisa melayani meskipun tadi sudah menyempatkan diri untuk minta maaf atas apa yang sudah terjadi. “Kamu nggak apa-apa?” Sonya menggeleng. Wajah Sonya masih terlihat datar, tapi perlahan napasnya mulai teratur lagi. Di ruangan ini hanya ada Sonya dan Pinkan. Pinkan cukup khawatir melihat keadaan Sonya akhir-akhir ini. Meski Sonya belum mau bercerita dengan jelas, tapi sebenarnya Pinkan bisa menebak pasti semua karena Rendy yang masih bersikap acuh padanya. Bukan hanya acuh, Pinkan juga tahu kalau Rendy terkadang bersikap kasar. “Sekarang apa lagi?” Pin

