Bab 15. Nyeri Perut Lita menemui Rendy tepat ketika dia baru saja ke luar dari gedung kantornya. Dia langsung meraih tangan Rendy dan mulai merengek, membuat Rendy tidak nyaman. “Ada apa sih!” decak Rendy. Dia menarik tangannya dari genggaman Lita. “Aku kesal dengan Sonya.” Rendy spontan menghentikan langkahnya dan menatap Lita. “Apa maksud kamu?” “Dia mempermalukan aku tadi.” Rendy memiringkan kepala. “Bicara saja yang jelas.” Lita tahu sekarang bukan saat membahas masalah ini pada Rendy. Sepertinya pria itu sedang tidak mood untuk diajak mendengarkan rengekannya. “Nggak jadi. Nggak usah dipikirkan,” ucap Lita kemudian. Saat itu juga Rendy membuang napas jengah dan kembali melangkah. “Aku pulang bareng kamu ya ….” “Terserah kamu.” Sekarang sudah pukul enam sore, kemungkinan to

