Antara ’ya dan tidak’ ternyata kupilih tidak, karena mencintaimu lagi sama saja mengulang rasa yang kembali bergejolak. *** Di ujung koridor yang menjurus pada sebuah balkon rumah sakit—Elsa duduk seraya memeluk lututnya, ia menyadarkan kepala dan menangis mengutuki kehidupannya yang makin hari ternyata semakin malang, nasib yang tak baik dan takdir yang seolah mempermainkan dirinya. Haruskah ia kembali jadi Elsa yang mudah diatur sang ibu dengan segala keluh kesah dalam dirinya. Haruskah Elsa menjadi patung hidup seperti dulu yang pura-pura tersenyum di depan kamera agar hidupnya tak mendapat penolakan dari sang ibu? Harusnya ia jadi apa agar tak serba salah di mata orang lain? Kenapa Tuhan tak menciptakannya jadi malaikat saja agar tiada salah yang akan dibuatnya. Manusia memang temp

