Bab 8 - About Z

1985 Kata
6 Tahun yang lalu, West Yorkshire, Inggris. “Kau sangat tampan, Nak. Selamat karena terpilih menjadi pasukan khusus untuk negara ini.” Seorang wanita paruh baya dengan mata abu-abunya menatap seorang pria tampan berseragam tentara. “Apa ibu akan baik-baik saja di sini?” “Ya, jangan khawatirkan ibu, nak. Kamu terpilih dan terlatih sebagai pasukan khusus, ibu sangat bangga padamu.” Wanita itu memeluk putranya dengan erat. Pria tampan berseragam tentara itu kemudian melambaikan tangannya kepada ibunya, dan berlari kecil menuju truk pasukan khusus yang akan membawanya pergi. Setelah ini, kehidupannya sebagai pria biasa akan berakhir. Ia akan menjadi tentara pasukan khusus untuk negaranya. Tapi entah kenapa, rasanya berat baginya meninggalkan ibunya di desa kecil tempat ia tumbuh hingga saat ini. Bum! Ledakan terdengar kuat saat truk yang ditumpanginya sudah berada cukup jauh dari desa tempat ia tinggal. Pria itu menoleh arah ledakan dan asap mengepul hebat dari arah desanya. “Stop! Hentikan mobil ini!” Pria itu meronta, hendak turun dari mobil namun pria berseragam sama dengannya menahannya. Truk kemudian berhenti, seorang pria tinggi turun dari samping kemudi, menenteng senjatanya dan membuang permen karet dengan sembarang. Pria tampan itu kemudian di seret turun dan berlutut. “Apa yang kalian lakukan dengan ibuku?!” mata pria itu memerah. Ia merasa ada yang tidak beres dengan pasukan khusus ini. Bukankah ayahnya yang membuat ia berada di situasi ini? Bagaimana mungkin ayahnya salah memilih pasukan khusus? Sebenarnya mereka ini apa? Apa ayahnya tidak mengetahui ini semua? “Kau tahu, untuk menjadi pasukan khusus, kau harus tidak memiliki kelemahan.” Ujar pria bersenjata itu. “Apa?” “Ibumu. Adalah kelemahanmu!” “Apa? Sialan! Siapa kalian?!” “Kami? Kau akan tahu siapa kami setelah tiba nanti.” Dor! Pria bersenjata itu tiba-tiba tergeletak. Beberapa pasukan khusus yang menyamar di truk itu kemudian dengan cepat membalas serangan tiba-tiba itu. Namun, karena si penembak yang menyerang tiba-tiba itu sangat jitu dalam menembak, beberapa pasukan khusus yang menyamar itu akhirnya roboh. Menyisakan pria tampan yang masih menangisi kepergian ibunya. Ia sudah pasrah jika ikut tertembak. Disela tangisnya, seorang pria yang berseragam seperti tentara namun serba hitam muncul, ia melepas helmnya dan masker yang ia kenakan. “Siapa kau?” tanya pria itu. “Aku? Z. Dan saat ini, kau akan bergabung dengan pasukan khusus yang sebenarnya. Kau mau membalaskan dendam kepada orang yang berbuat ini kepada ibumu bukan?” “Ya. Aku akan membalaskan dendam dengan caraku sendiri. Aku tidak perlu bergabung dengan siapapun!” “Ya, aku membebaskanmu untuk melakukan itu. Tapi, ikutlah denganku. Setelah itu kau boleh mengambil keputusan, bergabung dengan kami atau tidak.” “Kami?” “Ya. Kami. Z.I.A, Zifero Independent Agency.” ***   Zidane melongo saat tiba di lokasi pemotretan. Hotel tua bergaya klasik nan elegan menjadi tempat pemotretan kali ini. Mereka tidak menggunakan settingan studio seperti waktu itu, kali ini Get Glam memilih background nyata dan real, mereka bahkan memanggil fotografer terkenal di New York. Tak hanya Zidane, Zihan juga terperangah. Sejak ia berkarir sebagai model, ini adalah pemotretan terbesarnya. Untuk sampul majalah fashion terkenal seperti Get Glam. Hanya saja, Zihan mengutuk si empunya Get Glam yaitu Rachel. Dari sekian banyak penghuni Bumi yang bisa memiliki Get Glam, kenapa harus Rachel? Ia sungguh beruntung. Dan Zihan tidak suka itu. “Tenang Zihan. Lo punya Diaz. Rachel gak cukup baik sehingga Diaz berpaling ke lo kan?” Zihan menguatkan dirinya sendiri. Rasa tidak percayanya sering muncul disaat seperti ini. Zihan memasuki ruang ganti, sementara Zidane berjaga di depan ruang ganti. “Loh? Zihan? Ngapain di sini?” tanya fashion stylist yang kemaren di cengkeram oleh Zidane. “Pemotretan. Ngapain lagi?” “Tapi ini ruangannya Anna Marrie.” “Anna Marrie?” Zihan menelan ludah. Ini maksudnya apa? Kenapa ia bisa ada di ruangan Anna Marrie? Model cantik dan sangat terkenal sedunia karena kecantikkan dan kepribadiannya yang bak titisan dewi itu. “Oh sorry guys, lupa bilang. Anna Marrie membatalkan kontrak pemotretan ini tadi pagi. Dan ia meminta Zihan sebagai penggantinya.” Rachel muncul tiba-tiba dengan gaya angkuhnya. “Batal? Bagaimana bisa? Kontrak ini senilai milyaran!” sahut fashion stylist-nya tidak percaya. “Tanya saja kepada Laurens satu ini. Sepertinya rumor ia memiliki hubungan dengan Darrel itu benar. Karena saat ini Anna sedang berada di Milan. Menyusul kekasihnya, Darrel.” Zihan terpaku. Jadi, ini semua ulah Darrel? Anna Marrie rela memberikan tempatnya karena Darrel? Apa ia memang setidak berbakat itu sehingga selalu menerima bantuan dari Darrel untuk karirnya? Ini benar-benar melukai harga dirinya. “Sorry, sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Gue gak pernah tahu kalau gue di sini sebagai pengganti Anna. Manager gue gak bilang, dan sepertinya lo juga gak bilang itu ke manager gue. Kalau gue tahu, gue Cuma sebagai pengganti, gue nggak akan sudi ke sini.” Zihan berdiri, hendak pergi. “Mau ke mana lo cantik? Lo nggak bisa pergi seenaknya. Manager lo udah menyetujui kontrak ini. Lo tahukan, apa yang terjadi kalau lo melanggar kontrak? Lo mau Darrel buang uangnya lagi buat lo? Ayolah. Lo sangat beruntung! Lo tinggal menyediakan tubuh lo, dan ada Darrel yang memberikan semua peluang buat lo. Sungguh kakak adik yang mengesankan!” Zihan mengepalkan tangannya, kedua matanya memerah. Menahan tangis. Ia tidak terima direndahkan seperti ini. Memang ia cepat terkenal ketika memulai karir sebagai model karena ia putri satu-satunya Laurens. Zihan memulai karir sebagai model karena enggan memanfaatkan nama belakangnya itu. Dan juga karena ia enggan meneruskan perusahaan ayahnya itu, apalagi menerima bantuan atau fasilitas dari ayahnya. Namun, ini semua berbanding dengan apa yang ia inginkan. Ia lagi-lagi jatuh ke lubang yang sama. Dan nama Laurens yang selalu membantunya ke luar dari lubang itu. Rachel menarik Zihan hingga kembali ke kursi make up. “Jangan pikir untuk pergi dari sini. Lo harus profesional.” Bisik Rachel sambil menatap kaca, memandangi pantulan wajah Zihan yang terlihat sangat kesal bercampur sedih. Ia sangat puas kali ini. Kesombongan Zihan berhasil diinjaknya hari ini. “Lo tahu, gue nggak suka, lo ngusik milik gue.” Lanjut Rachel lagi kemudian pergi. Zihan sama sekali tidak terpengaruh dengan omongan Rachel barusan. Ia tidak peduli jika Rachel tahu hubungannya dengan Diaz. Ia tetap akan melanjutkan hubungannya dengan Diaz. Bukan, bukan karena cinta. Melainkan karena harga dirinya. “Lo tahu dari mana Darrel di Milan?” Rachel menghentikan langkahnya, ia kemudian berbalik, menatap Zihan yang sudah berdiri dengan tangan terlipat di d**a dan menghampirinya. “Darrel gak pernah posting apa pun disosial medianya. Dan gue gak pernah bilang ke siapapun Darrel lagi di Milan. So, lo tahu dari mana?” Zihan menatap wajah gugup Rachel dengan sinis. “Lo juga harus tahu, Anna Marrie yang titisan dewi aja Darrel tolak, apalagi titisan iblis kayak lo.” “Apa?” Rachel emosi, Zihan berhasil membalikkan keadaan, para staf hanya bisa pasrah merasakan atmosfer panas di sekitar mereka. Beberapa bahkan ada yang merekam. “Oke, sebut aja gue beruntung karena karir gue naik hanya karena gue seorang Laurens. Tapi lo jangan pernah lupa, poin terpentingnya. Bahwa gue adalah seorang Laurens yang gak bisa lo injak seenaknya!” Zihan mendorong Rachel pergi kemudian pergi. “Hah? Dia pikir dia siapa! Batalin kontrak dengan Zihan!” Perintah Rachel pada asistennya. “Tapi, gak ada model lain yang bisa menggantikan Anna Marrie selain Zihan, boss.” “Arghtt!!!” Rachel menghentakkan kakinya kemudian pergi.                 Zidane hanya bisa tersenyum lebar mendengar aksi Zihan dari balik ruangan, meski diawal ia sempat marah dan kesal karena Rachel berhasil menghina Zihan dan hinaannya itu merupakan titik kelemahan seorang Zihan. Untungnya Zihan berhasil membalikkan keadaan, serangan Rachel justru menjadi bomerang bagi dirinya. Zihan tahu bahwa Rachel pasti juga terpikat pada Darrel dan berusaha mendekatinya. Namun hasilnya selalu gagal karena Darrel sendiri membenci Rachel karena selalu mengganggu Zihan sejak Zihan mulai berkarir sebagai model.               Ingin rasanya Zidane menghampiri Zihan dan mengatakan ‘good job Zihan!’ namun gadis itu sedang sibuk pemotretan dan ia hanya bisa memandang dari jauh. Zihan menggerai rambutnya, Zidane tak paham model apa baju yang Zihan kenakan. Yang jelas, Zihan lagi-lagi memamerkan pundak indahnya. Zihan dengan lincah berpose, Zidane sampai tak mengedipkan mata melihat aksi Zihan. Zihan memang memiliki bakat sebagai model, karena wajah dan tubuhnya, serta kepiawaiannya dalam berpose. Bukan karena ia seorang Laurens, seperti penilaian orang lain. Ya, itu menurut Zidane. Tanpa Zidane sadari, entah sudah berapa kali Zidane mengagumi Zihan hari ini. Sedang asyik mengamati Zihan,  tiba-tiba terlihat seorang pria mendekati lokasi pemotretan Zihan, Zidane yang waspada langsung menghadang pria itu ketika pria itu hendak memeluk Zihan. Zidane meraih tangan pria itu dan membaliknya tanpa ampun. “Lepas! Lo gak tahu gue siapa? Gue Aaron! Gue pasangan Zihan dipemotretan ini!” Zidane tak melepas Aaron bahkan ia memiting tangan Aaron lebih keras. “Hey stop! Dia model untuk pemotretan kali ini juga!” Teriak fotografer terkenal itu. Melihat Aaron, Zihan mundur tanpa sadar, dan Zidane menyadari itu. Zihan takut. “Zihan, kalau bodyguard lo bikin ulah lagi kali ini, lo bakalan di blacklist selamanya dari dunia model ini. Gue jamin!” Teriak fashion stylist menyebalkan itu.   “Sialan.” Batin Zidane, ia akhirnya melepas Aaron, Aaron memperbaiki kerah bajunya kemudian bersiap ke ruang ganti. Usai berdandan rapi, Aaron segera mendekati Zihan. “Hai sayang, miss me?” Aaron tanpa ragu merangkul Zihan. Zihan mau tak mau tetap tersenyum karena keduanya sedang berpose. Zihan tak menjawab, ia terus melakukan berbagai pose, dan Aaron memanfaatkan itu untuk menyentuh Zihan sepuas mungkin. “Zihan, kita masih harus bicara. Lo gak bisa mutusin gue gitu aja Zihan. Fans kita banyak yang sedih kita putus.” Bisik Aaron saat berpose tengah memeluk Zihan dari belakang. Zihan tak menjawab. Aaron kemudian mendekatkan dirinya pada leher Zihan dan berpose seolah hendak mencium leher Zihan. Padahal memang Aaron ingin mencumbu leher Zihan. Aaron kesulitan mengontrol gerakannya, Zihan terlalu wangi dan menggoda. Sialan. Ia jadi menyesali perbuatannya sendiri karena ia sedang disaksikan oleh orang banyak. Ia tidak bisa terlalu mendekati Zihan. Ia harus mendapatkan Zihan apa pun caranya. Zidane mengepalkan tangannya. Lebih baik ia pergi dari lokasi ini dari pada harus melihat Zihan dipelukan Aaron. “Zidane!” Zihan memanggil Zidane saat melihat pria itu hendak pergi. Zidane menoleh dan melihat Zihan menggelengkan kepalanya dan menatapnya, Zihan meminta Zidane tetap didekatnya hanya dari sorot matanya. Dan Zidane paham itu. “Sialan. Tahan Zidane. Tahan.” Gumam Zidane. Ia pun tetap berdiri di dekat Zihan dan mengawasi gerak-gerik Aaron dengan mata tajamnya. Aaron melihat Zidane dan Zidane memanfaatkan itu untuk mengancamnya. “Bodyguard lo oke juga. Lo gak takut? Dia itu pembunuh. Dia muncul dari balkon lo, dari kamar korban pembunuhan. Lo pikir gue nggak tahu?” “Pfft.” Zihan menahan tawanya. “Iya bagus! Senyum Zihan! Tertawa lebih lepas, Aaron, peluk Zihan seperti ini dan tatap matanya ketika tertawa!” Perintah fotografer itu. “Pembunuh? Iya. Dia bisa bunuh lo kapanpun.” Ujar Zihan. “Lo liat aja Zihan. Lo bakalan balik ke gue. Lo butuh gue Zihan. Sama gue, karir lo naik. Pas putus, lo ga banyak dapat jobkan?” Aaron memutar tubuh Zihan hingga Zihan berhadapan dengannya. Ia kemudian memainkan rambut Zihan kemudian menyentuh pundak Zihan dengan lembut dengan dua jarinya. “Lo milik gue, Zihan.” Bruk! Sebuah pot bunga jatuh dari atas dan hampir mengenai Aaron. Melihat itu, Zidane dengan cepat mengamankan Zihan dalam pelukannya, menariknya menjauh dari Aaron. Sementara para crew dalam pemotretan ini bingung dari mana pot itu berasal. “Tempat ini udah gak aman. Lagian, lo fotografer profesionalkan? Masa dari tadi foto gak dapat yang bagus. Udahan fotonya. Zihan takut dan harus istirahat. Kalau tadi kena Zihan gimana? Lo mau gue hubungi Darrel? Karir lo dan semuanya bisa tamat tahu gak.” Ujar Zidane pada fotografer itu. Membuat semuanya tercengang termasuk Zihan. Zidane kemudian membawa Zihan ke ruang ganti, agar Zihan bisa segera pulang. Sesampai di ruang ganti, Zihan mengunci pintu dan memeluk Zidane dengan erat. Zihan menyembunyikan wajahnya di pundak Zidane. “Lo gak tahu seberapa jijik gue harus biarin tuh b******n sentuh gue…” Zidane membalas pelukan ZIhan. “It’s oke, ada gue. Lo gak perlu khawatir.” “Lo gak tahu seberapa susah gue nahan diri tadi. Jean sialan. Dia harusnya cek lebih detail kenapa gue dipanggil mendadak sama Get Glam. Dia juga harusnya cek apa ini foto sendiri atau couple, dan siapa couplenya. Harusnya dia cek itu!” Zihan memukul punggung Zidane berkali-kali. “Ya, nangis aja sepuas lo. Pukul aja gue sepuas lo kalau itu bikin lo lega. Peluk gue sekuat mungkin supaya gue gak keluar dan hajar Aaron habis-habisan.” Zidane mengelus kepala Zihan. Dan untuk pertama kalinya, Zidane berjanji, akan menjadi bodyguard Zihan sebaik mungkin. Bahkan, ia tak keberatan jika harus lebih lama bersama Zihan. Sementara di luar sana, Aaron menatap kepergian Zihan di pelukan Zidane dengan kesal. “Zidane? Siapa lo sebenarnya? Tunggu aja. Lo gak akan bisa main-main dengan milik gue.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN