“Han,”
“Hmm?”
“Lo mau tau gak, cara supaya lo gak terlalu takut lagi sama cowok yang bakalan nyentuh lo?”
“Apa?”
“Berhenti jadi model. Simpelkan?”
“Terus lo mau gue jadi apa? Jadi robotnya Qeenan? Selamanya di depan data-data dalam bentuk tulisan itu? Selamanya gue harus ngurusin orang lain gitu? Membosankan!”
“Lo tahu, banyak orang ingin diposisi lo.”
Zihan terdiam sambil fokus menatap jalanan. Sementara Zidane merenungkan apa penyebab Zihan sangat benci disentuh seperti itu. Ya, jelas ini karena Darrel. Zihan terlalu banyak melihat adegan menjijikan dari Darrel.
“Han.”
“Hmm?”
“Darrel punya alasan sendiri kenapa dia begitu. Gak semua cowok itu kayak Darrel atau Aaron, Han.” Zidane hampir tersedak saat berkata begitu, karena ia juga tidak ada bedanya dengan Darrel, hanya kadar mesumnya yang sedikit berbeda. Darrel jauh di atas rata-rata.
“Nyatanya, setiap cowok yang gue temui selalu b******k, Zidane. Isi otak mereka cuma… Yah, you know lah.” Zidane menarik nafas panjang. Tertampar dengan perkataan Zihan, karena sejatinya ia juga b******k. Ia bersedia menjadi bodyguard Zihan salah satu alasannya juga karena tubuh Zihan. Sialan. Zidane merasa malu pada dirinya sendiri.
“Lo cuma belum ketemu orang yang tepat, Han.” Ujar Zidane akhirnya.
Zihan terdiam. Matanya kembali fokus menatap jalanan yang sepi. Ia menatap langit yang memamerkan warna keemasan. Cantik. Senja sore ini sangat cantik. Tapi kenapa, hari ini begitu buruk untuknya?
Hal baik dan buruk datang secara bersamaan membuat hal baik tertutup rapat oleh hal buruk. Harusnya Zihan merasa senang karena wajahnya akan tampil di sampul majalah fashion bergengsi yaitu Get Glam.
Tapi, ia tak bisa pungkiri, kehadirannya hanya untuk menggantikan Anna melukai harga dirinya. Ia tahu, Darrel bersikap sangat baik padanya. Tapi tetap saja, ia tak suka cara Anna atau Darrel yang seperti ini. Lihat saja, suatu saat nanti, ia akan bisa menjadi model sampul majalah terkenal, bahkan lebih terkenal dari Get Glam. Lihat saja nanti.
“Kalau lo, kenapa jadi gay? Apa kayak Darrel? Maksud gue, apa lo pernah dikecewain sama cewek?”
Zidane terdiam. Bingung hendak menjawab apa.
“Gak usah jawab kalau susah buat cerita. Apa pun itu, pasti sangat nyakitin buat lo kan?”
“Gue begini tanpa alasan. Gue jalani apa yang menurut gue nyaman dan gue suka. Gue gak peduli apa penilaian orang tentang gue. Yang penting, gue kerja keras, dan bisa beli apa pun yang gue mau tanpa perlu mengecek label harga.”
“Dan.”
“Hmm?”
“Pinjem kepala lo sini bentar.” Zihan menarik kepala Zidane, tak peduli pria itu sedang menyetir.
“Han gue lagi nyetir!”
“Ih bentar siniin kepala lo, biar nular ke gue juga prinsip lo itu.” Zihan berusaha menempelkan kepalanya pada kepala Zidane dengan paksa.
“Gak gitu caranya bego!” Zidane menahan wajah Zihan dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang satunya lagi fokus menyetir.
Zihan kemudian tertawa karena kebodohannya sendiri. Melihat itu, membuat Zidane sedikit lega. Sifat bobrok Zihan sudah kembali. Artinya ia tidak sedih lagi. Zihan, dengan mood yang mudah berubah-ubah. Sungguh, cewek terajaib yang pernah Zidane temui.
***
Darrel masuk ke kamar hotel dengan emosi, ia melempar jasnya dan melonggarkan dasinya dengan kasar. Tak peduli pada gadis cantik yang tengah menatapnya dengan bingung. Ia langsung menuju hotel saat bodyguardnya memberi kabar mengenai Zihan.
“Lo apain Zihan?”
“Apa? Apain gimana?”
“Zihan! Kenapa lo gak jadi pemotretan dan malah minta posisi lo digantiin sama Zihan?”
Gadis cantik itu menghampiri Darrel, kemudian mengalungkan tangannya pada leher Darrel. Kedua mata indahnya menatap manik mata Darrel. Membuat Darrel tanpa sadar melunak dan tatapan amarahnya hilang begitu saja.
“Gue cuma pengen bantu Zihan.”
“Bukan begitu caranya, Anna. Lo malah nyakitin dia. Lo sendiri pernah ngerasakan, gimana sakitnya cuma menggantikan posisi seseorang?”
“Maksud lo…”
“Gak usah sebut namanya. Lo sendiri yang bersedia gantiin dia. Lo datang kehidup gue dengan suka rela. Lo bahkan rela gue dekat dengan siapa aja asal gue ijinin lo untuk tetap di samping gue.” Sahut Darrel memotong ucapan Anna. Ia tak ingin mendengar nama itu lagi dalam hidupnya.
“Iya. Gak perlu lo sebutin juga. Gue tahu. Gue serendah itu di mata lo.” Anna melepas pelukannya. Sekeras apapun ia mencoba untuk mendapatkan Darrel seutuhnya, ia selalu gagal. Darrel, dekat dengannya namun sulit untuk ia miliki sepenuhnya. Sedangkan banyak laki-laki di luar sana yang sangat ingin berada di posisi Darrel. Namun, Darrel malah menyia-nyiakannya.
“Sorry, lain kali, diskusi sama gue dulu kalau itu menyangkut Zihan.” Darrel memeluk Anna dari belakang, Anna kemudian berbalik, dan Darrel tanpa ampun melumat bibir Anna. Melampiaskan segala kekesalan dan capeknya hari ini pada gadis itu. Gadis yang selalu bersedia menemaninya kapanpun ia minta. Gadis yang sempurna. Namun malangnya, gadis itu memberikan hatinya kepada orang yang salah.
Saat sedang asyik bersama Anna, dering ponsel Darrel berbunyi. Panggilan dari Zihan. Darrel melepas ciumannya pada Anna dan mengambil ponselnya. Ia tak bisa mengabaikan panggilan dari Zihan. Zihan pasti akan mengamuk padanya.
“Ya?” Darrel berdiri menghadap jendela hotel, pria itu kini hanya mengenakan celana pendeknya saja.
“Anna. Dia sama lo?” tembak Zihan langsung. Darrel menggaruk kepalanya. Ini pertanyaan menjebak. Bagaimana kalau ia bilang tidak? Zihan pasti tahu dia berbohong.
“Err… Nggak juga.”
“Nggak juga gimana? Yang jelas!”
“Yah, dia di belakang gue. Artinya gak lagi sama gue kan?” Darrel menatap wajah cengengesannya dari pantulan kaca. Sambil berdoa semoga Zihan tidak terlalu marah padanya.
“Yee, sama aja Paiman! Artinya dia emang di Milan sama lo! Nyusulin lo! Dia lepasin kontrak senilai milyaran Darrel. Anak orang sebucin itu sama lo. Anna secantik bidadari, jutaan cowok pengen berada di sisi Anna, tapi Anna Cuma mau sama lo. Emang sih, Tuhan itu adil. Anna terlalu sempurna, makanya otaknya cuma dikasi setengah sama Tuhan.” Cerocos Zihan yang tengah berendam di bathub mewah rancangan desainer terkenal dari Italia, Bathtub yang memiliki kaki di lapisi emas dan dihiasi dengan rubi nan cantik. Zihan sangat menjaga tubuhnya, oleh karena itu ia rela merogoh kocek cukup dalam untuk kamar mandinya.
Darrel tertawa mendengar omelan Zihan. Yah, dari sekian banyak wanita yang pernah bersamanya, hanya Anna yang lumayan Darrel anggap. Setidaknya, Darrel masih menghormati Anna sebagai wanita. Meski belum menganggap Anna sebagai pasangan satu-satunya.
“But, Darrel. Gue pengen ngomong serius. Bilang sama Anna makasi, gue hargai niat baiknya. Tapi gue gak suka caranya. Gue bisa dapat job sendiri. Gue nggak butuh Anna atau lo buat nyariin gue job gede. Gue bisa, tanpa lo semua gue bisa sendiri. Please Darrel, berhenti campur tangan dengan dunia gue.”
Darrel terdiam. Zihan adalah segalanya baginya. Ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Zihan. Apapun yang Zihan inginkan akan ia berikan tanpa pikir panjang. Kecuali keinginan Zihan yang satu itu. Selama ia masih hidup, ia tidak akan menuruti permintaan Zihan yang satu itu. Yaitu setia kepada satu pasangan. Wah, Darrel bahkan tidak perlu berpikir untuk menolak itu.
“I know you’re love me Darrel. Me too.” Lanjut Zihan saat Darrel terdiam cukup lama. Ia tahu permintaannya kali ini sangat sulit untuk diwujudkan oleh Darrel.
“Hmm. Itu permintaan yang sulit, Han. Gue gak akan bisa berhenti ikut campur dengan dunia lo. Karena dunia lo, dunia gue juga.”
“Hueek!” ledek Zihan tiba-tiba membuat Darrel terkekeh.
“Gue serius Zizii…”
“Ah, stop manggil gue Zizi. Gue bukan anak kecil lagi.”
“Han.”
“Ya?”
“Perlu gue bunuh Aaron?”
Zihan terdiam. Ia sangat ingin menjawab iya. Tapi, jika ia menjawab iya, Darrel pasti akan melaksanakannya. Dan itu akan membahayakan Laurens Corp karena orang tua Aaron yang sangat bersahabat dengan ayah keduanya, Qeenan Laurens. Itu sebabnya, Zihan dan Darrel tidak bisa macam-macam dengan Aaron.
“Lo bunuh Aaron, besoknya kita berdua ditemukan mengambang di amazon.” Sahut Zihan. Kali ini Darrel yang terdiam. Betapa geramnya ia pada Aaron. Sungguh, Darrel sangat ingin menghabisi Aaron. Jika saja ia bukan dari keluarga Matthew, akan mudah menyingkirkannya. Sayangnya, Matthew dalam perlindungan Laurens, karena kerja sama kedua perusahaan. Ah, sial! Darrel meninju dinding kaca di hadapannya dengan keras. Membuat Anna yang sedari tadi mengamatinya dari ranjang, mendekat dan memeluk Darrel dari belakang. Menenangkan pria itu.
“Han, gue tutup dulu ya. Gue harus lanjut aktivitas yang lo ganggu tadi.”
“Hah? Ngapain emangnya? Lo meeting? Wait, jangan bilang lo sama Anna mau…”
“Heh, anak kecil gak boleh sok tahu. Bye, take care Zizi sayang.” Darrel mematikan panggilan. Pelukan dari Anna mengalihkan fokusnya. Ah. Dasar Darrel.
***
Klik, pintu apartemen terbuka. Diaz masuk dengan santai dan mencari Zihan. Namun yang ia dapatkan malah Zidane yang tengah berdiri sambil menatapnya. Zidane telah mengganti kemejanya dengan kaos biasa, dan celana pendek tentunya.
“Lo tinggal di sini? Kalau tugas lo sudah selesai, sebaiknya lo pergi dari sini.” Usir Diaz, menurutnya Zidane tak tampak seperti bodyguard. Orang mungkin akan berpikir Zidane adalah kekasihnya Zihan, karena wajah tampan dan maskulinnya.
“Darrel minta gue 24 jam sama Zihan.” Ujar Zidane berbohong. Diaz tidak akan berani membantah jika atas nama perintah Darrel.
“Oke. Sekarang ada gue, lo bisa pergi sebentar dan balik kalau gue pulang. Gue mau berdua sama Zihan.” Diaz hendak melangkah, namun Zidane menghadangnya sambil memberikan tatapan mengintimidasi pada Diaz.
“Gue nggak akan pergi dari sini. Gue gak akan biarkan Zihan berdua sama buaya kayak lo.”
“Kali ini gue yakin lo gay. Karena tingkah lo kayak banci.” Diaz mendorong Zidane, namun Zidane tetap menghalangi Diaz.
“Gue tahu apa isi kepala lo. Jangan mimpi untuk bisa sentuh Zihan. Zihan terlalu istimewa untuk hidung belang kayak lo.”
“Diaz?” Zihan ke luar dari kamarnya dengan menggunakan kimono dan handuk di kepalanya. Ia keluar karena mendengar keributan.
“Sayang.” Diaz segera menghambur kepelukan Zihan. Zihan diam saja, tidak berkutik. Apa ia harus memutuskan Diaz? Tidak. Belum. Belum saatnya. Ia masih perlu Diaz untuk mengendalikan Rachel.
Melihat itu, Zidane berpaling dan pergi ke kamarnya dengan hati tak menentu.
“Kenapa gue nggak rela, Zihan disentuh Diaz?” Zidane bertanya pada dirinya sendiri. Ia tak pernah melibatkan cinta sebelumnya. Karena banyaknya misi dan itu sangat berbahaya, membuat Zidane tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Zidane tidak ingin memiliki kelemahan. Zidane menganggap menjalin hubungan dengan seseorang akan menjadi kelemahannya, dan musuhnya pasti akan memanfaatkan kelemahannya itu. Tapi kenapa kali ini dengan Zihan berbeda? Padahal, ia belum lama mengenal Zihan.
“Come on Zidane. Waktu lo sama Zihan cuma beberapa bulan. Ah, apa satu bulan? Lo harus siap kapanpun Zian meminta lo untuk pergi. Lo gak bisa punya perasaan untuk Zihan.” Zidane berusaha mensugesti dirinya sendiri agar tidak memiliki perasaan yang berlebihan pada Zihan.
“Gue begini, karena naluri gue sebagai bodyguard. Gue pengen ngelindungi Zihan, ya karena gue memang seorang bodyguard.”