“Diaz sialan!” Zihan melempar tasnya saat memasuki penthouse Zidane, seolah itu adalah penthouse miliknya. Ah, Zidane memijit keningnya. Sebenarnya ia ingin melakukan banyak hal di penthouse ini. Salah satunya adalah istirahat karena telinganya saat ini dipenuhi dengan suara Zihan. Bahkan saat Zihan tidak memanggilnya saja, ia merasa terpanggil. Dan Zidane merasa tidak waras karena itu. Ditambah lagi mimpi-mimpi aneh yang terus muncul. Ia memang harus selalu mengkonsumsi pil dari Zian. Zidane sangat beruntung bertemu dengan Diaz. Ialah yang menolongnya selama ini. Dan ia akan melakukan apa pun yang Zian minta. Termasuk mengabdikan hidupnya untuk ZIA. Zihan berjalan dengan penuh emosi dan masuk ke dalam kamar Zidane. Gadis itu masih belum menyadari keberadaannya. Ia masih terlena dengan p

