"Mbak! Mbak! Mbak ... Bangun heh, udah sore!"
Damn it, dalam sekejap seperti diingatkan oleh suatu hal yang seketika pula menyadarkanku hingga terbangun penuh di tempat yang memberikan kenyamanan dari entah berapa jam yang lalu itu kini dengan refleks pula dudukan diri menjadi bersandar ke sofa yang mana di situ pula seperti tengah mengumpulkan nyawa juga hingga sedikit membuatku sadar tentang sebuah kenyataan yang terpikirkan di otak saat ini perihal apakah mungkin jika dari tadi aku tertidur? Tetapi jika memang iya ....
Bersamaan dengan itu, dengan segala kesadaranku yang seketika pula seperti diingatkan kini ku tatap ke arah sosok wanita di depanku yang ikut duduk di samping itu dalam sekejap pula tampak tersenyum hingga membuatku mengalihkan pandangan kearah sekitar sebelum setelahnya tangan kanan dan kiri ku juga terangkat penuh mengkucek-kucek mata yang terasa pedih kepala yang berat seperti ingin melanjutkan tidur?
"Bunda?!" panggilku bingung sendiri. Masih dengan seolah-olah mengumpulkannya wa penuh agar terkumpul kini ku tatap sosok wanita di hadapanku ini dengan gelengan tipis yang berusaha menghilangkan segala rasa kantuk di diri yang mageran ini.
"Apa? Tidur hmm kamu? Tidur siang terus nggak capek kamu mbak? Bukannya nggak boleh Bunda bukannya enggak ngebolehin dan bakal marah sama kamu itu enggak cuman ya gimana ya intinya itu kaya nggak pusing kamu hmm. Nggak pusing kamu mbak? Tiap hari badan kamu dibuat tidur terus."
"Eumm, maaf Bun. Bahkan Laras aja nggak sadar kalau misalkan tadi tidur orang ingat Laras juga cuman rebahan gitu duduk mainan hp kan tadi terus ada mas Rega ke sini itu sudah habis itu kok ada sadar udah tidur dibangunin sama bunda nih barusan ini kalau nggak juga nggak tahu kan Laras masih tidur. Ya kalau dibilang capek apa nggak sih sebenarnya capek Bun tapi ya kan bunda tahu sendiri aku juga bingung mau ngapain, kalau misalkan mau kerja juga kan udah tahu sendiri aku udah masukin lamaran ke berbagai tempat berbagai ini pasti cuma dipanggil aja ujung-ujungnya nggak keterima ya mungkin emang belum jalannya aja kali ya Bun. Tapi ya capek juga sih sebenernya mau tidur mah ini itu udah bosen tapi nggak tau juga mau ngapain, lain kali kalau misalkan ketahuan aku mau tidur dibangunin aja Bun. Atau enggak kalau misalkan udah tidur duluan kayak gitu, dan aku nggak sadar ya pokoknya di jam-jam yang nggak wajar kayak gini bangunnya aja Bu nggak apa-apa biar aku juga nggak kebiasaan. Juga kalau kebiasaan itu lama-lama susah juga dibilangin jadi nggak apa-apa lain kali bangunin aja ya Bun maaf juga kalau misalkan anakmu ini cuma bisa jadi beban keluarga terus belum bisa bahagiain keluarga ya pokoknya masih aja beban ini udah kayak gini."
Yah memang benar, terkadang aku jika sudah diusik seperti ini oleh bunda bahkan semua jiwa-jiwa yang ada pada diriku tentang ketiga enak kan pasti akan muncul ke permukaan begitu saja seperti tanpa dia badan seperti terkuak semuanya segala beban beban yang kuberikan kepada mereka seperti sekarang ini. Bahkan aku sendiri pun lelah tapi bagaimanapun juga aku saya ingin menyerah walaupun aslinya aku ingin sekali berpasrah pada keadaan tapi juga itupun tak mungkin juga kau lakukan karena sejatinya hidup di dunia ini juga untuk berproses bukan untuk melepaskan apalagi sampai menyerah karena keadaan yang tak sesuai dengan keinginan.
Lebih-lebih mengingat hal ini mengingat keadaanku saat ini dan mengingat semua hal yang sampai kepergok oleh bunda beberapa detik yang lalu itu jujur membuatku malu bukan main karenanya. Di belakang bunda mungkin aku bisa seolah-olah baik-baik saja tapi jika sudah di hadapan bunda semuanya pasti akan terkuak kembali segala kegelisahan dan segala hal yang kupikirkan selama ini dan tentang semuanya yang selama ini ku pendam tapi di hadapan bunda aku lemah. Bahkan bisa dibilang sangat lemah tapi aku sendiri juga tak mungkin bisa untuk berterus terang karena kenyataannya selama ini walaupun aku lemah tapi itu hanya tentang pikiran dan otak juga rasa di hati yang rasanya terganjal oleh segala rasa ketidak enakan padanya tapi tak bisa ku lontarkan sedikitpun karena aku juga tak mungkin memberikan segala keluh kesahku kepadanya sedangkan selama ini aku sudah menjadi beban untuknya belum bisa membahagiakannya sama sekali apakah sepantasnya aku boleh bercerita semuanya kepadanya? Tidak, aku pun masih punya rasa hati untuk sadar diri.
Bahkan menyadari tatapan bunda juga senyuman yang terlantarkan saat ini yang merasakan ucapanku tadi juga dengan tangan kanannya yang lembut membelai rambutku yang tak tertutup oleh jilbab sama sekali saat ini membuatku mengalihkan pandangan ke arah lain yang berlawanan dengan keberadaan bunda saat ini karena sungguh tak kuat aku menahan semuanya sampai sebuah deheman kecil berhasil membuatku mengeataskan bola mataku tanpa menoleh kearah bunda seolah ingin menahan benih air yang ingin keluar dari mata ini. Dan ku relakan nafas dengan berat tanpa sepengetahuan bunda sedetik setelah nya aku berhasil kembali menatap ke arah bunda dengan senyuman yang berusaha kulontarkan agar seolah-olah dirinya tau aku hanya mengantuk saja.
Jujur tak apa jika bunda berpikir seperti itu bawa aku yang pemalas dan lain-lain karena memang untuk saat ini mungkin aku memang sosok seperti itu tapi tanpa diketahui oleh nya penuh dan tanpa diketahui oleh kakakku bahkan ayah pun sebenarnya aku menyimpan semua pikiran-pikiran yang tak bisa ku ceritakan secara langsung atau bahkan terang-terangan kepadanya entah sampai kapan aku sendiri pun tak tahu.
"Ha iya nggak bisa dong Mbak orang kalau ngantuk juga kan kalau misalkan disuruh bangun ma berat gitu. Nggak apa-apa tidur juga nggak apa-apa, masa nggak boleh orang juga kamu sekarang ngantuk dipaksa buat mereka juga nggak bisa sama aja kayak misalkan orang lagi tidur diganggu juga nanti ada kagol malah berabe lagi urusannya. Udah nggak apa-apa juga mbak, tapi nih ya berhubung sekarang udah sore mandi kamu mandi bersih-bersih badan terus habis itu temenin bunda yuk ke depan sana ke depan komplek bunda mau beliin jeruk lagi kepengen jeruk nih mbak. Kayaknya seger deh. Mau ya?!"
Mendengar itu sontak saja aku menganggukan kepalaku dengan penuh soalnya iyakan dan menyetujui atas apa yang diinginkan oleh bunda itu, seulas senyuman dari arah 2 sudut bibirku pun juga terpancar karena mendengarnya setelahnya udah pagi juga sebuah respon senyuman bahagia dari sosok itu yang menentramkan diri dan hatiku. "Iya bunda siap, kalau gitu aku mandi dulu ya nanti kalau misalkan udah mandi aku udah deh ya pokoknya nanti Laras cariin deh bunda yah. Asal bunda juga nungguin nya di sini aja atau di kamar atau di depan sana juga boleh yang penting jangan di luar rumah lah nanti aku bingung sendiri lagi ya Bun ya."
"Iya sayang iya ... Udah sana gih mandi!"
'Yang bener aja sih, jadi dari tadi tuh aku ngimpi doang? Ya Allah bisa-bisanya aku ngimpi di siang bolong kaya gini? Asli aslinya kalau bisa kalau bukan Laras ya enggak banget gitu aku kira udah malam ya berasa nyata banget tapi nyata kan cuma mimpi sih. Ya Allah .....'
****