bc

Apa Kabar, Boy?

book_age18+
336
IKUTI
1.1K
BACA
like
intro-logo
Uraian

"Mengenalmu adalah sebuah anugerah terindah yang pernah tuhan berikan padaku soal kasih dan sayang pada sesama makhluknya, tapi semakin berjalannya waktu. Kini aku semakin paham akan arti yang sebenarnya tentang hal itu, banyak terkaan-terkaan yang sering kuberikan akan semuanya. Meskipun aku tak tahu itu benar atau tidak tentang itu, hanya satu pintaku. Entah pada siapa hati ini akan berlabuh nantinya, pada siapa jiwa dan raga ini memilih tambatan hati yang pas, dan entah dari siapa pada akhirnya akan kudapati luka dalam tentang hal ini. Aku tak mengapa, ucapan terimakasih pasti akan kuberikan pada kamu, dia, ia, atau bahkan entah siapa yang nantinya akan kudapatkan. Satu yang pasti dan tentu terjadi, kabarmu sampai saat ini masih kutunggu walaupun banyak ketidakpastian di sini. So, apa kabar Boy? Sudikah engkau tahu semua ini? Tak apa walaupun tanpa jawaban. Setidaknya dari situ aku tahu caranya bersikap yang sebenar-benarnya akan kehadiranmu dan orang-orang yang nantinya akan menggantikanmu entah satu atau dua kali setelah benar-benar kudapatkan yang pas di hati."

chap-preview
Pratinjau gratis
Udahlah Ras!
"Pada dasarnya bentuk pengharapan paling tenang adalah hanya kepada-Nya, pada dzat-Nya yang selalu lebih tahu akan apa yang sebaik-baiknya terjadi pada kita dan yang sebaik-baiknya kita lakukan di dunia ini. Mungkin kita tak tahu atas apa maksud dengan kehendak-Nya, atas tujuan dan semua yang diturunkan pada kita di dunia ini yang memaksa kita juga untuk bisa melewati semuanya dengan baik dan benar. Tetapi percayalah bahwa takdirnya adalah sebaik-baiknya takdir untuk kita, berharap ada orang memang berujung menyakitkan tetapi berharap kepada-Nya tak akan pernah bisa mengecewakan kita. Meskipun kita terlalu banyak dosa kepada-Nya, meskipun kita tahu bahkan sangat paham dengan diri sendiri yang selalu melakukan hal-hal buruk di dunia ini tetapi percayalah bahwa pengharapan kepadanya itu harus kita lakukan di atas semua hal yang ada di dunia ini. Saat mengeluh semua memang terlihat sangat menyakitkan seolah dunia dan kenyataan tak memihak pada kita sepenuhnya, tetapi saat kita bersabar jadinya kita akan mendapatkan hal yang lebih lagi atas apa yang kita lewati saat ini. Harapkanlah semua pengharapanmu pada-Nya, karena ujung pengharapan yang tak mengecewakan hanyalah dari-Nya semata." -Laras. ***** Di ujung kamar sana Laras berada, menatap ke arah luar jendela kamarnya sana yang menampilkan indahnya pemandangan dimalam hari seperti sekarang ini. Ditemani dengan udara dingin sedikit menelisik ke pori-pori kulit gadis itu, sebuah cardigan yang dikenakan pun ia benarkan dalam sekejap menutupi bagian depan dari badannya itu. Helaan nafas panjang pun kembali terlontar darinya, "Ya Allah! Sampai kapan aku harus seperti ini terus? Berusaha bersikap baik-baik saja tapi kenyataannya aku pun tidak dibuat baik-baik saja oleh diri dan juga hati ini. Ingin sekali rasanya aku melupakan tentangnya, tentang perasaan yang mungkin memang salah tempat aku titipkan seperti sekarang ini. Tetapi bagaimana lagi jika pada kenyataannya aku pun juga tak bisa menyalahkan diri karena ego atau bahkan karena ambisi semata untuk mendapatkan raga juga cintanya?" Fyuh .... Lagi dan lagi Laras membuanh nafasnya penuh, pandangan itu dialihkan sejenak ke arah dalam kamar sana. Lantas kembali ke arah jendela, dan menata kembali seolah menikmati segala pemandangan yang yang disajikan oleh alam dari penglihatannya itu. "Argh ... Pengen move on aku tuh, tapi susah banget ...." Greget, dan tak tahu lagi harus bagaimana. Laras hanya bisa mengacak-acak rambutnya penuh kegelisahan seperti sekarang ini. Dug! Kepalanya pun terhantam jendela tiba-tiba. Membuat Laras meringis pedih namun segera ia sudahi segala rintihan lebaynya itu. "Asli deh, lama-lama aku tambah gila kaya gini mah!" tukasnya brutal. Tanpa basa-basi lagi Laras pun kembali menatap ke arah luar sana gimana pemandangan malam kembali ia lihat penuh dari arah penglihatannya. Dia benarkannya posisi duduk gadis itu sekarang, kepala yang tadinya terbentur itu pun kini ia sandarkan dengan perlahan ke arah samping jendela sana. Ia sanggakan pada tembok yang jelas masih bisa membuatnya menatap penuh ke arah luar sana seolah menikmati dan meresapi segala kesunyian juga keberadaan malam yang memang selalu membuat Laras tertampar dan tertindas secara keras-keras oleh kesadaran nya yang tiba-tiba pulih total seperti sekarang ini perihal percintaan juga perihal dirinya yang selalu berharap pada sesuatu yang tak pasti seperti sekarang ini. Mata lentik itu masih setia menatap ke arah sana lurus tanpa teralihkan sedikitpun. Batinnya sekarang penuh dengan segala ketidak jelasan juga dengan segala bentuk aksi anarkis nya yang sok mendramatisir kan isi hati dengan kenyataan yang ada. 'Aslinya sakit, kecewa, dan marah dengan keadaan. Tapi kita tak bisa menyalahkan semuanya terus menerus. Dunia ini berputar terus, roda kehidupan pun tak selamanya di atas juga di bawah. Semua hanya permainan waktu. Sedang didewasakan oleh kenyataan itu lah yang harus ada di pikiranmu saat ini. Sedang dibiasakan oleh kenyataan itu adalah cara Tuhan mengistimewakan mu. Sedang dihadapkan dengan hal-hal yang menakjubkan itu adalah kehendaknya yang membuatmu semakin tinggi harga dirinya. Semua ini hanya tentang cara Tuhan mendewasakan dirimu, mengujimu, dan hanya tentang cara Tuhan yang memperlakukanmu untuk dirimu sendiri.' "HAH!" Dibuangnya keras-keras nafas Laras saat ini, kedua tangan itu kini kembali mengacak-acak rambutnya penuh. Membenarkan posisi duduknya dengan segera lantas kembali disibukkan dengan diri yang kembali teringat pada hal miris yang sedari tadi dipikirkannya. "Apa tadi? Cara Tuhan memperlakukanmu?! CK! Laras ... Laras ... Cinta emang butuh diri yang dewasakan? Dah lah, ribet banget asli soal cinta mah!" Bruk! Secepat kilat, badan itu kini sudah terhempas penuh ke atas kasur setelah sebelumnya sempat ia dengan segala tidak santainya juga dengan segala keterbatasan perusahaan yaitu Laras bangkit dari dudukku dan berjalan ke arah ranjang tempat tidurnya dan berakhirlah seperti sekarang ini. Ia hanya bisa menatap langit-langit kamarnya dan meninggalkan jendela kamarnya yang masih terbuka setengah di ujung kamar itu. 'Teruntuk kamu yang tak pernah bisa aku rengkuh raganya, yang hanya bisa ku peluk angannya tanpa bisa memiliki sepenuhnya. Bolehkah aku kembali berharap lagi? Bahwa keadaan akan mempersatukan kita dengan takdir indahnya?! Semuanya memang abu-abu, keadaan tak pernah mempersatukan kita, keadaan tak pernah mendukung kita bersama. Tapi, bukankah takdir juga kehendak-Nya tak mungkin bisa dielak lagi? Mungkin saat ini kau berlari segitu jauhnya dariku, tapi percayalah semuanya tak membuatku mundur yang justru malah membawaku semakin ingin memilikimu seutuhnya. Aku egois? Mungkin saja, tapi jangan salah keegoisanku ini. Tapi entahlah apa berakhir bahagia ataupun berakhir aku ya memang harus melupakanmu sampai ke intinya sana. Ingatlah, bawa kamu masih menjadi pemilik tahta tertinggi hati yang mudah rapuh ini.' Sejenak Laras menatap ke arah samping, menatap ke arah lain dimana keberadaan bantal dan guling berada saat ini. Diambilnya segera lantas dipeluknya penuh sampai fokusnya pun kembali teralih saat kembali menatap ke arah depan sana dengan tatapan setengah kosong yang dilakukannya. Merebah penuh dengan badan yang tengkurap di sana lantas membuang nafasnya kembali dengan kasar. 'Mungkin aku bodoh? Argh ya iya memang aku bodoh karena kamu. Masih berani mencintai padahal kenyataannya engkau pun takkan pernah bisa ku genggam tangannya. Mungkin aku terlalu ambisius untuk memilikimu, terlalu egois terlalu memaksakan takdir sedangkan di antara kita perbedaan jauh membentang di dalamnya. Dulu memang itu ku pikirkan matang-matang, tapi kini aku sudah ber bodo amat dengan keadaan. Tapi sama aja, rasanya semua ini terlalu berlebihan untukku dan kesehatan hatiku sendiri. Fiuh ... Harus dengan cara apa coba aku melupakan semua ini? Sedangkan takdir pun semuanya sudah bergaris dengan sendirinya. Lantas, apakah pantas juga aku terlalu menuntut banyak? Argh entahlah pusing ... Kenapa menjadi diriku itu tidak seenak menjadi orang lain sih? Kenapa tidak aku tuh sama seperti mereka yang apa-apanya tuh gampang dimiliki. Hmm tapi makin kesini aku juga makin sadar sih sebenarnya kalau misalkan semuanya itu tuh pasti ada sisi baik dan buruknya juga dan pasti semuanya itu juga ada konsekuensi yang ya bisa dikatakan pas juga kayak apa ya. Mungkin lebih bisa dibilang tuh kayak segala sesuatunya itu ada maksud dan tujuan diberikan ke seseorang. Fyuh sabar Ras ... Semangat!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
65.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook