Berakhir bahagia denganmu adalah sebuah keinginan yang terpendam. Tetapi tak memilikimu bukanlah masalah yang besar asalkan kau masih tetap ingat namaku walau hanya panggilannya saja.
Aku tak minta banyak hal darimu, cukup ingat aku bahwa aku pernah ada di hidupmu Meskipun aku pun tak pernah dekat denganmu Itu saja sudah membuatku bahagia walau kau tak sadar. Selamat jumpa di penghujung takdir yang masih abu-abu ini.
Aku selalu berharap semoga kita bisa dipersatukan di kemudian hari tanpa segala keraguan di dalamnya sana.'
Kembali, helaan nafas panjang terlontar dari diri Laras dengan pandangannya yang masih saja menatap penuh ke arah langit-langit kamarnya sana. Otaknya berpikir keras akan kebodohannya sejauh ini, hatinya berkecamuk hebat karena ketidakmampuannya untuk membasmi segala rasa yang mungkin memang salah tempat ini. Otaknya ingin melupakan, namun hatinya berkata,"Tidak dulu! jangan move on!"
Lantas, ia harus bagaimana? Terjebak pada keadaan seperti ini terlalu sakit jika harus diingat-ingat terus menerus.
'Nyatanya bibir ini berucap tidak akan kerinduan. Tapi otak dan hati ini seolah menolak semuanya bahwa aku justru merasakan hal yang lebih dari sekedar kerinduan. Namun kenyataan ini kembali menghantam bahwa kita memang tak kan pernah bisa saling menggenggam. Aku memang tak tahu lagi harus dengan cara apa menghilangkan semuanya seperti tujuan awal ku yang selalu ingin melupakanmu tanpa melukai perasaan ku lagi. Perasaan ini memang sudah hilang, itu dulu! Seperti ucapan yang selalu aku lontarkan namun pada kenyataannya semua sama saja karena aku masih saja mengingatmu dan segera keterdiaman ku. Perihal melupakan mungkin aku ahlinya berucap, tapi tidak dengan ahlinya bertindak.
Perihal mencintai mungkin aku lah ahlinya berharap, namun tidak untuk ahlinya mengejar.
saat semuanya tak sejalan dengan ekspektasi mungkin aku hanya bisa termenung tak jelas meratapinya. Tapi di situ seakan aku hadir di tengah-tengah kepercayaan juga kepasrahan akan semuanya yang menamparku dalam dalam.
Aku tak pernah bisa hadir untukmu selalu, aku tak pernah bisa mencarimu setiap saat tapi aku bisa merindukanmu dan mendoakanmu setiap waktu di pertambahan detiknya. Hanya untuk kisah di masa lalu yang kuharapkan bisa berlanjut di masa depan meskipun terhalang oleh masa sekarang ia menjauhkan kita dengan jarak yang sangat membentang.'
"Hadeuhhh ya Allah ... Sampai bingung aku harus kaya gimana lagi saat ini. Fyuh ...."
Kembali Laras membalikkan badannya ke samping, menatap sebuah meja belajar yang seolah-olah sudah sangat lama tak pernah dia anggap lagi keberadaannya semenjak ia lulus sekolah menengah atas. Sebuah guling masih didekapnya penuh-penuh, rambut panjangnya bahkan sudah mulai tidak berbentuk lagi karena segala aksinya sedari tadi yang tak bisa diam sama sekali. Helaan nafas panjang pun kembali ia lontarkan sembari dengan penuh-penuhnya ia menatap ke arah depan sana lurus.
"Hadeuh ... hai diri yang pernah membuatku jatuh karena cinta berkali-kali tapi juga membuatku hadir dengan pengharapan yang luar biasa secara berkali-kali. Engkau mungkin tak tahu jika pada kenyataannya aku diam-diam selalu mendoakanmu, berharap bahwa kita akan dipersatukan di kemudian hari dan berharap bahwa kita akan bisa didekatkan tanpa sebuah jarak yang membentang lagi di antara kita. Mungkin ini memang lebay dan mungkin ini terkesan membuang-buang waktu saja.
Tetapi bukankah menyukai itu hak semua orang? Dan mungkin inilah aku yang selalu menyukaimu dan mengharapkanmu juga selalu berdoa akan kehadiranmu yang bisa dekat denganku dan memiliki seutuhnya sebagai pasanganmu yang mungkin akan membawa kita ke jenjang yang lebih serius lagi. Mungkin ini terkesan terlalu memaksakan takdir, tapi bukankah kamu tidak ada salahnya juga jika aku mengharapkan sesuatu yang lebih atas apa yang sudah membuatku bahagia walau tak pernah disadari oleh sang empunya tingkah tetapi aku selalu mendoakan agar masa itu bisa datang kepada kita. Kita yang kini masih menjadi aku dan kamu karena jarak dan keadaan juga kenyataan yang kini mungkin belum bisa mempersatukan kita. Jaga diri baik-baik ya ganteng, aku tahu di balik semua kejombloanmu itu mungkin engkau sedang mencari seorang wanita yang lebih baik dan mungkin bisa mengisi hari-harimu seperti apa yang engkau standark-"
"Eh?!"
Seketika Laras tersadar, entah ada angin apa di sana. Tetapi yang jelas, ia bahkan tak tahu menahu akan semua hal di sini. Atas semua hal yang ia rasakan saat ini, juga atas semua hal yang tiba-tiba membuat jiwa-jiwa kebucinannya meronta-ronta dengan hebat. Badan itu bahkan langsung terduduk dalam sekejap, sebuah guling yang sebelumnya ia peluk erat erat dengan segala lamunan ketidakjelasan itu kan ini bahkan sudah berada di sampingan persis tanpa sebuah pelukan erat yang dilakukan oleh Laras seperti sebelumnya.
"Ih, aku apaan sih? Masa tiba-tiba mikir kayak gitu sih Astagfirullah ... masa tiba-tiba juga aku kayak malah bilang ini itu tentang dia dan ya ujung-ujungnya mah buat aku nggak jelas sendiri kayak sekarang ini."
"ARGHHHHHH ... SUMPAH DEH HARUS GIMANA SIH AKU CARANYA BIAR BISA NGELUPAIN DIA BIAR NGGAK INGET-INGET DIA TERUS ATAU BELAKANG KEINGAT YA ATAU APA GITU LAH ISTILAHNYA. HUEEEEEEE AKU CAPEK HIKS!"
Dengan segala ke tidak penuh perasaannya Laras bahkan menggosok asik rambut panjangnya itu penuh, Hembusan napas kasar kembali dilontarkan oleh Laras lagi dan lagi di detik sekarang ini dimana pandangan matanya kini ia alihkan ke arah samping dengan tangan yang memijat keningnya penuh serta dengan diri yang tak bisa berpikir jernih lagi atas apa yang selama ini merasuk dan menjelma begitu saja mengubah dirinya dan bahkan membuat dirinya sendiri tanpa bingung 180 derajat setelah perasaan ini ada dan setelah perasaan itu sampai sekarang masih membekas tanpa permulaan sama sekali. sampai beberapa detik atau bahkan bertahan sampai kesekian detik setelahnya belum berakhir ia yang hanya bisa menghelakan nafasnya kasar kasar.
"Asli deh, kenapa sih padahal aku juga nggak pengen punya perasaan ini. Asli deh, kalau ditanya mau atau nggak punya perasaan ini yang bisa dibilang aku suka sama dia tapi nyatanya dia nggak balik suka sama aku terus enggak ada kepastian nggak ada kejelasan dari pokoknya nggak ada semuanya lah istilahnya ya. Danberujung aku yang tahu kayak gini jadinya dan malah aku sendiri yang cuma bisa sakit hati sendiri-sendiri kesel sendiri dan pokoknya semuanya tentang sendiri apalagi tentang cinta ini yang enggak mungkin memang bisa dibalas sama Dia alias bertepuk sebelah tangan aja aku pun juga nggak mau perasaan ini ada. Hadeuh Astagfirullah ... tapi ngomong-ngomong sampai kapan ya perasaan ini ada. Sampai kapan gitu aku jadi korban dari penjajahan hatiku sendiri dari perjalanan yang salah jalur dan dari perasaan yang mungkin emang salah tempat ini?!"