'Perihal sempurna, mungkin aku bukanlah orangnya. Tetapi perihal menyempurnakan Insya Allah aku lah sang pelakunya. Mungkin keinginanku belum tentu engkau ACC, mungkin keinginanku juga belum tentu engkau aminkan meskipun kita amin tapi aku sendiri bahkan tak tahu perihal siapa yang selama ini engkau aminkan dan perihal siapa yang selama ini kau harapkan. Perihal mendoakan mungkin aku adalah suatu sosok makhluk hidup yang tak pernah lelah untuk mendoakanmu, yang tak pernah lelah berharap padamu tapi lambat laun pengharapan itu menuntunku untuk berharap kepada sang pencipta-Mu agar kita memang bisa dipersatukan bersama di kemudian hari tanpa ada banyak jalanan terjal yang mungkin akan kita lalui. Walaupun itu memang terlalu klise untuk dipikirkan, tapi bukankah takdirnya adalah sebaik-baik takdir? Bukankah kita boleh meminta kepada-nya? Bukankah kita memang boleh berharap kepada makhluk ciptaanNya tetapi kini aku sadar bahwa pengharapan itu yang terbaik adalah hanya kepadanya. Meskipun yang kuharapkan adalah penciptamu, tapi aku selalu menghadirkan namamu di dalamnya karena aku tahu kebahagiaan yang sementara ini yang sering datang tanpa sengaja ataupun memang disengaja oleh mu tapi aku yang tak tahu ataupun alasan lain yang mungkin aku sendiri pun tak bisa terlalu menyimpulkannya sendiri. Aku hanya berusaha meminimalisir semuanya agar tak terlalu bahagia dengan kebahagiaan yang mungkin hanya sementara ini, karena aku percaya dan sangat percaya jika suatu saat jika memang kita ditakdirkan untuk bersama maka jalannya Allah yang akan mempersatukan kita dengan sebaik-baiknya skenario yang dirancang oleh-Nya dengan segala ridho-nya juga untuk kita bisa bersama ....' batin Laras menggantung.
Di tempatnya saat ini gadis itu masih termenung tanpa kejelasan, di tempat itu pula sosok gadis bernama Laras itu masih saja sedikit melamunkan sosok laki-laki yang pada kenyataannya masih aja lurus diharapkan tanpa berbelok sedikitpun bahkan untuk membalas perasaan seseorang yang ada di samping kanan dan kirinya dan seseorang yang mungkin besok baru dalam hidupnya itu sangat sulit untuk dilakukan oleh gadis itu.
Mencintai adalah hal yang wajar,dicintai adalah hak semua orang tetapi Jika mencintai hanya bisa dilakukan oleh satu pihak tanpa ada belasan dicintai balik sosok itu. Apakah semua orang akan bisa kita harus berlaku demikian untuk kesekian kalinya bahkan untuk ke sekian ribu kalinya ia berusaha biasa-biasa saja tapi aku yang dilakukan Laras selama ini perihal hati, otak, keinginan, dan segala ekspektasi ekspektasinya yang pada kenyataannya pulang tak satupun yang terkabul saat ini. Mungkin saja suatu ketika tercapai tapi bukankah manusia itu ada tempatnya seorang makhluk yang paling lemah? ya memang demikian sampai dia sendiri pun tak tahu harus bagaimana hanya bisa diam, diam, diam, bahkan diam terus menerus entah sampai kapan dan entah sampai harus berapa milyar bahkan triliun sabarnya ia menunggu segala ketidakjelasan yang Laras ciptakan sendiri perihal perasaan itu.
"Hmmmmm, tau ah puyeng. Ribet banget emang soal perasaan mah. Kalau dibahas juga nggak akan ada habisnya, terus kalau diharapkan terus juga tidak akan ada apa ya istilahnya kayak nggak akan ada apa ini juga Karena kan udah berharap pasti seseorang juga bakal bodoh jadinya malah kayak aku kayak gini. Tapi kalau dipikir-pikir emang susah sih perasaan terus kayak gini, tapi ya gimana lagi namanya juga kan manusia orang paling lemah soal perasaan juga paling lemah. Dah gitu kalau nggak ada balasan kan tambah nyesek sendiri kan yah? But, ya udahlah mungkin emang jalannya percintaanku kayak gini harus ribet-ribet dulu sebelum ketemu sama satu orang yang memang benar-benar gelap banget di hati ya walaupun aku nggak tahu sih siapa terus juga masih aja aku yang bodoh ini mengharapkan dia yang gak peka-peka aduh ya Allah ya Allah ya Allah ... ribetnya ...."
"Perihal bahagia sejujurnya aku pun tak mau terlalu mengumbar, tetapi aku sudah lebih dulu dikalahkan oleh diriku sendiri yang tak bisa menahan kebahagiaan ini datang yang berujung membuatku gila sendiri karenamu. Semoga jika memang benar ini ada sebuah kemajuan yang lebih baikJangan pernah kau beri sebuah kesakitan yang mungkin akan mengalahkan kebahagiaan ini. Engkau datang membuatku bahagia secara tiba-tiba, tapi tolong jangan pernah engkau pergi dengan kesakitan yang tiba-tiba pula kau torehkan tanpa sengaja untukku. Mungkin aku tak tahu arti dan maksud mu sebenernya tentang semua ini, tetapi diriku sudah terlanjur nilai berbeda tentang kebahagiaan ini. Semoga saja kedepannya engkau semakin peka terhadapku, semoga saja kedepannya kita memang dipersatukan bersama walaupun memang sekarang jarak masih membentang diantara kita. Sebuah kenyataan membuatku bahagia luar dalam karenamu yang datang tiba-tiba ini. Sebuah kenyataan membuatku berfikir bahwa akankah ini sebuah kemajuan yang sangat indah? Atau ini adalah sebuah kemajuan yang membuatku bahagia sejenak sebelum setelahnya harus kuhadapi segala kesakitan yang luar biasa karena luka yang kau torehkan tanpa sengaja? Perihal rasa mungkin aku memang bukan ahlinya berucap, tetapi perihal menyimpan dan diam-diam menyukai nya adalah aku yang seorang ahli dalam hal ini. Perihal bahagia yang tiba-tiba kau berikan untukku semoga tak pernah menorehkan luka dan kekecewaan yang mungkin akan aku dapatkan setelah ini. Dan semoga perihal kenyataan memang akan membawaku lebih dekat denganmu walau begitu sangat berjalan lambat."
"ARGHHHHHH DAHLAH PUSYING ....."
Eh tapi kalau dipikir-pikir terlalu nggak sih kelakukanku selama ini? Terlalu lebat apa engga gitu loh, keknya kelebihannya itu gara-gara cinta jadi terlalu ini gituloh takutnya sih. Brrrr dahlah pusing!
Kini, aku bukan lelah menyebut namamu disetiap sujudku. Bukan masalah aku yang menyerah atau bahkan berusaha hebat melupakanmu. Juga bukan pula aku yang sudah membiarkanmu pergi begitu saja tanpa bisa ku genggam tangannya. Tapi kini, adalah masa dimana aku yang sudah mulai mengikhlaskanmu dengan sebenarnya. Ikhlasku akan kehadiran dan kepergianmu karena aku yang tak mau terlalu mencintai ekspektasiku sendiri seperti dulu-dulu lagi. Sejatinya, yang terbaik pasti akan Allah berikan bukan? Dan aku percaya jika kamu memang yang terbaik pasti akan Allah dekatkan padamu dengan cara indahnya. Dan perihal memikirkanmu, sampai saat ini aku masih bertahan dengannya walaupun aku tak tahu akan berakhir bahagia atau terluka. Ya Allah, jika memang dia adalah titik terakhir perjalanan hatiku ini. Berikanku kesabaran untuk menanti kehadirannya, berikan aku keikhlasan juga berikan aku petunjukmu agar aku bisa berhati-hati menjaga hati. Capek itu wajar, apa lagi capek karena urusan sendiri ditambah lagi urusan percintaan yang sama sekali belum bertemu ujungnya ini.
tapi ingatlah, memperbaiki diri itu juga perlu agar di saat yang tepat kita sudah dihadirkan dengan sosok yang tepat yang mampu memberikan kita cintanya tanpa syarat dan mampu membuat kita sebaik-baiknya aku di hatinya juga dengan bersama kita yang kita pun sudah sukses meniti semuanya.
Bukankah itu indah?