Iyalah Bener

2129 Kata
Dengan segala nafas panjang aku lontarkan saat ini merespon apa yang terlontar dari mulut kawan aku itu. Yah karena balasan yang aku lontarkan itu hanya bisa aku lontarkan di dalam hati tanpa bisa lontarkan secara langsung ini yang hanya bisa mengangguk penuh pasrah dan membenarkan posisi duduk yang memang seketika tampak sedikit tak enak ini lantas berucap. "iya iya ya Allah subhanallah Allahu akbar Masya Allah, serius kali ini aku bakalan serius maksudnya nggak basa-basi juga asli. Tapi serius juga kali ini kalian jangan ngomong terus maksudnya diem dulu gitu intinya kayak semuanya apa omongin tadi kalau aku nanya nanti dibilang basa-basi lagi langsung ke intinya saja sebenarnya aku tuh masih berharap sama Arga!" "UHUK! UHUK! UHUK!" "UHUK! UHUK! UHUK!" Damn it, aku yang menyadari penuh atas apa yang terlontar oleh kedua wanita di hadapanku ini jelas aku tampak terkejut bukan main terlebih lagi saat apa yang aku ucapkan justru membuat mereka tersedak secara bersamaan seperti itu bukankah jika dipikir-pikir seperti itu itu terlalu mengejutkan mereka juga? Yah walaupun memang kenyataannya bisa saja seperti itu tapi rasanya itu lebih mengejutkan aku lagi seperti seolah-olah aku yang berucap sesuatu itu sangat mustahil dan sangat dikagetin oleh mereka sampai mereka yang terlalu luar biasa itu justru sedikit membuatku ingin merutuki kembali kesalahanku yang secara terang-terangan dan secara gamblang kembali berucap seperti itu di hadapan mereka yang nyatanya memang selama ini perasaanku dengan sosok yang aku ucapkan tadi itu pun tak seberapa dan kenyataannya memang tak semudah dan tak pernah dekat juga antara aku dan sosok itu secara pasti terkecuali saat masa SMA dulu memang kami sering satu kelompok. Tapi, apakah itu namanya tidak berlebihan kepadaku? Tetapi memang aku sadari dan memang aku ku tahu jika selama ini terlalu berlebihan atas semuanya itu, tetapi entahlah saat ini yang ingin aku lontarkan dan yang ingin aku jalani yang hanya seperti ini. Bahkan menyadari hal itu pandanganku pun dalam sekejap aku alihkan ke arah lain di mana keberadaan Rara juga Fani yang entahlah mungkin sekarang ini sedang terlihat bingung dan terkejut secara bersamaan dan terlalu berlebihan juga ataupun apa yang pasti aku hanya bisa menahan semuanya dan hanya bisa dengan seperti tidak ada rasa bersalah kini tampak menggaruk-garuk keningku yang rasanya ingin sekali aku tenggelam kan diriku sendiri ke laut sana. "Woy, Demi apa sih Laras kamu beneran kangen sama Arga kamu beneran masih berharap sama dia??" tanya Rara heboh yang sukses membuatku membalikan pandanganku ke arah mereka kembali juga dengan segala pandanganku yang ini mendapati segala anggukan penuh persetujuan dari sosok Fani di samping sana kembali membuat ku hanya bisa mengalir tak jelas di sini tapi saat ini aku memang benar-benar tak berbohong dan ingin berkata jujur dan sejujurnya entah apa yang akan terjadi setelahnya aku sudah pasrah pada kenyataan dan yang pasti memang aku pun tak bisa menutupi hal ini ke mereka tapi respon mereka itu yang itu sedikit membuatku greget juga pada diriku sendiri tapi semua itu berusaha aku kubur dalam-dalam dan dalam segala ke tanggunganku untuk merespon hal itu justru kami menyahut ucapan Rara dan berkata. "Serius nggak sih Ras? Gila, ternyata selama ini belum bisa move on dari Arga. Keren keren ...." Mendengarnya aku memutarkan mata males karena memang sangat menyebalkan mendengarkan kata-kata itu tapi memang kenyataannya seperti itu, entahlah hasil akhirnya justru malah membuatku seperti bingung tapi juga senang tapi juga entahlah nggak tahu. Yang pasti aku lakukan sekarang ini hanya bisa berusaha tenang dan tenang merespon segala keterkejutan yang dilontarkan oleh Rara juga Fani saat ini. "Ya emangnya kenapa sih emang aku nggak boleh berharap lagi sama dia? Lagi emang belum ada apa ya namanya ya semoga emang belum ada yang gantiin posisi dia itu rasanya susah banget gitu loh Ra, Fan. Ya aku tahu sendiri aku juga sadar diri dan aku juga tahu posisi kalau misalkan selama ini juga Antara aku sama dia itu emang nggak pernah ada apa-apa gitu loh kayak dibalik kata deket juga nggak pernah terus kaya se kontak w******p juga nggak pernah terus juga apa namanya kenal deket juga nggak terlalu w******p aja bahkan bisa cuma sehari doang kalian kan tahu sendiri itu. Ya emang sih ini tuh lucu banget gitu loh perasaannya itu kayak datang tiba-tiba juga terus cuma karena hal sepele yang notabennya emang sempet kita tuh di jodoh-jodohin gitu lah kok malah jadi ada perasaan beneran yang kan aku juga mikirin itu perasaan sebenarnya sebenar-benarnya perasaan apa cuma emang karena saking keseringannya dijodoh-jodohkan kaya gitu terus akunya yang jadi kayak kebawa baper tapi juga sebenarnya aku juga nggak tahu gitu loh jadi kayak gimana ya kalian kasih tau sendiri aja tuh bingung aku mau bilang gimananya ...." Ya memang benar aku sampai terbuat sangat bingung seketika menganalisis isi otakku juga dan juga isi hatiku yang kenyataannya seperti tidak sinkron tapi entahlah aku pun tak apa-apa yang jelas daripada nganggur saat ini yang menatap ke arah Rara juga Fani kini tampak jelas dari pandanganku bahwa mereka tampak saling beradu pandang sejenak sebelum setelahnya tampak menghelakan nafas tipis yang mana itu juga sukses membuatku paham dan mengerti juga atas maksud dan inti dari apa yang mereka lakukan akan dari aksinya sekarang itu. "Ya gimana ya, makanya kalian bantu aku buat nyadarin diri juga gitu loh. Tentang perasaan ini sebenarnya emang sebenar-benarnya perasaan and1 emang karena ya ambisi sesaat aja gitu aku takutnya tuh cuma kayak gitu terus ujung-ujungnya malah ngebuat aku tersesat sama keinginanku yang emang rada nggak jelas kayak gini ya nanti hp-nya tuh kayak aku buat dapetin dia aja juga mustahil tapi saya aku juga terlalu dibuat berharap juga dalam sekejap gitu loh. Capek sayang huuuue ...." Aku yang selesai berucap demikian justru yang aku lihat juga saat ini baik Rara maupun Fani ini tampak saling beradu pandangan atau kesekian kalinya sebelum setelahnya akan ada sebuah respon apa yang terlontar dari mereka saat ini tapi yang jelas aku masih ingin sekali berucap banyak hal kepada mereka tentang apa yang aku rasakan tentang sebuah kenyataan yang memang seringkali menghampiriku secara tiba-tiba dan memang seperti inilah keadaannya. "Asli deh Ra, fan! Please deh makanya kalian bantuin aku sekarang aku kudu kayak gimana ceritanya gitu loh. Aku pengen berjuang tapi kayak apa yang mau perjuangin kalau yang mau diperjuangin aja nggak mau tapi kalau misalnya kalian lebih suka kalau aku kaya yang ibarat kata disuruh mohon ya bantuin juga gitu gimana caranya biar move on gitu. Paling nggak dikasih tamparan kek atau apa kek nggak apa-apa, jujur aku malah seneng kalau kayak gitu soalnya gimana ya kayak kan jadi aku juga sadar gitu loh padahal kan kenyataannya juga ya aku sadar juga kalau misalkan ini tuh berlebihan tapi aku juga nggak bisa ngontrol gitu loh kayak aku tuh seakan-akan juga udah kayak dibuat terobsesi banget sama dia itu cuma karena hal sepele yang tanya-tanya karena perjodohan tak jelas dulu itu. Aku juga nggak mau bayarnya kayak gini nggak enak sumpah mungkin aku emang orangnya terlalu baperan, iya emang itu aku aku juga tapi gimana ya please bantuin ... aku capek serius aku tuh pengen udah aja gitu loh kayak kakak pengen kaya udahlah nggak usah mikirin dia lagi udah nggak usah berharap ataupun ya istilahnya kayak terlalu ngarepin dia juga gitu loh enakan aku emang dari dulu enggak pernah deket juga gitu. Kalian pasti tahu kan kalian pasti ngerti kan apa yang aku rasain apa yang aku maksud juga. Makanya yuk, bantuin biar aku sadar." Sejenak aku terdiam, menghelakan nafas panjang-panjang di sini dengan pandanganku yang juga menatap ke arah wanita yang berada dihadapanku itu tak lain tak bukan adalah Rara dan Fanny di depan sana. Raut wajah bingung seperti ingin merespon apa jelas terlontar dari kedua wanita itu saat ini, ya aku tahu dan aku mengerti jika mungkin juga mereka tampak bingung apalagi memang seperti tak tahu juga harus bagaimana karena kenyataannya justru yang sebenar-benarnya adalah mereka tak tahu harus berucap apa mereka tak tahu harus merespon apa sedangkan aku terlalu demikian aku juga tahu dan aku juga sadar akan hal itu. Tapi itu bukan masalah besar, karena dengannya aku masih setia. Masih setia dengan apa yang aku dapati dari mereka dan memang aku tahu jika mereka sedikit berpikir karena memang harusnya memang begitu lebih-lebih aku pun juga begitu secara diam-diam memikirkan semua hal itu sampai sedikit rasa tak enak pun kembali muncul kepada diriku yang memang satu orang yang memiliki jiwa tidak enakan ini. Sampai sebuah pikiranku berkata, 'Kok mereka diam aja sih mereka nggak suka ya apa gimana? Biasanya mereka langsung cepat tanggap maksudnya kalau misalnya nggak suka langsung bilang terus kalau misalkan suka ataupun emang ada masukan pasti juga langsung bercak tapi ini kok tumben agak lamaan? Yahh ya sudahlah, nggak apa-apa Laras nggak apa-apa ... Tolong dong kamu tuh sabar aja mereka juga butuh mikir mereka juga pasti kan kaget seketika langsung dikasih cerita kayak gitu seketika langsung dimintai ini itu sama kamu kan pasti juga speechless. Jadi anggap aja gitu lo wajarr, lagian ibarat kata juga nggak apa-apa gitu loh kalau misalkan gitu. Positive thinking habis ini mereka bakal berucap sesuai isi hati mereka tentang apa yang kamu ucapkan tadi. Udah santai aja, misalkan dia eh maksudnya misalkan mereka agak kurang stroke ataupun apa pasti juga mereka bakal hati-hati kok ngomongnya kamu dan ketakutan dululah Laras sama ekpektasimu itu. Buang semua pikiran pikiran tak jelas mu yang belum pasti juga terjadi dan pasti juga dialami oleh mereka tentang apa yang kamu ucapkan tadi. Santai oke?!' Sejenak kembali aku helakan nafas ini dengan tipisnya, berharap mereka semoga saja tidak menyadari atas apa yang aku lakukan karena aku sadar betul jika mereka sadar pasti mereka akan merasa begitu bersalah hingga berujung hanya sebuah ketidak jelasan yang kembali hadir di sini atas permintaan maaf ataupun apa yang kenyataannya mereka lebih parah dari sebelumnya jika memang hal itu sampai terjadi. "Eumm, tapi emang di sini aku juga ngerti sih hehehe. Aku juga ngerti aku juga sadar kalau misalkan apa yang aku lakukan juga kayaknya terlalu berlebihan dan emang salah juga. Aku juga ngerti kalau misalkan perasaan itu aslinya itu nggak boleh ada, ya kan?!" tanyaku penuh pada mereka yang kenyataannya sedari tadi masih diam di tempat dan diam dengan segala pandangan-pandangan itu lah kan memang seperti tak tahu harus merespon apa atau bisa dibilang masih cukup bingung dan masih cukup berhasil menjawab atas apa yang aku katakan tadi yang memang panjang lebar dan sangat memusingkan. "Eh bukan gituu," sahut Fani cepat membuatku terdongak lantas menatap ke arahnya juga ke arah Rara yang memang kenyatannya tampak diberi sebuah kode entah apa artinya aku tak mau terlalu memusingkan hal itu tapi yang jelas itu adalah sebuah kode yang mungkin ada sangkut-pautnya dengan apa yang kulontarkan tadi yang dikeluarkan oleh Fani kepada Rara yang justru kini dijawab sebuah angka knock oleh gadis itu yang santai saja juga membuatku malah mengerjitkan kening penuh kebingungan saat ini tentang hal itu pada mereka. "Bukan gitu gimana maksudnya? Lah wong emang kenyataannya aja aku juga salah, kayak aku tuh terlalu berlebihan terus ujung-ujungnya jadi ke diri aku juga kayak gini rasanya pasti paham lah ...." "Ya iya kita tahu rasa kita tahu emang kayak gitu tapi kamu juga nggak bisa nyalahin diri kamu juga orang kalau misalkan aku sama Rara di posisi ini juga nggak akan kuat kita ya kan Ra?! (Rara mengangguk) tapi emang asli deh pas kita tuh diam bukannya gimana-gimana cuma itu kadang tuh ya kalau dari aku pribadi aku tuh cuman mikirnya kayak gini ini si Laras tuh beneran masih ada perasaan sama si Onoh? Ya kalau misalkan emang beneran sih nggak apa-apa kalau misalkan mau berjuang ya Monggo kita kan cuma apa ya istilahnya tuh ya kalau misalkan emang masih mau berjuang ya sebisa mungkin kita bantu tapi kalau misalkan dia mau diperjuangin enggak mau diperjuangin ya gimana lagi kita juga cuma bisa dari yang kamu kan bukan maksud kita nggak boleh ataupun apa itu enggak cuma kalau misalkan emang ujung-ujungnya cuma bikin kamu sakit hati sendiri ya buat apa dilanjut gitu loh kan nggak ada faedahnya sama sekali. Bukannya nyembuhin atau apa terus bukannya dapat artinya atau kenapa yang ada malah sakit hati doang kan yang kamu dapetin. Nah, di sini cepetan nggak nyalahin kamu kok kita juga tahu kita juga sadar kita juga paham banget malahan. Tapi kita cuma mau nanya ini serius, dan kayaknya ini juga mewakili isi hati Rara juga atas apa yang pengen dia omongin terus setelah mendengar apa yang kamu kirain tadi. Sooo, kita mau memastikan jadi itu emang beneran kamu masih pengen sama dia? Ya kalau nggak dibales apa gini aja deh kamu masih berharap sama dia terus lo gak ya kamu masih sering kepikiran dia hmmm?!" "Nah loh jujur Ras!" sambung Rara membuat pandangan berbalik arah ke keberadaannya. Sampai dengan sebuah alat nafas panjang pun aku lontarkan saat ini, "Ya iyalah bener. Aku seriuss makanya kasih saran atau tamparan kek!" "Heh? Serius? Gilak! Eh?!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN