Ya Allah, Semoga Saja Rezeki

1062 Kata
Langit cerah semakin menampakkan sisi terangnya, seperti tidak mengizinkan mendung untuk hadir di sini dan seperti tak izinkan hujan untuk menggantikan segala rasa panas yang semakin naik di semakin bertambah dan waktunya sampai di jam sekarang yang kita sudah menunjukkan pukul 11 lebih 30 menit an. Perihal rasa panas dan dingin yang sedari tadi menyatu padaku dalam sekejap, kini rasa itu sudah berubah dan rasa itu kini sudah kembali hadir dengan begitu tenangnya tatkala mata yang ini mampu memandang jauh ke arah depan sana dengan penuh kesejukan. Yah, interview telah selesai aku lakukan. dan aku kini tengah merefreshkan kembali otakku yang sebelumnya tampak penat bukan main di sini. Walaupun bisa dibilang tempat yang aku gunakan sebagai pelarian ini tak terlalu jauh dan tak terlalu berarti orang yang merasakannya, tetapi bagiku mau sejauh apapun ataupun sedekat apapun dan mau semewah ataupun sesederhana apapun jika memang diriku seperti ini pasti otakku akan refresh kembali. Segala hal yang ada di otak semakin surut aku pikirkan, dan segala hal yang sempat membuatku panas dingin bukan main dan sempat membuatku overthinking berlebihan ditambah lagi yang sempat membuatku tak jelas sendiri waktu tadi. Kini dalam sekejap semuanya menyerah untuk mengusik otakku, tatkala angin sepoi-sepoi dan segala hal yang memabukkan ku membuatku Hamid pada suasana siang yang sejuk ini walaupun memang panas tapi semuanya tak terasa jika udara pun sangat mendukung untuk bersantai ria di sini. Di bawah pohon mangga tempat dimana kebiasaanku nongkrong jika sedang bermain di rumah Rara, yah ... sepulang dari tadi memang pak sebenar-benarnya pulang ke rumah. Mampir-mampir adalah kebiasaanku tapi tentunya itu sudah menjadi tradisi ku juga harus izin kepada orang tua setidaknya kepada bunda ataupun orang rumah walaupun hanya satu orang saja. Jujur, sebenarnya bahagiaku itu sangatlah sederhana. Sesederhana diriku yang saat ini tampak tinggikan kedua kakiku ini bersimpuh di atas sebuah kursi yang tak terlalu lebar namun mampu digunakan untuk ku dan paling kurang lebih bisa sampai 3 orang yang jika orang Jawa katakan mungkin namanya kurang lebih adalah 'Dipan!' Pandanganku lirus ke arah dimana jalanan yang lumayan ramai berlalu-lalang orang yang melewatinya, bagus dan lurus ke depan sana sampai tak sadar sebuah tepukan berhasil mendarat di bahu kananku itu sukses membuat diriku juga menoleh dengan segala aksi yang tertahan dan dengan segala ke rasa sejuk dan nyaman serta seperti healing yang tertunda dalam sekejap tapi respon hal itu justru aku tersenyum mendapati sesosok wanita yang tak lain tak bukan adalah Rara yang kini tampak membawa sebuah benda di tangannya sana yang ia angkat penuh saat ini. "Ada Ra?!" tanyaku penuh semangat, dalam sekejap aku pun membenarkan posisi duduk ku yang tadinya mengarah ke arah jalanan kini mengarah ke arah di mana Rara berada yang berada di secara penuh sampai dengan kedua kakiku pun dalam sekejap aku meluruskan dan sukses membuatku menjadi bangkit dari tempat semula dan berdiri disampingnya juga dengan tatapan mataku yang kini sukses tertuju pada Rara juga. "Wohh ya ada dong ... Kan aku tadi bilang juga apa aku usahain dulu. Kan aku tadi udah bilang juga kalau misalkan nggak ada ya udah berarti kita harus beli dulu ya udah juga pakai ini aja. Oke?!' "CK! Okelahh not bad Ra, bisa dibicarakan hahahaha ....." Entah ini perihal apa aku sendiri tak paham, yang pasti di sini aku dengan Rara tengah asik mengamati sebuah benda yang baru saja diambil oleh Rara dari dalam rumahnya sana secara penuh. "Iya-iya udah iya ... yang penting ada dodol, udah ih kita malah nggak jelas gini ya. CK! udahlah balik lagi duduk, enak tau duduk di sini tuh. Adem-adem silir gimana gitu, sadar nggak heh kamu Ras?!" Mendengarnya, aku yang baru saja menuruti perintah Rara balik ke tempat semula dimana aku terduduk sebelumnya itu. Kini pandanganku justru tertoleh kembali ke arahnya, "Sadar apaan?!" tanyaku sendikit bingung di sini. Tanpa membuang-buang waktu pun aku menunggu jawaban itu sembari kembali melanjutkan apa yang ingin aku lanjutkan. "Itu halah pas aku masuk ke dalam rumah ngambil ini!" Kembali, bersamaan dengan kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Rara. Pandanganku kembali tertoleh, mataku terfokus pada benda yang dibawanya itu sebelum setelahnya kembali menatap ke arah sang empunya dengan sedikit bingungnya. Benda itu sejujurnya apa yang dibawa tadi sekaligus apa yang dimaksudkan oleh Rara memang, sampai sebuah gelengan pun aku luncurkan merespon ketidak tahuanku atas sebuah hal yang digantungkan penuh dari ucapan Rara padaku barusan. "Nggak usah ngada-ngada deh kamu Ra, apaan. Hiss capek deh, udah kamu duduk dulu baru lanjut ngomong!" Tanpa aku sadari bersamaan dengan itu Rara sudah duduk di sampingku. Dan aku masih berusaha berucap kembali meskipun sebuah gelengan sudah kembali aku layangkan saat ini. "CK, sabar kenapa sih sayang ... ini loh maksudnya aku tuh kamu sadar nggak kalau di sini emanv sejuk wkwkw. Udah ah gitu aja tegang langsungan mukamu Ras!" "Woh, ngadi-ngadi. Ya jelas enggak dong, tegang darimananya coba kan dodol banget sih!" ujarku tak terima yang justru dijawab sebuah kekehan di sini. "Hahaha iya-iya gitu aja ngegas, fyuh ... emang seger kok di sini tuh apalagi siang-siang begini. CK, untung aja kamu mampir aku nggak pergi Ras. Coba kalau pergi mau nemuin siapa kau heh?!" Mendengarnya aku hanya menghendikkan bahuku acuh, bukan acuh juga sebenarnya. Tapi itu adalah sebuah isyarat yang aku keluarkan pertanda tidak karena nyatanya jika aku menjawab pun akan sama saja nantinya karena kalimat yang diucapkan oleh Rara barusan itu jelas seperti belum selesai akan diucapkan. Makanya aku lebih memilih memberi respon demikian, bukankah aku adalah makluk paling peka?! Yah sebenarnya memang iya. Tapi juga entahlah, rasanya juga sama saja karena akan sia-sia saja untuk membahas masalah rasa peka dan tidak peka. Dengan tidak mengurangi rasa malas, aku tatap kembali bola mata Rara yang kini tampak menyipit itu secara penuh karena efek cahaya matahari yang mungkin memang sedikit menyilaukan pandangannya yang jika boleh aku katakan memang Rara ini matanya sudah minus sekian sendiri. "Eh by the way anyway busway ... wkwkw ngomong-ngomong soal mampir menyampir nih ya ... (Aku mengangguk penuh) Nah, aku jadi kepo kan ... so! Gimana hasilnya diterima kan? langsung kerja kan? Woh harus dong harusnya mah udah kece gini loh temen gue mah kalau nggak diterima itu mereka ngelihatnya kudu pake kacamata kuda kal-" "Hasyeh apa sih Rara ku sayang ... sabar dong Beby ... nggak tau sih aku kalau soal itu. Yah semoga aja lolos gitu, bantu aamiin dong sayang. CK! lebay banget manggil sayang. Huek! Hu-" CTAK "Sa ngadi-ngadi minta ditim-" "Hahahaha maaf sayang ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN