Entah apa yang terjadi diantara kedua orang yang berada di suatu tempat bersamaku ini tapi yang jelas saat ini tak ada sebuah jawaban sama sekali atas apa yang aku lontarkan karena yang ada hanyalah sebuah ketidakjelasan saat ini karena memang sejujurnya kita pun baru saja sama-sama berteriak penuh karena keterkejutan yang bisa dikatakan juga jika ada orang yang menonton film horor pasti akan selalu dihadirkan dengan segala kejutan-kejutan bukan? Yah kurang lebih seperti itulah gambaran ku bersama dua orang sahabat koplak yang ini ada di samping kanan dan samping kiri ku tanpa merespon apapun yang justru malah sebuah cengiran dilayangkan oleh mereka yang sukses aku kamu dari penglihatanku yang memang secara bergantian aku lontarkan ke arah Rara juga Fani saat ini.
"Eh kalian itu diajak bicara juga ya Allah nggak ada yang nyambung lagi nggak ada yang nyala sama sekali, ya paling nggak tuh ya apa ya namanya ya satu satu lah kalau nggak Rara ya kamu gitu Fan. Ck, jangankan satu sama sekali nggak ada yang nyaut. Nyesek banget kan, ck! Kampret emang kalian t-t."
"Hsyehh, berisik. Udahlah Ras, sekarang kita nikmatin dulu aja kayak gini gitu ah berisik kamu tuh dari tadi itu sendiri. Iya tahu takut aku juga takut tapi kalau nggak ada lagi seru-seruan kayak gini udahlah nggak papa daripada Anton yang mellow mellow yang romantis-romantis nanti yang ada malah kita kepingin lagi udah tahu aja kita nggak ada doi semua. Masa iya mau nonton yang romance?!"
"Tau tuh, udah ah. Nggak apa-apa lah Ras. Udah ditonton aja kan bisa kan pengen tahu ya di muka itu jilbabnya jangan buat nutupin wajah gitu nanti yang ada kamu nggak kelihatan juga mau nonton apa coba ditutupin kayak gitu udah kalau gitu mah dibuka aja tapi kalau takut ya udah terserah aja tapi seru kan yang romantis romantis ntar yang ada kita malah pengen lagi! Orang mah didukung dibawa misalkan udah ini lagi kalau misalkan kita kepingin bener kan repot sendiri enggak ada yang mau diajak romantisnya nggak ada kan ya kali kita bertiga astaghfirullahaladzim. Segeralah tobat wahai kau Laras ...."
Mendengarnya dengan susah payah aku ingin sekali menjitak keduanya, ingin sekali merutuki sebelah apa yang diucapkannya. Tapi tak mungkin juga aku lakukan karena rasa takut yang lebih mendominasi pada diriku saat ini, mengalahkan segala rasa yang ingin aku lontarkan yang berujung juga hanya bisa aku helakan nafas panjang seraya berucap. "Dah lah, aku selalu salah di mata kalian!" ujarku dengan kesal.
Tetapi bukan Rara dan juga Fani namanya jika aku yang selalu terucap demikian justru hanya dibalas sebuah jitakan yang punya tangannya lumayan pedas lah jika harus ku terima begitu saja seperti sekarang ini. Tapi semuanya itu tak kau hiraukan sama sekali sebuah suara menyeramkan kembali mengusik paling aku kenal sekarang ini membuatku semakin menutup wajahku secara rapat rapat dengan jilbab yang aturan tangan ke atas ini sampai jodohku saja bahkan tak tertutup jilbab seperti sebelumnya.
Pikirku saat ini pusing pala dan sangat-sangat tak mau terlalu dipusingkan juga karena hal itu, 'Udahlah bodo amat lagian juga mau gimana gimana pun juga namanya takut sih ya takut kadang tuh kan pakai tidak bisa di apa ya gak bisa diginiin kan nggak bisa dipaksa atuh kalau kayak gini atuh sebenarnya aku juga kepo pengen lihat tapi kalau misalkan takut juga gimana aku kan jadi juga bingung sendiri kalau kayak gini ceritanya. Hadeh ... Tau ah pusing!'
"Hee, tolong toh ya Allah udah tahu aku tuh orangnya penakut kalian tu mbak udah tuh diganti aja yang romance gak apa-apa lagian apa sih asal kita nggak kepingin mah nggak apa-apa lagi yang kami saya kepengen ya kita tahan tahan dulu aja soalnya doi juga nggak punya orang yang dekatnya kita juga nggak ada yang ada kita dighosting ter-"
CTAK!
CTUK!
Sebuah tatapan tak percaya aku lontarkan ke arah Rara juga Fani sekarang ini secara bersamaan, "Heh, kalian itu ya. Apa yang kalian lakukan ke aku itu jahat banget sumpah. Lagian kamu tuh apa-apaan sih ya Allah Gusti aku kan cuma bilang gitu orang tanya tanya emang kayak gitu lah kalian wajib paket aku secara gantian kayak gini emangnya ih pokoknya kalian jahat banget sumpah serius kalian makin kesini malah makin jahat sama ak-"
"CK! Diem napa Ras, kalau misalkan aku sama Rara semakin ke sini semakin jahat lah apa kabar dengan kamu yang semakin kesini semakin lebay nggak tuh hahahaha ...."
Glek!
'Emang iya?' tanyaku dalam hati, apakah tidak terlalu menyebalkan jika kenyataannya aku dibilang lebay seperti tadi oleh Fani? Tapi apakah memang iya juga sifatku semakin ke sini semakin lebay? Entahlah tapi yang jelas setelah apa yang diucapkan oleh Fani itu apa sedikit terdiam juga karena apa kamu mau ngasih aku demikian tapi jika dilihat dari respon mereka berdua saat ini mungkin memang demikian tapi jika aku semakin lebay? Dan yah ... Kembali hal itu tak kurasakan saat ini karena memang sudah lelah juga untuk melakukan hal yang sama seperti tadi.
Aku hentikan bahu pertanda acuh akan hal itu saat ini kepada kedua sosok yang ada di samping kanan dan samping kiri ku yang kini semakin terlihat geleng-geleng kepala tak percaya dengan apa yang aku lakukan mungkin? Entahlah.
"Bodo amat, mau lebay kek mau lebah kak maaf ya udahlah capek!" pasrahku. Tapi sedetik kemudian justru sekolah sebuah semangat kembali menghantam kok sampai aku yang berarti mengagetkan Fani yang ada di samping kiriku ini sontak saja kembali membuatku tertimpa sebuah tampolan kencang ke badanku yang juga sama seperti dua orang di sampingku ini tampak tengkurap penuh menatap ke arah laptop yang masih menampilkan segala aksi-aksi horornya tapi tak kuhiraukan sama sekali karena jilbab yang masih aku buat untuk menutupi wajah saat ini masih setia di hadapanku persis tanpa ada niatan untuk membukanya sama sekali seperti saat ini.
"Kaget buset, kalau mau manggil tuh manggil aja biasa itu loh kebiasaan banget manggil pakai segala ngaget-ngagetin. Orang mah kalah mau manggil ya manggil aja segala ngagetin, ada apaan?!"
"Sihh sinis amat sama temen sendiri, kualat loh entar!" jawabku sedikit tak terima pada Fani, yang sedetik kemudian justru malah ku tatap Rara dengan segala kenyamanannya di samping sana sampai sedikit menoleh namun malah sama saja acuh denganku jika sudah berhadapan dengan apa yang dinamakan dunia perhoror an.
Dalam sekejap, sebuah gelengan tipis pun aku lontarkan saat ini dengan segala ucapan dalam hatiku yakni. 'Kampret banget nih anak, bukannya iyain aja malah melengos. CK! Lihat aja nih, besok kalau misalkan emang bener curhat lagi aku cuekin dulu kamu Ra!'
Batinku tertawa jahat, sedetik setelahnya sebuah jitakan kembali mendarat di di pinggangku sini refleks juga membuatku menoleh secara terkejut ke arah Fani yang bisa-bisanya ini tampak kembali hadir dengan segala aksi anarkisnya padaku seperti sekarang ini. "Sabar kenapa to, lagian ya maaf juga gitu kalau misalkan tadi enggak sengaja terkaget-kaget kayak gitu. Lagi kamu juga lebay sama aja orang aku juga cuma apa emang kamunya kayak gitu, cuma mau bilang kalau misalkan gimana kerjanya kemarin? Eh maksude bukannya karena ada apa-apa atau gimana gimana ya cuma ya kalau misalkan ini kamu beneran keluar nggak sayang sama pekerjaanmu?! Jangan sampai kamu nyesel juga loh kan kayak aku dulu pas lagi kerja di sana noh!"
Yah, memang dulu waktu awal sekali lulus sekolah menengah atas aku pernah memasukkan sebuah lowongan pekerjaan yang mana di situ memang kenyataannya cepat sekali aku diterima tapi entah kenapa itu juga membuatku cepat sekali ingin keluar dari sana karena tidak ada rasa nyaman yang tercipta di antara rekan kerja atau pun tempatnya. Dulu memang aku masih labil labil untuk hal ini, sampai memang di masa yang sekarang lagi sulit seperti ini bahkan dulu sempat-sempatnya aku berpikir jika memang bukan rejekinya dan pasti sudah ada rezekinya lagi nanti aku cepat pulang aku mendapatkan pekerjaan baru tapi nyatanya sejak saat itu tak ada satupun pekerjaan yang bisa aku dapati. Yah, mungkin bukannya tidak ada tapi belum ada saja maybe.
Sampai dengan tatapan serius penuh keyakinan aku lontarkan menatap ke arah Fani seperti sekarang ini sudah dari beberapa detik yang lalu setelah berucap pertanyaan tadi. Sosok itu jujur jika boleh aku katakan kini yang tampak berpikir penuh seolah memang apa yang diucapkan ku itu seketika pula membuat jiwa jiwanya yang barbar padi di seketika menciut atau bahkan memang dalam sekejap tampak terkubur dalam-dalam.
Jujur sebenarnya aku pun tidak enak mengatakan hal ini sebenarnya, saat sebuah kenyataan yang memang bisa dibilang terlalu bagaimana juga jika aku menyinggung soal seperti ini. Tapi bagaimanapun juga niatku itu bagus karena aku pun tak mau ingin Fani juga sama-sama menyesal seperti apa yang sudah aku alami dulu atau bahkan memang tak bisa dipungkiri juga jika kenyataannya entah tadi benar-benar sudah keluar atau belum dari pekerjaannya tapi seenggaknya aku sudah berkata demikian karena penyesalan memang adanya di akhir dan akupun tak mau jika orang terdekatku sama sama seperti apa yang aku rasakan dulu merasakan semuanya yang sekarang ini justru sangat aku sesali karena tak semua yang ada di pikiran dan tak semuanya yang kita semua kan itu akan jadi kenyataan hidup.
"Heyy diajak ngomong juga, eh salah maksudnya kenapa malah sekarang kamu yang ngelamun sendiri sih astaga ...."
"Mana ada ngelamun, tapi seriusan deh Fan. Itu kamu kemarin bilang mau keluarnya bohongan kan nggak seriusan gitu kan? Asli deh Fan jangan sampai kamu nyesel kayak aku dulu, jujur nih ya sebenarnya itu kalau dipikir-pikir emang kan masa sekarang itu yang lagi sulit nyari kerjaan nah kalau misalkan kamu tiba-tiba keluar apa iya kamu enggak sayang sama diri sendiri? Asli aku aja kalau misalkan udah ada apa namanya lowongan yang benar-benar diterima aku pasti bakal enggak bakal sia-siain lagi soalnya aku tuh nyadar gitu loh kan pas setelah udah tahu kalau misalkan jadi kerja itu tak segampang yang di kota kita pikirin gitu. Belum jadi keluar kan?!" tanyaku semakin to the point saat ini.
Suasana horor tadi pun tak terasa kembali horor, dan jika pun masih terasa mungkin hanya Rara saja yang merasakan karena faktanya ini aku bersama Fani justru malah fokus dengan obrolan baru yang memang berlawanan jauh dengan apa yang sedang kamu tonton saat ini atau bahkan memang tak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan apa yang sedang kami hadapi saat ini. Tapi, percayalah. Itu benar-benar sebuah pertanyaanku yang berasal dari lubuk hati paling dalam pada Fani, pada sosok yang kini justru tampak berpikir sejenak dengan pandangannya yang fokus menatap mataku penuh tapi pandangan itu justru aku putuskan karena aku yang justru kita tanpa menatap ke arah Rara yang Jujur jika boleh aku katakan saat ini Rara terlihat sangat tak mau mengganggu atas apa yang aku ucapkan dengan Fani karena memang duniaku dan Fani dengan dunia Rara sudah berbeda karena bisa dikatakan jika aku dan Fani itu terjun langsung ke dunia per dewasa hanya mengangkat kerja. Saat bersimpang jauh dengan dunia Rara yang justru masuk ke dalam dunia perkuliahan, sebenarnya tidak jauh berbeda tapi tetap saja berbeda.
Sebuah gelengan tipis hanya bisa aku lontarkan saat ini mendapati karena Rara yang demikian, tapi aku tak terlalu mempermasalahkannya juga karena kenyataannya saat ini Rara pun pasti paham oleh karenanya ia memilih fokus pada apa yang ditontonnya, yang mana pula itu adalah kesenangannya. Tapi berbeda denganku yang kini masih menatap ke arah Fani dalam sekejap untuk kesekian kalinya juga seperti sekarang ini, yang aku lihat Fani tampak berpikir di tempatnya. Sampai keluar nafas panjang pun aku lontarkan kembali hingga membuat Fani sadar lantas padahal itu kembali menatap ke arahku.
"Asli sih bukannya gimana-gimana, jujur ya Ras. Kalau aku tuh sebenarnya juga udah capek banget pengen keluar ya kaya yang aku ceritain ke kamu kemarin itu tapi ya gimana aku tuh juga mikir sebenarnya ras. Aku juga mikir sama kaya yang kamu pikirin. Aku juga bingung karena aku juga dalam gimana ya kayak setengahnya aku tuh pengen keluar karena capek kuat sabar ya mungkin tekanan batin juga ya pokoknya kamu tahu sendiri lah kalau misalkan kerja tapi di tempatnya itu enggaknya mah kan ujung-ujungnya juga nggak srek kan? Ya kaya gitu. Tapi di sisi lain aku juga pengen kerja eh maksudnya pengen keluar gitu dari sini orang orangnya tuh nggak ngenakin banget Ras. Ya aku tahu pasti kalau emang nggak tak pikirin baik-baik akunya yang akan rugi juga. Nyesel di belakang, tapi ...."
Puk!
"Tau aku, pikirin lagi oke?! Kalau bisa mah tak temenin aja nggak masalah wkwkwk. Kan siapa tau rezekiku juga gitu wkwk ...."