Enak Tau Bun Daripada Ngelamun

1536 Kata
"Ya Allah ... harusnya mah kayak gini terus gitu loh jiwa-jiwa aku tuh. Kalau kayak gini kan asli enak banget gitu loh kan tapi ya gimana lagi kalau misalkan emang kenyataannya susah dimengerti juga kadang-kadang kan juga repot. mana aku tuh orangnya juga kadang suka nggak jelas juga lagi aduh udahlah mending makan, santai-santai, ngilamin mood yang hancur, dan pastinya harus selalu cover tinggi-tinggi maksudnya harus selalu positif thinking ya Laras ... Fyuh ... enak juga nih makanan!" ujarku dalam sekejap yang di detik setelahnya pun toples yang aku pegang sedari tadi aku angkat seolah-olah mengamati secara penuh atas sebuah toples yang berisi makanan yang tadinya penuh kini tinggal setengahnya itu dengan segala rasa nikmat yang memang aku rasakan saat menyantapnya. "Pinter juga ya bunda ya buat cemilannya Masya Allah ... tahu aja kalau misalkan anaknya itu di rumah suka gabut eh tapi emang kalau dibilang bilang dari kemarin juga jarang sih aku makan kayak ginian. Tau enak kan aku habisin aja dari kemarin ya, ckckck jangan deng nanti yang ada malah kena semprot bagi sama bunda. Mana kebiasaan Bunda juga kan marah-marah terus. Wkwkwk udahlah, penting makan aja Ras ... orang mah kalau memang ada samanya cincong gitu loh. CK! Lah ini kamu malah kebalikannya kali yang ada, kebanyakan ribet kamu marah sudahlah habisin habisin ... eumm enak by the way!" Menikmati jelas aku rasakan seperti sekarang ini untuk kesekian kalinya, bahkan jika boleh sampai aku habiskan pun aku mau saja menghabiskan beberapa toples plastik keripik singkong yang memang sangat lezat ini bagiku saat ini di suasana sore yang sangat mendukung dengan sebuah sinetron FTV andalanku yang memang sering aku tonton di sore hari seperti sekarang ini. Satu persatu makanan itu pun masuk ke dalam mulutku, yang dalam sekejap lantas aku punya secara penuh dan dalam sekejap juga tak jarang seringkali membuatku menatap ke arah layar televisi di depan sana yang menampilkan secara penuh tayangan adegan demi adegan yang dimainkan oleh sosok aktor dan aktrisnya di dalam cerita sana. Tak ada yang mengusik sama sekali membuatku berpikir bahwa sore hari ini memanglah sore hari yang sangat mendukung daripada biasa biasanya, sedangkan biasanya aku sering diganggu entah itu oleh bunda ataupun oleh kakakku sendiri. Saat ini suasananya sungguh sangat diam dan sunyi begitu mendalam, mataku terfokus penuh pada adegan di sana. Dengan tangan kananku yang masih aktif mengambil beberapa keripik singkong dari dalam toples lantas aku pindahkan ke dalam mulut, begitu juga dengan satu tangan kiriku yang setia memeganginya agar tak tumpah ke dalam badanku yang penuh menikmati kenyamanan sore hari ini di sofa empuk yang digunakan untuk merebahkan diri. Aku bergumam, "Eumm ... padahal kalau dipikir-pikir itu cerita sinetron itu kan ya kayak aja sama aja kayak realita kehidupan ya. cuma bedanya kalau cerita sinetron kayak gitu kan sutradaranya itu manusia nah kalau misalkan yang dialami sama manusia ya sutradaranya Allah subhanallahu wata'alla. Ya mungkin nonton kayak gini tuh emang bikin diri sadar juga sih sering-seringnya, karena nggak jarang juga yang apa ya istilahnya itu kayak ngangkat nilai moral juga gitu tapi juga banyak juga sih yang mau ngangkat dunia percintaan yang bikinnya juga. CK, kaya yang aku tonton sekarang ini nih." "Hadeuh ... ngomong aja digede-gedein, lah nyatanya malah aku sendiri yang nonton kayak gitu filmnya. Emang yah, yang namanya Laras itu suka ih nggak habis pikir juga kenapa sama diri sendiri." Dengan penuh geleng aku lontarkan saat ini, menyadari segala ketidakjelasan kau yang menyindir diri sendiri seperti saat ini sampai sebuah tepukan mendarat di bahuku dalam sekejap juga membuatku menoleh kan pandangan ke arah atas sana karena memang posisi diriku saat ini merupakan diri penuh dengan segala kenyamanannya. "Ya Allah bunda, ngaget-ngagetin aja deh. Fyuh ...." Tanpa berbasa-basi lagi aku pun bangkit dari posisiku saat ini, menatap ke arah bunda yang kini tampak geleng-geleng pernah menatapku di posisinya yang berdiri di samping sofa panjang yang sebelumnya aku gunakan untuk merebahkan diri itu yang di mana diriku juga saat ini sudah sukses duduk dengan tegak setelah sebelumnya juga berhasil meletakkan satu toples dengan isinya yang tinggal setengah itu dengan begitu cepat dan dengan begitu gercepnya ku lakukan. "Ah lebay kamu tuh Mbak, bunda tuh nggak kaget ngagetin, orang ini itu karena kamu aja yang terlalu fokus jadinya ya kayak gitu." Dengan penuh geleng aku sadari bunda tampak menatapku dengan segala rasa tak percayanya dari penglihatanku yang tak mungkin salah mengartikan semuanya itu saat ini. "Yehh, sama aja bunda intinya tuh bunda udah nggak pernah ngertiin karena aku tuh tadi lagi santai-santai kayak gini mah bunda tiba-tiba datang. Hmmm, yaudah Bun sini duduk samping Laras." Dengan penuh mempersilahkan aku pun menggeserkan diriku sedikit dari tempat semula, sosok bunda yang aku hadirkan kalimat itu pun dalam sekejap langsung duduk di sampingku dengan pandangannya yang aku sadari pula sampai saat ini masih terfokus pada satu toples yang kini aku pindahkan dengan begitu cepatnya itu ke atas meja karena memang sebelumnya hanya aku tempatkan di samping jadi ku duduk yang notabenenya adalah tempat bunda saat ini untuk membenarkan posisi duduknya itu dengan cengiran juga yang lantas aku lontarkan dari bibir ini dengan begitu sengajanya. "Habis mbak makanannya?!" tanyanya dengan nada kaget dan tak percaya, sedangkan aku yang menyadari itu pun hanya menyengir dan menyengir seperti sekarang ini. "Nggak Bun, itu loh masih ada walaupun nggak seberapa ya yang penting kan belum habis itu masih ada kok bulan sama aja. Hehehehe ....." "Yaa bunda tau itu masih ada, cuma kan ya intinya gitu mbak apa namanya sama aja hampir habis. Bunda aja buatnya itu penuh kok setoples mana toplesnya juga nggak main-main gedenya, bisa-bisanya sampai habis kayak gini ya walaupun gak ada sepenuhnya sih masih ada setengah. Eumm eum eum ....' "CK! Nggak papa atuh lah bunda ya Allah, lagian kan emang lebih baik makan gitu lo ada kerjaan daripada ngelamun kan malah nggak enak. Enakan juga lebih kan kayak gini Bun apa ya istilahnya tuh lebih enak kalau misalkan gua kan daripada ngelamun nggak ada enak-enaknya buang-buang waktu udah gitu nggak ada manfaatnya sama sekali. Hadeuh ya Allah ....." CTUK! "Eh kok dijitak?!" kagetku dalam sekejap yang lantas menatap ke arah bunda kembali untuk kesekian s nya disini setelah segera keterkejutanku beberapa detik yang lalu. "Mana ada Bunda ngejitak-ngejitak, lagian kamu tuh kalo ngomong suka bener sih bunda kan jadi terharu hahahaha ...." "Loh?! Iihhh bunda ...." rengekku dalam sekejap yang salah seperti bayi yang diejek habis-habisan oleh ibunya sendiri. Entahlah terkadang jiwa-jiwa manjaku seringkali keluar jika hanya dari hal-hal kecil seperti apa yang dilakukan oleh bunda seperti saat ini. Dengan dirinya yang menggeleng penuh tapi dengan diriku juga yang dalam sekejap hanya bisa meringis tak jelas di sini karena memang yang aku rasakan kita kan bunda itu sangatlah pedas. Tetapi entahlah, namanya bunda pasti akan tetap yang paling menang sendiri di sini entah bagaimana ceritanya. Bahkan malah beraksi lain seperti sekarang ini yang ujung-ujungnya satu jari tangannya itu ditunjukkan penuh ke arah bibirku seolah untuk membuat diriku bungkam yang dalam sekejap juga membuatku hanya bisa menghela napas panjang disegala keterdiamanku saat ini. "Hust ngomong aja kamu mbak, iya iya bunda tahu bunda paham bunda ngerti sayang ... udah-udah lagian bunda cuma bercanda ih. Kamu itu loh baperan banget sih mbak, itu makanan mau kamu habisin sampai berapa pun juga punya nggak apa-apa mau dihabisin sampai bis bis bis habis ya bunda marah tandanya anak-anak udah suka sama bunda sama bikinan bunda gitu. Yaudah gapapa, udah ih bunda mau santai-santai nonton FTV tuh nggak usah ganggu kamu ditemenin bunda malah ngomong aja udah diam, anteng. Bunda mau nonton tv!" Damn it, entah ada angin dari mana dan entah karena apa juga aku tak mengerti atas apa yang anda lakukan saat ini. Sampai dengan penuh geleng hanya bisa aku lontarkan seperti saat ini saat menyadari sosok bunda yang dalam sekejap tampak fokus dan benar-benar tertuju pada layar televisi sama seperti apa yang diucapkannya itu yang seolah-olah juga pantas melupakan keberadaanku yang memang sebelumnya sudah ada di sini mendahuluinya itu. "CK, anak sendiri sekarang dicuekin. Hmmm, mana bunda juga sebelumnya ngomong panjang kali lebar banget eh ujung-ujungnya juga cuma Laras yang di diemin. Udahlah Bun, terserah bunda aja deh se bahagianya bunda aja. Laras mah diem-diem wae lah ... males juga mau ngapain kan. Mending Laras mainan hape aja deh!" Tanpa berbasa-basi aku langsung menyambar sebuah ponsel yang aku lihat akan di samping meja sofa sana yang sebelumnya tak tersentuh olehku sama sekali ini justru malah aku cari-cari dengan penuh keberadaannya sebelum setelahnya itu dengan sangat bar-bar aku buka aplikasi YouTube dan mencari pada kolom pencarian sana sebuah judul sinetron yang tengah aku cari-cari juga kenyataanya. Bunda yang tak menghiraukanku justru kembali aku tak menghiraukan keberadaan bunda juga yang mungkin entahlah sekarang ini sudah terfokuskan juga segala halnya itu pada layar televisi di sana yang memang seolah-olah melanjutkan aksiku yang sebelumnya tampak menikmati segala adegan demi adegan yang terlontar pada sinetron itu. Kini semuanya itu justru seperti disampaikan sendiri oleh bunda dengan segala kenyamanannya seperti sekarang ini. Satu detik, dua detik, tiga detik, semuanya masih aman. Tapi entahlah detik setelahnya itu tiba-tiba sebuah kalimat pasrah aku lontarkan dengan sedikit berteriak yang membuat sosok di sampingku itu justru tampak terlonjak kaget bukan main hingga tangannya kembali beraksi memukul bahuku dengan kerasnya. "Anak siapa gitu loh kamu itu mbak, bundanya sendiri dikaget-kagetin!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN