Keterima Serius?!

1244 Kata
Yah ... semua yang diucapkan oleh bunda itu memang benar adanya, dan aku semakin percaya hal itu memang. Saat sebuah harapan dilayangkan pada sebuah hal mungkin, itu wajar-wajar saja dilakukan tetapi yang tidak wajar itu saat sebuah harapan yang dilayangkan tidak disertai dengan doa dan mungkin bisa dibilang bahasa kasarnya itu terlalu disepelekan dan terlalu di permudah juga. Padahal kenyataannya semua itu tidak akan ada yang tahu entah itu kejadian di beberapa detik ke depan atau ke sekian sendiri kita tak akan pernah bisa menerka-nerka sendiri karena semua ini sudah diatur dengan kuasanya. Dengan seulas senyum aku layangkan dari arah dua sudut bibirku ini secara penuh saat ini. "Iya bunda iya Laras tahu ... Ehehehe alhamdulillah deh kalau bunda bangga punya anak kaya Laras. Ya ... soalnya gimana ya, bahkan Laras sendiri juga kadang tuh masih aja bisa nyepelein hal kecil. Cuma yah gini juga ... Laras juga sering khilaf sendiri Bun, apa ya ibarat kata tuh Laras juga sering mengeluh juga diam-diam gitu tanpa bunda tahu dan ada juga enggak sebaik kan sok dewasa yang mudah pikirin jugalah kadang juga larasnya masih kekanak-kanakan juga Bund. Tapi Laras percaya juga kok sama apa yang diucapin sama Bunda, Allah itu tahu yang terbaik untuk hambanya. Entah itu di urusan rezeki ataupun lainnya pasti Allah itu punya jalannya yang terbaik untuk hambanya sesuai kemampuannya masing-masing pasti. Laras udah benar-benar pasrah Bund setelah berusaha, nggak mau berharap lebih banyak lagi ya walaupun arah satu berharap tapi Laras enggak mau berlebihan juga buat berharapnya. Bukannya apa-apa, cuma aja Laras agak takut Bund kalau misalkan suatu saat karena hal itu juga Laras kembali dipatahkan sendiri malahan sama ekspektasi Laras sendiri. Jadi, Laras nggak salah dong yah?!" Panjang kali lebar aku lontarkan menjawab penuturan bunda tadi, yang tak sengaja dari penglihatanku ini secara penuh aku sadari Bunda yang tersenyum lantas mengangguk. Membawaku kembali ke dalam dekapannya, dan kembali hadir dengan aksinya yang mengelus-elus rambutku secara penuh. "Iya dong Mbak ... nggak apa-apa, pasrahin aja semuanya. Kamu juga udah berusaha kan, selebihnya itu serahin aja pada Allah yah. Nggak usah terlalu keburu juga buat ambis pengen dapetin hal lebih kaya jodoh atau apa. Biar mengalir aja mbak, pasti semua ada jalannya kok. Semua itu udah ada pasangannya masing-masing juga, ya itu tadi kembali ke point awal yang intinya apa-apa itu udah jadi dan ada jalannya sendiri buat setiap orangnya. Nggeh?!" Aku mengangguk secara penuh memang benar apa yang diucapkan oleh bunda, "Nggeh siap ...." ***** "Iyaa bunda bentaran ...." teriakku yang reflek aku lakukan di sini karena sebuah teriakan juga yang aku dengar berasal dari bunda memanggilku secara penuh. bersamaan dengan hal itu tanpa berbasa-basi pula aku langsung berlari keluar dari kamar walaupun masih dengan aksiku yang sesekali membereskan selimut dan beberapa pakaian yang sebelumnya tampak aku obrak-abrik penuh karena memang sebelumnya aku tengah berniat untuk membersihkan kamar tapi entahlah karena tiba-tiba bunda memanggilku hingga membuat aksiku itu pun terhenti bahkan dalam sekejap juga aku berhasil dibuat seperti robot yang tengah rusak mesinnya karena bisa bertemu dengan begitu cepatnya walaupun tak ada artinya sama sekali seperti apa yang aku niat kan tadi tapi saat ini hanya segera keluar dari kamar dan mencintai bunda seperti apa yang diteriakannya tadi yang membuatku kepo secara penuh tapi sama saja pada intinya semua barang yang ada di atas ranjang harus segera aku singkirkan dari sana dan seolah-olah sudah bersih semua agar tidak mendapat omelan dari bunda walaupun aku tahu sendiri juga bunda tak tahu juga aku akan melakukan hal itu dan pasti yang dilihat akan terlihat bersih. Kakiku, tanganku, bahkan otakku, dan keinginanku kini saling berpacu dengan penuh satu sama lain, masih dengan aksiku yang berusaha mengumpulkan beberapa pakaian diatas ranjang yang kenyataannya tidak ada rapi-rapi nya sama sekali dan justru malah aku perburuk dengan kedua tanganku yang mengobrak-abrik penuh jadi satu layaknya bola yang sangat besar di sini. Justru sukses membuatku membuang nafas kasar dalam sekejap di sini, "Ya Allah ... ini kalau misalkan aku ketahuan juga sama bunda dari tadi nggak salah saya salah saya dan malah mainan hp aduh mati aja deh aku astagfirullahaladzim ...." "MBAK ... ADA TELFON INI YA ALLAH, LAMA BANGET SIH KELUARNYA MBAK!" DAMN IT, kembali pandanganku refleks menatap ke arah luar sana yang masih tertutup sama sekali belum aku buka dan aku masih bingung sendiri harus bagaimana sedangkan di satu sisi bunda memanggilku yang membuatku kepo juga. Tetapi di satu sisi, aku meninggalkan segala aksi yang aku lontarkan tadi yang saat ini belum selesai dan malah aku tinggal jika bunda marah itu tapi ... ah sudahlah. Ini bukan waktunya lagi berpikir panjang ini harus segera dijawab dan segera dilakukan tindakan. "Hish, ya Allah. Mana bunda itu kayaknya apa itu namanya kaya datang ke sini lagi ya Allah ... hish, ya udahlah udahan aja benerinnya. Ketimbang bunda nggak buruan didatengin Yang ada malah tambah ngomel-ngomel nggak jelas nanti cari alasan lagi yang bisa juga juga. Fyuh ... oke bund Laras datang!" ujarku masih setengah lirih dengan detik kemudian aku langsung .... Berbalik dan semakin berjalan cepat, membuka pintu kamar, dan meninggalkan semuanya yang berserakan di kamar. "IYAA BUNDA ... INI LARAS DATANG BENTARAN ...." TAP! TAP! TAP! Langkah penuh semangat tetapi karena berdasarkan aku yang kepo itu, dalam sekejap sukses membuatku tanpa berpikir panjang berjalan ke arah bunda dengan begitu cepatnya ditambah lagi dengan diri pun juga yang saat ini kembali hadir dengan pikiran-pikiran ya memang diam-diam pikiran ini tampak secara penuh bertanya-tanya tentang sebuah hal yang paling mendasar dan paling membuatku kepo saat ini yaitu tentang, 'Bunda tadi bilang ada telfon? Lah, siapa yang telfon aku sampai segitunya bunda heboh? Lagian kan tadi data seluler ku juga aku matiin. Dan lagian juga tadi itu kayaknya aku juga mode silent deh kok bunda jadi ngeh sih kalau ada yang telepon?! Kok bisa-bisanya ya aduh apa sih ya Allah jadi kepo aku ih kakak ayo dong jalannya agak cepetan ....' Bodoh memang diriku, sudah jelas bukannya segera malah berpikir hal lain dan sudah jelas kaki tidak bersalah tapi malah aku yang banyak tingkah sampai kaki pun justru aku salahkan pada kenyataannya jika aku sudah itu juga pasti mah jadi grogi sendiri seperti sekarang ini seperti bingung juga ingin berbuat apa dan seperti tidak tahu lagi harus bagaimana. Entah, aku memang aneh. Tapi dari situ aku tau jika kenyataannya aku memang tak jel- "Hnah! Sampai juga nih anak, nih handphone kamu. Lama banget sampainya, ada telfon itu berulang kali. orang bunda juga manggil kamu dari tadi juga kenapa baru turun sekarang? Belum selesai heh? Ah tapi udahlah terserah kamu mbak yang pasti itu. Itu teleponnya diangkat dulu siapa tahu penting banget banget banget banget banget udahlah diangkat guru nih hp-nya!" Jujur bunda yang berkata demikian aku sedikit kaget dan sedikit kekuatan kau juga harus merespon hal itu sedemikian apa tetapi yang jelas menyadari hal itu aku hanya bisa menatapnya dengan segala wajah di sekitar laut yang aku keluarkan dari mimik wajah ini dengan segala kebingungan yang aku cetakan jelas menghindari wajah ini. "Apa sih bund?!" tanyaku bingung. Tanpa berbasa-basi lagi aku pun mengambil ponsel yang berada di genggaman Bunda. Meskipun aku juga masih bingung dan meskipun 1000 pertanyaan juga masih terngiang di otak. Tapi aku tetaplah aku yang masih selalu setia pada suatu hal yang nyatanya kadang terlalu rumit juga untuk diartikan di sini. Aku masih tetap lah aku yang selalu berdiam diri di sini dan hanya bisa ya selalu meratapi keadaan mungkin walaupun tak selamanya juga tapi aku tetap salah paham dengan semuanya lagi dan lagi sampai sekarang ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN