Kenapa sih, kangen gebetan?

2665 Kata
Author POV. Laras masih hanyut dalam lamunannya sendiri, sampai-sampai ucapan khas dirinya yang memang jika sedang ada diposisi seperti sekarang ini pasti terucap itu kini dalam sekejap memutuskan segala hal yang tengah dilakukan oleh Rara juga Fani di hadapan Laras seperti sekarang ini. Mungkin jika boleh dikatakan tadi mereka berdua yang tak sadar akan apa yang dialami oleh Laras tapi kini mereka berdua yang sangat sadar atas ketidak jelasan Laras dan atas segala kalimat yang terlontar dari bibirnya beberapa detik yang lalu itu sukses membuat kedua gadis yang tak lain tak bukan adalah Rara juga Fani ini tampak saling beradu pandangan satu sama lain dengan segala wajah-wajah bingung dan juga wajah penuh tanya itu. Mereka sadar, tapi Laras jelas tidak sadar atas apa yang dilakukannya saat ini. Sampai sebuah gelengan justru terlontar oleh Rara juga Fani merespon hal itu dengan sebuah tak percaya juga terlontar dari mereka saat ini. "Fan, kesurupan nih anak?!" tanya Rara pada Fani. Sedangkan yang ditanya justru tampak mengendikkan bahu tak tahu, iya karena memang kenyataannya begitu jangankan Fani yang ditanyai seperti itu. Karena kenyataannya Rara sendiri pun tak tahu tapi dirinya menanyakan hal itu kepada Fani, "nggak usah ngada-ngada deh kamu udah tahu kita tuh dari tadi fokus ini tiba-tiba ini anak kamu nggak tahu ya kapan ya terus ngomong nggak jelas kayak gitu?!" Kini bergantianlah Rara yang menghendikkan bahu tak tahu, "Lah ya entah? Lagian kita juga aneh sih. Udah tahu kalau kita sama-sama nggak tahu, tapi malah pada saling nanya kaya gitu. Haduhh aneh-aneh aja sih kit-" "Udahlah nggak usah digangguin nggak usah di iniin juga biarin aja tapi kalau dilihat-lihat kayaknya tuh Laras lagi galau deh yang nggak sih? Berarti kalau misalkan emang bener dia lagi galau nih kan kalau kita pakai nalar ya itu berarti dari tadi dia nggak dengerin kita cerita dodol!" "Lah iya juga ya?!" sahut Rara dengan sedikit kagetnya tapi memang masih sedikit ya kontrol juga sampai dengan sebuah anggukan dilayangkan oleh Fani merespon hal itu." "Ya iya kalau kayak gitu kan bukan masalah ini atau apa ya bisa dibilang karena yang nggak kita sehari juga tapi otomatis kalau misalkan dia aja sekarang kayak gini noh lihat noh malah kelihatan banget punya aku juga baru ngeh kalau misalkan dia tuh ngelamun dari tadi juga aku kirain tuh dia diem bae bae tuh karena emang lagi males ngomong emang lagi ngedengerin aja gitu kok sekarang malah ngelamun. Ya kan? Hadeh ... Kudu kita apakan nih heh?!" "Kita apakan?!" tanya Fani berbalik yang jujur itu langsung dijawab sebuah anggukan kembali oleh Rara seperti apa yang dilakukan oleh Fani sebelumnya tadi. "Ya kalau misalkan kita apakan udah kayak apa aja gitu, udahlah pasti nggak ada apa-apa kok kita biarin aja. Lagian kalau misalkan kita musik nanti mah pikirannya kita gimana gimana juga teko kita tuh gayanya sok nggak tau aja, biar dia senang terus jadi tukang Mbak ini soalnya gimana pun juga kan lagi ngelamun digangguin nanti malah yang ada kita kena semprot lagi sama si Laras. Udah biarin aja dulu oke?! Nanti kalau misalkan emang beneran marah sudah sadar maksudnya iya paling enggak kalau misalkan kita udah ada alasan buat nyadarin dia nah itu dah baru waktu yang tepat kita untuk apa ya istilahnya kayak ya kalau mau apa kek gitu lah intinya puyeng. Biarin aja dulu." Dengan sampai Fanny berkata demikian ini semakin dibuat oleh keadaan. Tapi tidak dengan cara yang justru malah tampak seperti menyudahi semuanya itu dalam sekejap pula yang nampak berdecih tipis di tempatnya. 'Ya mau nggak dibayarnya gimana orang kalau misalkan aku mengusik juga nanti takutnya malah sih Laras kalau misalkan tadi aku rada nyembunyiin sesuatu. Kayaknya Laras tadi emang tahu kalau misalkan aku lagi ngelamun kayak ibarat kata dia gitu kan aku habis gitu. Soalnya mau terlihatkan ataupun nggak juga ujung-ujungnya tetap kelihatan kalau misalkan begitu. Lagian kamu juga error banget sih kan udah tahu kayak gini masih aja malah berulah kayak gitu astagfirullah. Udah tahu kalau tadi kamu rada bohong dikit yang nggak dikit sih sebenernya banyak juga masih aja berulah astagfirullahaladzim. Emang kayaknya tuh aku sama Laras itu sebenarnya sama aja sama-sama nggak bisa ngontrol segala hal yang tiba-tiba harga tapi kalau dipikir-pikir ini kenapa dih kangen gebetan apa ya?!' Rara sibuk memainkan ponselnya saat ini, berbeda dengan Fani yang kini masih menatap ke arah Laras dengan segala ke kediamannya itu yang siapa sangka jika sebenarnya ia tengah sibuk dengan pikiran-pikirannya dan juga dengar kata hatinya sama yang terus berkeliaran penuh tanpa diketahui oleh Rara dan pastinya itu juga tetap menyangkut tentang Laras dan segala kekonyolannya tadi. Dan seperti yang terlihat bahkan kini seperti mereka tengah asyik dengan segala kesibukannya masing-masing, Rara dengan aksinya, Fani dengan batinnya, dan Laras dengan lamunannya. Tak ada yang tahu dan tak ada yang bisa menyudahi semuanya itu di sini. Karena kenyataannya tak ada yang tahu dan tak ada yang mengerti juga atas apa yang terjadi diantara mereka kecuali diri mereka sendiri seperti sekarang ini. Bahkan para pun kini sudah kembali hadir dengan pikirannya yang dalam sekejap berkata, 'Asli sih! Ini hari mulai sore mulai pada nyebelin juga. Nggak otang orangnya, nggak suasananya, nggak ininya sama aja sih semuanya. But, ya udahlah yaa kayaknya enak rebahan lagi deh.' Dan benar saja, selesainya berkata demikian Rara benar saja kembali membenarkan posisi yang lantas merebah penuh di tempat semula. "Fan, aku tak tidur aja yah udah nguantuk" "Heh, bahasamu itu loh udah ngantuk udah ngantuk ini kan masih siang Bambang ...." "Eh iya deng maksudnya itu ya intinya itu aku mau tidur kamar bahan kayaknya enak gitu siang-siang kayak gini ya walaupun udah nggak siang sih bisa dibilang udah hampir mau sore juga gitu hawa-hawanya. Lagian kamu tuh ribet banget sih aku typo ngomongnya cuma dikit juga sama kamu di koreksinya banyak banget, hadeuh ... Iya iya iya terserah apa katamu kamu sekarang mau bobok. Jangan diganggu oke mbak cantik? Intinya pokoknya jangan diganggu aku pengen bobo kalau mau ganggu itu ganggu aja sih Laras tuh, itu kalau mau dibantu kayaknya lebih asyik soalnya lagi ngelamun kayak gitu biasanya kalau dikagetin suka langsung ini kan sudah langsung apa namanya tergiur. Eaa bahasanya, itu aja nanti juga kan pasti dia kaget langsung deh mencak-mencak wkwk. Udah ah bye! Mo rebahan ...." Sedangkan disatu sisi, Laras masih asyik dengan lamunannya. Merenung penuh dan entah kenapa seperti tidak bisa ditutupi lagi hal itu dan tidak bisa terkontrol oleh pikirannya saat ini. Author POV end! "Arghhhhhh ... Pengen move on aku tuh, tapi susah bangetttttttttttt ...." Greget, dan tak tahu lagi harus bagaimana. Laras hanya bisa mengosak-asik rambutnya penuh kegelisahan seperti sekarang ini. Dug! Kepalanya pun terhantam jendela tiba-tiba. Membuat Laras meringis pedih namun segera ia sudahi segala ringisan lebaynya itu. "Asli deh, lama-lama aku tambah gila kaya gini mah!" tukasnya brutal. Tanpa babibu lagi Laras pun kembali menatap ke arah luar sana gimana pemandangan malam kembali ia lihat penuh dari arah penglihatannya. Dibenarkannya posisi duduk gadis itu sekarang, kepala yang tadinya terbentur itu pun kini ia sandarkan dengan perlahan ke arah samping jendela sana. Menompangkannya pada tembok yang jelas masih bisa membuatnya menatap penuh ke arah luar sana seolah menikmati dan meresapi segala kesunyian juga ke beradaan malam yang memang selalu membuat Laras tertampar dan tertindas secara keras-keras oleh kesadaran nya yang tiba-tiba pulih total seperti sekarang ini perihal percintaan juga perihal dirinya yang selalu berharap pada sesuatu yang tak pasti seperti sekarang ini. Mata lentik itu masih setia menatap ke arah sana lurus tanpa teralihkan sedikitpun. Batinnya sekarang penuh dengan segala ketidak jelasan juga dengan segala bentuk aksi anarkisnya yang sok mempuitiskan isi hati dengan kenyataan yang ada. 'Aslinya sakit, kecewa, dan marah dengan keadaan. Tapi kita tak bisa menyalahkan semuanya terus menerus. Dunia ini berputar terus, roda kehidupan pun tak selamanya di atas juga di bawah. Semua hanya permainan waktu. Sedang didewasakan oleh kenyataan itu lah yang harus ada di pikiranmu saat ini. Sedang dibiasakan oleh kenyataan itu adalah cara Tuhan mengistimewakan mu. Sedang dihadapkan dengan hal-hal yang menakjubkan itu adalah kehendaknya yang membuatmu semakin tinggi harga dirinya. Semua ini hanya tentang cara Tuhan mendewasakanmu, mengujimu, dan hanya tentang cara Tuhan yang memperlakukanmu untuk dirimu sendiri.' "HAH!" Dibuangnya keras-keras nafas Laras saat ini, kedua tangan itu kini kembali mengosak-asik rambutnya penuh. Membenarkan posisi duduknya dengan segera lantas kembali disibukkan dengan diri yang kembali teringat pada hal miris yang sedari tadi dipikirkannya. "Apa tadi? Cara Tuhan memperlakukanmu?! CK! Laras ... Laras ... Cinta emang butuh didewasakan? Dahlah, ribet banget asli soal cinta mah!" Bruk! Secepat kilat, badan itu kini sudah terhempas penuh ke atas kasur setelah sebelumnya sempat ia dengan segala ketidak santai Yan nya juga dengan segala keterbatasan perusahaan yaitu Laras bangkit dari dudukku dan berjalan ke arah ranjang tempat tidurnya dan berakhirlah seperti sekarang ini. Ia hanya bisa menatap langit-langit kamarnya dan meninggalkan jendela kamarnya yang masih terbuka setengah di ujung kamar itu. 'Teruntuk kamu yang tak pernah bisa kurengkuh raganya, yang hanya bisa ku peluk angannya tanpa bisa memiliki sepenuhnya. Bolehkah aku kembali berharap lagi? Bahwa keadaan akan mempersatukan kita dengan takdir indah-Nya?! Semuanya memang abu-abu, keadaan tak pernah mempersatukan kita, keadaan tak pernah mendukung kita bersama. Tapi, bukankah takdir juga kehendak-Nya tak mungkin bisa dielak lagi? Mungkin saat ini kau berlari segitu jauhnya dariku, tapi percayalah semuanya tak membuatku mundur yang justru malah membawaku semakin ingin memilikimu seutuhnya. Aku egois? Mungkin saja, tapi jangan salah keegoisanku ini. Tapi entahlah apa berakhir bahagia ataupun berakhir aku ya memang harus melupakanmu sampai ke inti-intinya sana. Ingatlah, bawa kamu masih menjadi pemilik tahta tertinggi hati yang mudah rapuh ini.' Sejenak Laras menatap ke arah samping, menatap ke arah lain dimana keberadaan bantal dan gulingnya berada saat ini. Diambilnya segera lantas dipeluknya penuh sampai fokusnya pun kembali teralih saat kembali menatap ke arah depan sana dengan tatapan setengah kosong yang dilakukannya. Merebah penuh dengan badan yang tengkurap di sana lantas menghelakan nafasnya kembali dengan kasar. 'Mungkin aku bodoh? Argh ya iya memang aku bodoh karenamu. Masih berani mencintai padahal kenyataannya engkau pun takkan pernah bisa ku genggam tangannya. Mungkin aku terlalu ambisius untuk memilikimu, terlalu egois terlalu memaksakan takdir sedangkan di antara kita perbedaan jauh membentang di dalamnya. Dulu memang itu ku pikirkan matang-matang, tapi kini aku sudah ber bodo amat dengan keadaan. Tapi sama aja, rasanya semua ini terlalu berlebihan untukku dan kesehatan hatiku sendiri. Fiuh ... Harus dengan cara apa coba aku melupakan semua ini? Sedangkan takdir pun semuanya sudah tergaris dengan sendirinya. Lantas, apakah pantas juga aku terlalu menuntut banyak? Arghh entahlah pusing ....' Berakhir bahagia denganmu adalah sebuah keinginan yang terpendam. Tetapi tak memilikimu bukanlah masalah yang besar asalkan kau masih tetap ingat namaku walau hanya panggilannya saja. Aku tak minta banyak hal darimu, cukup ingat aku bahwa aku pernah ada di hidupmu Meskipun aku pun tak pernah dekat denganmu Itu saja sudah membuatku bahagia walau kau tak sadar. Selamat jumpa di penghujung takdir yang masih abu-abu ini. Aku selalu berharap semoga kita bisa dipersatukan di kemudian hari tanpa segala keraguan di dalamnya sana.' Kembali, helaan nafas panjang terlontar dari diri Laras dengan pandangannya yang masih saja menatap penuh ke arah langit-langit kamarnya sana. Otaknya berpikir keras akan kebodohannya sejauh ini, hatinya berkecamuk hebat karena ketidakmampuannya untuk membasmi segala rasa yang mungkin memang salah tempat ini. Otaknya ingin melupakan, namun hatinya berkata,"Tidak dulu! jangan move on!" Lantas, ia harus bagaimana? Terjebak pada keadaan seperti ini terlalu sakit jika harus diingat-ingat terus menerus. 'Nyatanya bibir ini berucap tidak akan kerinduan. Tapi otak dan hati ini seolah menolak semuanya bahwa aku justru merasakan hal yang lebih dari sekedar kerinduan. Namun kenyataan ini kembali menghantam bahwa kita memang tak kan pernah bisa saling menggenggam. Aku memang tak tahu lagi harus dengan cara apa menghilangkan semuanya seperti tujuan awal ku yang selalu ingin melupakanmu tanpa melukai perasaan ku lagi. Perasaan ini memang sudah hilang, itu dulu! Seperti ucapan yang selalu aku lontarkan namun pada kenyataannya semua sama saja karena aku masih saja mengingatmu dan segera keterdiaman ku. Perihal melupakan mungkin aku ahlinya berucap, tapi tidak dengan ahlinya bertindak. Perihal mencintai mungkin aku lah ahlinya berharap, namun tidak untuk ahlinya mengejar. saat semuanya tak sejalan dengan ekspektasi mungkin aku hanya bisa termenung tak jelas meratapinya. Tapi di situ seakan aku hadir di tengah-tengah kepercayaan juga kepasrahan akan semuanya yang menamparku dalam dalam. Aku tak pernah bisa hadir untukmu selalu, aku tak pernah bisa mencarimu setiap saat tapi aku bisa merindukanmu dan mendoakanmu setiap waktu di pertambahan detiknya. Hanya untuk kisah di masa lalu yang ku harapkan bisa berlanjut di masa depan meskipun terhalang oleh masa sekarang ia menjauhkan kita dengan jarak yang sangat membentang.' "Hadeuhhh ya Allah ... Sampai bingung aku harus kaya gimana lagi saat ini. Fyuh ...." Kembali Laras membalikkan badannya ke samping, menatap sebuah meja belajar yang seolah-olah sudah sangat lama tak pernah dia anggap lagi keberadaannya semenjak ia lulus sekolah menengah atas. Sebuah guling masih didekapnya penuh-penuh, rambut panjangnya bahkan sudah mulai tidak berbentuk lagi karena segala aksinya sedari tadi yang tak bisa diam sama sekali. Helaan nafas panjang pun kembali ia lontarkan sembari dengan penuh-penuhnya ia menatap ke arah depan sana lurus. "Hadeuh ... hai diri yang pernah membuatku jatuh karena cinta berkali-kali tapi juga membuatku hadir dengan pengharapan yang luar biasa secara berkali-kali. Engkau mungkin tak tahu jika pada kenyataannya aku diam-diam selalu mendoakanmu, berharap bahwa kita akan dipersatukan di kemudian hari dan berharap bahwa kita akan bisa didekatkan tanpa sebuah jarak yang membentang lagi di antara kita. Mungkin ini memang lebay dan mungkin ini terkesan membuang-buang waktu saja. Tetapi bukankah menyukai itu hak semua orang? Dan mungkin inilah aku yang selalu menyukaimu dan mengharapkanmu juga selalu berdoa akan kehadiranmu yang bisa dekat denganku dan memiliki seutuhnya sebagai pasanganmu yang mungkin akan membawa kita ke jenjang yang lebih serius lagi. Mungkin ini terkesan terlalu memaksakan takdir, tapi bukankah kamu tidak ada salahnya juga jika aku mengharapkan sesuatu yang lebih atas apa yang sudah membuatku bahagia walau tak pernah disadari oleh sang empunya tingkah tetapi aku selalu mendoakan agar masa itu bisa datang kepada kita. Kita yang kini masih menjadi aku dan kamu karena jarak dan keadaan juga kenyataan yang kini mungkin belum bisa mempersatukan kita. Jaga diri baik-baik ya ganteng, aku tahu di balik semua kejombloanmu itu mungkin engkau sedang mencari seorang wanita yang lebih baik dan mungkin bisa mengisi hari-harimu seperti apa yang engkau standark-" "Eh?!" Seketika Laras tersadar, entah ada angin apa di sana. Tetapi yang jelas, ia bahkan tak tahu menahu akan semua hal di sini. Atas semua hal yang ia rasakan saat ini, juga atas semua hal yang tiba-tiba membuat jiwa-jiwa kebucinannya meronta-ronta dengan hebat. Badan itu bahkan langsung terduduk dalam sekejap, sebuah guling yang sebelumnya ia peluk erat erat dengan segala lamunan ketidakjelasan itu kan ini bahkan sudah berada di sampingan persis tanpa sebuah pelukan erat yang dilakukan oleh Laras seperti sebelumnya. "Ih, aku apaan sih? Masa tiba-tiba mikir kayak gitu sih Astagfirullah ... masa tiba-tiba juga aku kayak malah bilang ini itu tentang dia dan ya ujung-ujungnya mah buat aku nggak jelas sendiri kayak sekarang ini." "ARGHHHHHH ... SUMPAH DEH HARUS GIMANA SIH AKU CARANYA BIAR BISA NGELUPAIN DIA BIAR NGGAK INGET-INGET DIA TERUS ATAU BELAKANG KEINGAT YA ATAU APA GITU LAH ISTILAHNYA. HUEEEEEEE AKU CAPEK HIKS!" "ARGHHHHHH ... SUMPAH DEH HARUS GIMANA SIH AKU CARANYA BIAR BISA NGELUPAIN DIA BIAR NGGAK INGET-INGET DIA TERUS ATAU BELAKANG KEINGAT YA ATAU APA GITU LAH ISTILAHNYA. HUEEEEEEE AKU CAPEK HIKS!" Dengan segala ke tidak penuh perasaannya Laras bahkan menggosok asik rambut panjangnya itu penuh, Hembusan napas kasar kembali dilontarkan oleh Laras lagi dan lagi di detik sekarang ini dimana pandangan matanya kini ia alihkan ke arah samping dengan tangan yang memijat keningnya penuh serta dengan diri yang tak bisa berpikir jernih lagi atas apa yang selama ini merasuk dan menjelma begitu saja mengubah dirinya dan bahkan membuat dirinya sendiri tanpa bingung 180 derajat setelah perasaan ini ada dan setelah perasaan itu sampai sekarang masih membekas tanpa permulaan sama sekali. sampai beberapa detik atau bahkan bertahan sampai kesekian detik setelahnya belum berakhir ia yang hanya bisa menghelakan nafasnya kasar kasar. "HAH! AKU CAPEK!" DAMN IT! Author POV end.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN