Salju terhampar sejauh mata memandang. Begitu elok. Teramat indah. Embun mengristal di ujung tangkai cabang yang tak sempat lelap saat musim gugur. Permukaan danau mengeras seperti cermin, sinar matahari pun memantulkan pendar pelangi. Negeri impian. Dongeng milik anak manusia. “Nox....” Rasa sakit mendera. Dia berusaha menumpukan kekuatan pada kaki, satu per satu, melangkah meski tertatih. Lengan melingkupi gadis berambut merah yang kini gemetar. Andai bisa membagi kehangatan bersama, pikirnya. Namun, saat darah menetes melalui ujung jemari, jatuh, kemudian mekar seperti poppy di musim dingin; ia merasa waktunya hampir habis. “Kita tidak boleh berhenti,” katanya kepada si gadis. Uap mengepul ketika ia berbicara, melayang, lalu lenyap. “Kau harus kuat.” “Aku tidak mau! Tinggalkan a

