Surat dari Nox tiba seminggu kemudian. Di luar dugaan, dia menepati janji. Awalnya sempat berpikir dia tidak akan menanggapi keresahanku. Selalu ada yang lebih penting daripada “membalas surat”. Bisa saja penyihirku ini melakukan apa pun selain mengabulkan keinginan teman masa kecilnya. Namun, itulah yang terjadi. Dia membalas. Kertas lavendel bertuliskan ungkapan kerinduan. Kata-kata yang tidak kumengerti. Maksudku: Aku tidak mengerti alasan Nox menulis kalimat manis (yang kujamin bisa meruntuhkan hati wanita mana pun). Awalnya kukira aku tengah berhalusinasi. Halusinasi buruk. Lalu, setelah kupastikan beberapa kali (tepatnya k****a berulang kali) barulah aku menyerah dan yakin surat itu benar-benar ditulis Nox. Sebagai teman baik (dan calon rekan kerja), aku pun menulis balasan. Tentu s

