25

1111 Kata

Waktu terasa kekal bagi jiwa-jiwa yang merana. Mungkin kesepian berhasil melenyapkan sebagian besar sukacita hingga tersisa getir. Tidaklah mengejutkan bila seseorang tertegun saat menyadari bahwa dirinya tidak sempurna sebagai insan; mungkin ia, si pemurung, berhasil menghitung kancing-kancing kemalangan dan berandai menjahit jubah kebahagiaan agar suatu hari kancing kemalangan miliknya segera memudar—menyerpih bagai debu sihir pengabul impian. Namun, sejatinya impian—hal yang diinginkan tercapai—pun tidak sepenuhnya mustajab. Serupa elegi melankoli; pahit di awal, pedih di akhir. Berkali-kali membuat pengharapan, berkali-kali memendam sepi. Bagai kuncup mawar perindu yang mekar bersama duri kecemburuan; saling menyakiti bahkan setelah bersumpah setia. Sama seperti maut milik si pemurung.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN