24

1221 Kata

Diam itu emas.  Seharusnya kupatuhi nasihat bijak tersebut sebelum mengikuti Jenin-sialan-pembawa-petaka. Aku ingin menyalahkan seseorang dan oknum yang pantas disalahkan hanya ada satu yakni, Jenin.  Seharusnya (sekali lagi kusebutkan kata “seharusnya”) aku belajar dari novel (syalala, judul buku pembawa petaka memang tidak boleh disepelekan). Alina mati karena cemburu kepada Yuna dan aku “bisa saja” mati akibat memercayai Jenin.  Kami berdua, aku dan Alina, terlalu hijau dalam membaca perkara. Alina menganggap dirinya pantas dicintai Caius, melepaskan seluruh kesempatan hidup, dan berakhir tragis. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga; cinta bertepuk sebelah tangan dan mati sebagai penjahat.  Aku? Oh ya, aku tidak berencana mati seperti Alina, tetapi langkah yang kuambil bisa jadi senja

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN