Epilog

261 Kata

Musim panas kali ini benar-benar terasa menyengat. Semua orang sibuk mengusir gerah dengan cara mengipasi diri menggunakan tangan maupun buku—pokoknya apa pun yang bisa digunakan sebagai alat pengusir panas. Bahkan di dalam busway pun aroma parfum beradu dengan keringat. Apalagi di hari kerja seperti ini, orang-orang sibuk mempersiapkan diri menyambut musim gugur dengan cara mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Termasuk gadis berambut merah yang duduk di antara lelaki berkemeja biru dengan aura “harapan hidup bersisihan dengan perut mengembung” dan seorang nenek yang sibuk menceritakan masa mudanya. Gadis itu berencana melamar pekerjaan di salah satu kafe sebagai pramusaji. Rencanya dia ingin mengumpulkan uang demi membantu adik lelakinya masuk ke universitas. Dia tidak bisa sekolah karena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN