Dahulu kala Dewi Bulan menganugerahi benih sihir kepada manusia. Kekuatan itu berupa cahaya sebesar kunang-kunang. Tertanam di kedalaman sanubari, menunggu panggilan; agar bertumbuh, memekarkan kuntum pengetahuan, dan menjelma sebagai eksistensi. Namun, benih sihir terkadang tidak mampu bertunas dalam diri seseorang. Perlahan-lahan mengendap kemudian terlupakan; turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Lalu, pada salah satu wadah, benih sihir menerima panggilan dan mewujudkan diri menjadi kekuatan. Sebagian menyebut para benih sihir sebagai penyelamat, sementara yang lain dianggap titisan dewa karena digdaya. Tidak semua memahami keberadaan benih sihir, mereka—para manusia—pun mengandalkan pengetahuan lain. Pengetahuan ini bukan sembarang ilmu. Informasi tersebut merupak

