Kegilaan. Andai benar terserang kegilaan, mungkin hatiku tidak sesakit ini. Terpenjara dalam ruang tanpa jendela, satu-satunya cahaya hanya berasal dari nyala lampu minyak yang tertanam di bagian luar dinding sel. Tidak ada apa pun; dipan, gelas, piring, bahkan jerami—tidak ada apa pun selain diriku. Mereka—para prajurit—mendorongku masuk tanpa basa-basi. Nyeri terasa di bagian rusuk. Aku meraba pinggang kemudian turun ke pergelangan kaki. Dingin. Ujung jemari seperti tersengat. Seseorang memasang kekang pada salah satu kakiku. Rantai tersebut terpaku pada dinding di belakangku. Aroma ruangan mengingatkanku pada ruang bawah tanah; apak, lembap, dan basah. Di seberang jeruji tidak ada ruang apa pun. Hanya dinding yang disusun dengan batuan hitam. Tidak ada suara manusia menangis, ucapan

