Kukira selamanya Jenin nyaman sebagi Yuna. Padahal aku tidak peduli identitas gender tokoh yang satu ini. Terserah dia ingin diperkenalkan sebagai “lelaki” ataupun “wanita” asalkan tidak membahayakan keselamatanku. Namun, Jenin tiba dan segala prasangka buruk pun meletup dalam kepalaku. Satu, dia mengenakan busana mewah lengkap dengan cravat sutra. (Jenis pakaian yang mengingatkanku kepada aristokrat Eropa.) Rambut dikuncir ekor kuda. Kalian bahkan akan takjub melihat betapa mahal sutra yang ia gunakan sebagai pita. Dua, seminggu sebelum kedatangannya, Jenin mengirim surat pemberitahuan bahwa ia berniat berkunjung. Artinya ini pertemuan resmi. Uhuk. Uhuk. Uhuk. Sebagai salah satu pebisnis sukses di masa depan, aku tidak boleh pilih-pilih klien. Harus prosfesional walaupun insting menga

