Nox. Aku ingin memanggil. Dia berada begitu dekat. Terpisah beberapa langkah. Jarak bukan lagi kendala di antara kami. Tinggal kurentangkan tangan maka kerinduan dalam diriku akan terbayar. Ingin bertanya, “Apakah kau merasa apa yang kurasakan?” Namun, kata-kata membeku dalam bibir—tidak terucap, tenggelam bersama penyesalan. Andai kami terlahir di zaman berbeda ... atau apabila kami ada di duniaku berasal, mungkin tidak perlu ada sekat pembatas di antara rindu dan sayang. Aku bisa jujur pada perasaan, sementara dia bisa menjadi apa pun yang ia mimpikan. Kami tidak perlu bersembunyi karena cinta merupakan pelindung sekaligus penyembuh. Akan kusembuhkan setiap luka dalam diri Nox. Dia tidak perlu takut ditinggalkan. Tidak seperti masa kanak-kanak miliknya yang kelam. Mungkin aku bisa

