Inilah kali pertama aku merasa rumah merupakan satu-satunya tempat teraman. Kelegaan membanjiri hati saat kulihat Inocia dan Joseph. Mereka tidak terluka. Hanya aku seorang. Kemungkinan besar kami bertiga sama-sama syok. Entahlah. Aku tidak berani menanyakan kabar Caius dan ayahnya. Tidak, setelah kulihat guratan letih dan teror yang terlukis di wajah mereka. Lukisan kematian yang pernah kulihat; panah-panah api membakar tubuh, bau daging terpanggang, teriakan perih bercampur ngeri, dan tatapan kosong setelahnya. Aku tidak bisa melupakan kengerian yang telanjur membayang di benak. Lekat seperti malam bernuansa jelaga tanpa taburan bintang. Sungguh berharap datangnya penyelamat, tetapi iblis telah menuang racun ke dalam jiwa-jiwa malang. Itulah yang kini kami alami. Inocia dan Joseph bi

