Alkisah seorang penyihir jatuh hati kepada anak manusia. Namun, sebagai makhluk yang ditakdirkan menyendiri, maka ia pun mengurungkan niatan mempersunting pujaan hati. Hari demi hari, musim berganti musim baru, penyihir itu tidak bisa melupakan cintanya terhadap anak manusia. Dia menginginkan kehadiran gadis itu dalam kehidupannya. Sudah tidak terbilang malam-malam ia habiskan dalam perenungan serta rasa merana yang luar biasa. Oleh karena itu, dia pun berpikir cara menyembuhkan hatinya dari rasa nelangsa. Sayangnya cinta bukanlah penyakit yang gampang diobati. Si penyihir tidak memahami bahwa dalam mencintai haruslah ada keterbukaan dan penerimaan. Dia hanya mampu melihat gadis pujaannya dari jauh; tidak berani mendekat, diam-diam menyelipkan sekuntum mawar di antara lembaran kertas,

