Aku tidak bisa berhenti memikirkan Jenin. Kecemasan dan Kegetiran. Kali ini aku tak sanggup membedakan keduanya. Bahkan di saat Perayaan Bintang Jatuh tiba, hatiku tetap risau seakan ada sesuatu yang terlewatkan olehku. “Aku akan meminta jodoh yang baik.” Emily membantuku bersiap. Gaun merah delima berhias mutiara. Rambutku dikepang dalam satu ikatan. Setangkai mawar merah diselipkan dalam kepangan. Sepasang sepatu merah, pada ujung sepatu bertengger kupu-kupu hitam. Selama beberapa saat aku termangu menatap pantulanku di cermin. “Sempurna,” Emily mengomentari hasil karyanya. “Nona, malam ini kau akan jadi bahan perbincangan.” Alih-alih membalas, aku memilih bergegas menemui orangtuaku. Mereka berdua tampak antusias menyambut perayaan. Kereta kuda lengkap dengan kais menanti intruks

