Saat matahari tenggelam, kulihat pancaran matamu menyiratkan duka. Aku ingin melukis ulang kenanganmu dan menggantinya dengan kebun berisi bunga harapan. Lalu, suatu saat kau bisa mengingatkan dengan cara berbeda. Lebih indah. Lebih menyenangkan. Kau tidak perlu kembali ke pulau duka. Tidak ada siapa pun yang menunggumu di sana kecuali sesal dan amarah. Bukankah ada aku di sisimu? Tidakkah itu ada artinya? Atau mungkin kau memilih mengurung diri dalam kepompong yang benangnya kaupintal dari duka? Kemarilah. Kemarilah dan akhiri segalanya. “Siapa namamu?” “Nox.” Kediaman Joseph terlihat hidup. Sangat berbeda dari tempat tinggal Nuer. Mungkin karena ada sentuhan wanita, maka elok dipandang. Sofa bermotif mawar merah, meja berukir daun mawar, dinding-dinding dilapisi kertas berm

