"Dunia kamu nggak terhenti di sana, An," sahut Prakasa yang sedaritadi mendengarkan curahan Anara. Anara mengangguk. "Ya. Aku sempat depresi berat satu bulan setelah pemerkosaan. Aku berkonsultasi pada Psikiater untuk meluapkan semua ketakutanku. Aku banyak mendengarkan kalimat-kalimat positif yang memotivasi supaya aku bisa sedikit tegar. Karena bagiku, orangtua bukan solusi terbaik menceritakan semua trauma yang aku rasakan." Prakasa menghela napas panjang. "Kiara nggak pernah menceritakan apa pun tentang kamu." Anara mengangguk. "Walau kami sama-sama perempuan, tapi kami nggak terlalu dekat." Mata Prakasa memicing. "Apa mungkin kamu bukan anak kandung Abah?" Anara tersenyum kecil, senyuman yang mampu membuat Prakasa terpaku saat melihatnya. "Aku pernah menebak seperti itu, tapi Aba

