"Habis dari mana kalian?" Keduanya saling melempar pandangan, sebelum akhirnya salah satu dari mereka menjawab, "Tadi mampir dulu ke rumah saya, Bah," Prakasa membuka suara. Mata Abah memicing penuh seledik. "Kenapa nggak telepon Abah, An?" Anara mengedik. "Nggak lama, Bah. Cuma menghindari macet aja." "Kalian sudah memulai pendekatan?" "Sudah," "Belum," Keduanya kembali bersitatap, Anara mengalihkan tatapannya ke lain arah. "Kami lagi menjalani prosesnya, Bah. Nggak mungkin kalau harus menikah langsung," jelas Anara tanpa mau meminta persetujuan Prakasa. "Ana ke kamar dulu, Bah. Mau bersih-bersih," pamit Anara pada Abah yang hanya bisa menghela napas pelan. Anara meninggalkan ruang tamu, tatapan Prakasa tak lepas menatapi punggung Anara yang mulai menjauh. "Duduk, Sa." "Ah, iy

