Gundukan tanah itu sudah mengering, terlihat gersang terhembus angin. Langkah lebar Prakasa semakin dekat pada gundukan tanah yang bertuliskan 'Kiara Anataya', istri dari Prakasa Pramana. Senyum hangat sudah siap mengiringi Prakasa. Sesampainya di sisi makam, Prakasa mengusap batu nisan lembut. "Apa kabar, Sayang?" Prakasa mulai bermonolog sendiri. "Maaf, akhir-akhir ini aku jarang banget tengokin kamu." Prakasa menghela napas. "Ada yang mau aku ceritain sama kamu, Ki." Prakasa tahu perasaannya bukan masalah lagi untuk Kiara, tapi rasanya ia memang harus menceritakan semuanya. "Satu bulan lalu, Abah masuk rumah sakit, lalu minta aku menikahi Mbak Anara. Aku jahat nggak sih langsung menyetujui tanpa peduli penolakan Anara?" Prakasa mengambil keranjang bunga, mulai menaburnya di atas g

