"Lo serius, An? Udah dipikirin matang-matang?" Siren bersuara lantang menarik perhatian orang-orang di kantin kantor mereka. "Bisa pelan sedikit?" Siren menggeleng tak habis pikir, menggeser tempat duduknya semakin merapat pada Anara. "An, Prakasa itu adik ipar lo. Dia juga kelihatan banget cinta sama adik lo, nggak takut jadi pelarian?" Anara mengedik. "Gue juga nerima ini supaya bisa menghindar dari tekanan Abah sama Mama, lebih baik mundur untuk menang, kan? Daripada harus terus bertahan semakin terluka?" Siren mengerjap bingung. "Pikirin lagi deh, An." "Udah gue pikirin baik-baik, Ren..." Siren mendesah pelan. "Menikah itu perjanjian sakral loh, An. Bahaya kalau cuma dibuat main-main." Anara mulai jengah, memutar bola mata malas mendengus kesal. "Lo nggak bisa ngomporin gue,

