Kepala Prakasa rasanya ingin pecah membaca ulang syarat yang ditentukan. Bagaimana bisa ia melupakan semua tentang istrinya? Namun, hatinya berontak ingin menyetujui syarat itu untuk bisa menikahi Anara. Ada apa dengan dirinya? Bukankah semua hanya karena mertuanya? Seharusnya ia menolak bukan malah menimbang syarat konyol ini. Astaga...
Telepon berbunyi, Prakasa tergesa mengangkatnya. "Prakas, berkas yang harusnya sudah ada di meja saya hari ini tidak ada. Kamu lupa mengantarkannya?" Ah iya, dia lupa. Begitu masuk ruangan, dirinya malah membolak-balik kertas yang diberikan Anara.
"Saya akan mengantarkannya sekarang, Pak." Prakasa segera berdiri mencari berkas di bagian tumpukan berkas lainnya.
"Sepuluh menit. Antarkan pada sekretaris saya."
Telepon terputus, Prakasa mengembuskan napas berat. Ia melirik sekilas kertas syarat dari Anara, memang yang sudah tiada tak akan bisa kembali. Namun, bukan masalah bila yang sudah tiada itu tetap ia simpan dalam hatinya. Seketika Prakasa mengambil pulpen dari saku kemejanya tanpa keraguan ia menandatangani materai 6000. Ia merasa tertantang ingin tahu sampai mana ketangguhan seorang Anara.
***
Anara melangkah pelan menyusuri koridor kantornya, karena fokusnya sedang tidak berada di tempat. Anara memasukkan kedua tangan ke saku blazernya, sepatu heels rendahnya terdengar mengetuk begitu pelan. Rasanya ingin sekali membenturkan kepalanya berkali-kali pada tembok beton saking pusingnya. Masalah pekerjaan tidak pernah membuatnya sefrustrasi ini.
Jujur, dirinya masih takut dengan yang namanya pernikahan. Kenapa? Karena saat bayangan hari pernikahan itu tiba, yang ada hanya rasa takut dan pedih yang ia rasakan.
Bagaimana tidak, lelaki yang berhasil membuatnya takluk dan luluh pada yang namanya cinta malah membuatnya terluka sampai detik ini. Seandainya saja lelaki yang berhasil membuatnya jatuh cinta itu mengatakan lebih awal kalau dia tidak mau menerima keadaan sesungguhnya pada saat itu. Mungkin ia tidak akan merasakan takut sebesar ini. Ya Tuhan ... mengapa hidupnya selalu dihantui rasa takut?
Tidak terasa setitik cairan bening kaluar dari sudut matanya, seketika Anara menarik napas panjang segera menghapus cairan bening itu.
"Selamat siang, Bu." Anara menoleh pada yang menyapanya, tersenyum tipis mengangguk samar sebagai sahutan. "Ibu mau ke kantin?" Ah, wanita ini adalah salah satu staff bagian marketing yang begitu pandai berbasa-basi.
"Saya mau ke ruang rapat," jawabnya singkat.
"Ih, Ibu itu panutan saya banget loh. Saya kepengen banget kayak Ibu," pujinya menyamakan langkah.
Anara tersenyum miris. "Nggak ada yang benar-benar mau seperti saya," gumamnya pada diri sendiri.
"Bagaimana, Bu?" Asti menoleh, menatapnya penuh binar kekaguman.
Tergesa Anara menggeleng, masih memertahankan senyumannya. "Jangan mau seperti saya," tukasnya, "kamu harusnya lebih dari saya dalam segala hal. Karena disamakan atau dibanding-bandingkan rasanya pasti nggak enak banget." ungkapan itu lolos begitu saja dari mulutnya seolah mewakili apa yang ia rasakan saat ini.
Asti menganga tak percaya, membuat Anara risih memilih menajamkan tatapannya. "Kamu kenapa lihatin saya seperti itu?" ketusnya tegas.
"Em, anu Bu. Selama saya masuk perusahaan ini dan selama saya mengenal Ibu, tadi adalah kalimat terpanjang menurut saya selama berinteraksi dengan Ibu."
Seketika Anara mengalihkan tatapannya, kemudian melangkah cepat meninggalkan Asti yang termangu. Anara tak memungkiri kalau memang dirinya sangat pelit dalam berbicara termasuk pada keluarganya sendiri. Anara lebih memilih menyibukkan dirinya dengan berbagai macam kegiatan. Karena baginya, banyak berbicara hanya akan menambah masalah.
Anara bersikap abai pada sekelilingnya, karena pada kenyataannya tidak akan ada yang benar-benar peduli padanya.
***
Prakasa melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ia mendesah lelah bersandar pada sandaran kursi kerjanya memejamkan matanya sesaat. Tidak ada salahnya mencoba, karena tidak ada yang benar-benar tahu apa keinginannya. Senyum tipis tersungging, Prakasa menatap lekat tandatangannya di atas materai. Prakasa mengalihkan pandangan, meraih gawai-nya berniat menghubungi Anara.
"Ya?"
"Aku sudah tandatangani, An."
"Kamu yakin?"
"Yakin."
Helaan napas terdengar. "Aku yakin, setelah aku memberitahukan semuanya sama kamu, kamu pasti nggak akan sudi menikahiku dan memilih merobek kertas itu."
Prakasa terdiam, kemudian tersenyum miring. "Selama masih bisa ditoleri, mengapa harus merobek kertas ini segala?"
"Kamu memang terlalu naif, Sa, atau entah terlalu idiot."
"Kenapa? Kamu kaget mendengar aku memutuskan setuju?"
Kekehan pelan terdengar. "Nggak ada yang benar-benar bisa melupakan masa lalunya, apalagi cintanya. Tapi, kalau memang kamu mau mencoba, ya, bukan masalah."
"Lalu? Jangan banyak alasan lagi, An. Kalau kamu mau egois nanti aja, pikirkan Abah."
"Bukan alasan. Jangan dulu menemui Abah, kita bertemu di kafe setelah pulang kerja."
"Aku jemput kamu."
"Nggak. Kita bertemu di sana saja."
Prakasa mendesah, menggeleng tak habis pikir. Sepertinya kasus kelamin yang tertukar itu memang sedang terjadi menimpa Anara. Buktinya, sikap Anara persis seperti direktur dari novel yang istrinya sering baca dulu. Dingin dan dominan.
"Ada-ada aja lo, Sa. Masa iya Anara transgender?" gumamnya pada diri sendiri. "Tapi, kok, begitu amat ya jadi perempuan?" ucapnya lagi. Prakasa menggeleng, menggeplak kepalanya sendiri. "Ngaco lo, Sa. Kurang kopi kayaknya." Prakasa memilih segera membereskan barang-barangnya sebelum akhirnya meninggalkan ruang kerjanya.
Menunggu memang kebiasaannya, karena Kiara dulu senang sekali membuatnya menunggu. Tapi, baru kali ini Prakasa merasa jam bergerak begitu lambat, ia sudah menghabiskan dua cangkir kopi menunggu Anara yang tak kunjung datang. Lonceng pintu kafe berbunyi, Prakasa mengangkat pandangannya, melihat Anara yang melenggang ke arahnya dengan raut wajah datar. Prakasa refleks menggeleng, biasanya wanita sangat murah senyum, tapi berbeda dengan Anara yang sangat pelit untuk sekedar tersenyum tulus.
"Maaf, macet," ujarnya pertama kali duduk di kursi sebelahnya.
"Nggak masalah, Ibu Anara selalu dimaafkan," cibirnya pelan.
"Aku serius."
Prakasa duduk tegak, menatap lekat Anara. "Apa lagi yang mau dibicarakan? Ada yang harus aku tandatangani lagi? Biasanya tandatangan itu kalau mau ambil slip gaji, jadi rasanya rugi kalau harus tandatangan lagi," ucapnya dengan nada menyindir.
"Aku bukan perawan."
Seketika Prakasa menatap Anara terkejut. "Apa?"
"Aku udah nggak perawan lagi, Sa. Kamu pasti ngerti maksud aku."
Prakasa tersenyum. "Sama siapa? Sama calon suami kamu dulu, kah?"
Anara mengangkat bahu tak peduli. "Sama siapanya nggak perlu dibahas, tapi, itu yang mau aku katakan. Aku nggak mau kalau sampai kita menikah, ada perkataan kamu yang menghina aku."
Angkuh seperti biasa. "Wanita yang nggak bisa menjaga keperawanannya, memberikannya dengan sukarela memang nggak ada salahnya dapat hinaan," pungkas Prakasa tak kalah datar.
Anara tersenyum tipis. "Ya. Maka dari itu, aku mengatakannya lebih awal sebelum nanti kamu menghinaku habis-habisan."
"Aku pikir wanita yang egonya tinggi kayak kamu nggak akan mudah terbuai sama bujuk rayu lelaki yang nggak bertanggung jawab di luar sana, tapi ternyata aku salah."
"Aku bukan Malaikat yang selalu berbuat benar," sanggahnya, "tapi bukan juga Iblis yang selalu berbuat salah."
"Apa ini salah satu alasan kamu menutup diri?" pancingnya menyelami netra cokelat indah milik Anara.
"Kamu nggak perlu tahu," jelas Anara memalingkan padangannya.
Prakasa menghela napas panjang, bersandar menatap tenang samping tubuh Anara. "Kamu bisa jelaskan semuanya secara rinci sekarang."