Delapan

900 Kata

"Nggak ada yang perlu dijelaskan, kamu cukup tahu aku sudah nggak perawan," tolaknya tegas. Mata Prakasa menyipit sebelum akhinya mengembuskan napas lelah. "Lucu," komentarnya. Anara menatap Prakasa tajam. "Wanita yang egonya tinggi bisa kena juga," kekehnya sumbang. "Pria memang begitu," ucap Anara menatap Prakasa berani. "Dia menuntut seorang wanita tetap menjaga keperawanannya tanpa mau berkaca diri," sarkas Anara membuat sebelah alis tebal Prakasa naik. "Aku nggak memersalahkan keperawanan kamu, aku cuman merasa lucu saja," bantahnya tenang. "Nggak ada yang lucu di sini, Prakasa." "Ada," tegasnya, "kamu begitu lucu, merasa semua beban bisa kamu pikul di pundak kamu sendirian, tanpa kamu ingat wanita itu bisa lemah kapan saja." "Apa maksud kamu?" Prakasa mengedik. "Aku meneba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN