Pelangi melebarkan kedua matanya, melihat siapa yang tengah mengelus perut bulatnya. "Kau?.." suara Pelangi begitu rendah bahkan hampir tak terdengar. Drex lekas mendekatkah tubuhnya. Pria itu duduk di sisi ranjang di hadapan Pelangi. "Ya, ini aku. Pria breng sek yang pastinya sangat kau benci. Tapi tolong, kesampingkan rasa marahmu padaku saat ini. Kau butuh banyak tenaga untuk melahirkan anak kita, putri kecil kita yang cantik." Ucap Drex membuat kerutan di kening Pelangi berlipat dalam. Keringat dingin yang membasahi kepalanya, hingga keningnya terlihat mengkilap karena bias lampu ruangan. Melihat keheranan Pelangi, Drex mengulas senyum tipis. "Aku hanya menebak, entah kenapa aku sangat yakin jika dia seorang peri yang cantik. Sama persis seperti ibunya," lanjut Drex kembali mengu

