Bab 9

1675 Kata
Tak butuh waktu lama bagi seorang Drex untuk mencapai kota yang dia tuju. Dengan keajaiban kekuasaan yang dia miliki, semua terkendali dalam sekejap mata. Kini dirinya tengah menunggu informasi dari manager Bank, yang baru saja mencairkan sejumlah uang sesuai besaran nominal yang pernah dia tulis di cek dahulu. "Tuan Drex, mari ikut saya." Pinta sang manager Bank pada Drex yang sejak beberapa menit lalu terlihat begitu gelisah. Tanpa kata, Drex mengekori sang manager menuju sebuah ruangan di lantai dua. Setiba di dalam ruangan yang berukuran sekitar 4x5 meter tersebut, sang manager mengarahkan Drex ke sebuah meja lain di sudut ruangannya. "Ini rekaman CCTV yang akan memperlihatkan siapa orang yang telah mencairkan cek tersebut, tuan Drex." Drex begitu serius menatap layar laptop tersebut, hingga fokusnya terhenti pada sosok yang sangat dia kenali. Sopir pribadi sang oma. Pikiran Drex mendadak kacau, untuk apa pria tersebut berdiri di depan teller bank dengan selembar kertas di tangannya. Namun beberapa menit kemudian, Mudino nampak gelisah. Sejumlah uang mulai tersusun satu persatu di atas meja teller. Drex terbelalak, melihat setumpuk uang tak sedikit di hadapan pria itu. "Apa maksud anda, pria ini yang mencairkan cek tersebut?" tanya Drex meyakinkan. Hatinya tiba-tiba merasakan cemas luar biasa. "Benar tuan, namanya pak Mudino. Dan cek tersebut milik nona mudanya. Karena sang nona sedang dalam proses persalinan di klinik, maka dari itu pak Mudino di amanahkah oleh majikannya untuk mencairkan cek tersebut. Kami bahkan langsung di hubungi oleh nyonya Saudah perihal kebenaran cek tersebut. Itu kenapa kami berani mencairkan." Terang sang manager Bank secara rinci. Lutut Drex terasa lemas. Pemilik cek itu sedang dalam proses persalinan? itu artinya, Pelangi nya sedang berjuang untuk melahirkan mentari yang akan menyinari kehidupannya kelak. "Baik pak, terimakasih atas informasi dan bantuan anda. Kalau begitu saya permisi dulu. Ah ini, tolong di terima. Maaf jika pemberiannya terkesan tidak sopan. Tapi saya sedang sangat berbahagia hari ini, putri saya akan lahir ke dunia, anggap ini sebagai hadiah kecil atas suka cita saya." Ucap Drex begitu yakin jika anak yang akan di lahirkan oleh Pelangi adalah seorang putri. Manager Bank tersebut tersenyum kikuk, namun tangannya tetap menyambut segepok uang pemberian Drex. "Terimakasih banyak tuan, semoga istri dan putri anda selalu di berikan kesehatan." Doa sang manager tanpa tau kebenarannya. Namun Drex lekas mengamini doa tersebut. Kata amin yang dia harapkan dapat membawa Pelangi dan anaknya ke dalam hidupnya yang kacau belakangan ini. Dengan langkah lebar penuh keyakinan, Drex menuju ruang bersalin setelah mendapatkan informasi dari loket depan. Drex mematung kala melihat seorang tua yang sangat dia kenali itu. Rasa cemas mendadak menelusup dalam benaknya. Drex masih belum memahami situasi yang terjadi, bagaimana bisa Pelangi bersama sang nenek. Berbagai pertanyaan bergelayut dalam pikirannya, namun Drex berusaha mengesampingkan rasa penasarannya. Ada hal yang harus dia luruskan terlebih dahulu, terutama dia sangat ingin melihat keadaan Pelangi saat ini. "Oma?" lirih Drex dengan suara tercekat. Oma Saudah yang biasa selalu menyambutnya dengan senyum lebar dan kata-kata penuh kerinduan yang manis, kini wanita itu nampak bergeming. Menatapnya dengan tatapan datar yang sulit di artikan. Drex menelan ludahnya berusaha untuk mengurai rasa gugup, takut dan cemas. "Kau datang. Oma pikir cucuku akan berjuang seorang diri di dalam sana. Sungguh wanita muda yang sangat malang. Setelah di nodai lalu di buang bagai sampah." Deg! Jantung Drex bagai di remas. Kata-kata sang oma menamparnya telak hingga tak bisa dia elak. "Bagaimana keadaan Pelangi oma?" tanya Drex memberanikan diri. Terlambat jika ingin mengelak, sang oma jelas sudah mengetahui lebih banyak dari yang bisa dia tebak. Oma Saudah masih menatap Drex dengan sorot mata yang menyiratkan kekecewaan mendalam. Cucu yang sangat dia banggakan, telah mencoreng arang di wajahnya yang tak lagi muda. "Pelangi? siapa Pelangi? siapa dia bagimu, Drex?" tekan sang nenek dengan suara bergetar halus. "Oma, aku akan menjelaskan semuanya nanti. Oma boleh memarahiku bahkan memukulku bila perlu. Aku tak akan mengelak. Tapi sekarang, ijinkan aku menemani wanita yang tengah berjuang membawa anakku lahir ke dunia ini. Aku mohon, oma..." pinta Drex amat lirih. Sorot mata penuh permohonan yang begitu memelas. Belum pernah oma Saudah melihat cucunya berada di fase menyedihkan seperti ini. Seperti bukan Drex, cucunya yang angkuh dan tak tersentuh. Kini Drex bermetamorfosis menjadi seorang pria perasa yang terlihat dramatis. "Atas dasar apa kau mengatakan jika Pelangi cucuku mengandung benihmu? apa kau mengenalnya? hingga membuat Pelangi yang malang terdampar di terminal tanpa tujuan, dengan menenteng tas lusuh miliknya. Suatu kebetulan takdir mempertemukan kami dengan cara yang ajaib. Kini aku mengerti kenapa Tuhan merancang pertemuan kami. Agar dapat menghukumku setiap hari, dengan menyaksikan bagaimana Pelangi belia mengandung tanpa kehadiran seorang pria yang seharusnya bertanggung jawab terhadapnya. Gadis muda yang masih polos, yang bahkan tak mengetahui kehamilannya sendiri hingga beberapa bulan. Rupanya Tuhan begitu baik, memberikanku hukuman atas dosa cucu kebanggaanku sendiri." Tutur oma Saudah mengusap pipi keriputnya dengan lemah. Drex tak tahan lagi, pria melangkah cepat kemudian berlutut di kaki sang oma. Memohon pengampunan pada wanita tua itu dengan segala sesal yang menumpuk di dalam hatinya. "Maafkan Drex oma, semua terjadi begitu saja. Drex salah, Drex mengakuinya. Tolong jangan berkata seperti itu lagi, hatiku sakit oma. Sakit..." ujar Drex lirih dengan isak kecil yang tak tertahankan. Pria arogan itu dengan setia memeluk kaki tua sang nenek memohon ampunan pada wanita renta itu. Wanita yang sudah seperti ibu baginya. Sejak kecil Drex lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang nenek karena sang kakak Teresa yang sering sakit-sakitan. "Mud, bawa kemari sampah itu." Perintah oma Saudah pada sang sopir yang sejak tadi bergeming sembari memeluk sebuah plastik sampah di pangkuannya. Bi Sari menepuk pelan lengan sang suami kala tak melihat pergerakan pria di sampingnya itu. "Eh? ya nyonya, maaf. Ini nyonya.." pria itu menyerahkan kantong plastik tersebut dengan meletakkannya di samping sang majikan. Oma Saudah menggeser plastik itu kemudian menyerahkan nya pada sang cucu. "Bawa kembali sampah ini Drex. Pelangi tak membutuhkannya. Oma masih sanggup untuk membiayai kehidupan Pelangi serta anaknya. Simpan uang harammu ini, harga diri cucuku sangat mahal. Uangmu ini tak'kan cukup untuk membayarnya. Bahkan jika seluruh aset keluarga Connor kau jual semua pun, itu masih tak akan mampu melunasi hutang kehormatan yang telah kau rampok paksa darinya." Tukas oma Saudah tegas. Meski hatinya sakit telah mengatakan hal yang menyakiti harga diri cucunya Drex. Namun hati terdalamnya lebih sakit lagi, kala mengetahui betapa be jat nya sang cucu. Drex terisak semakin kuat, bahunya berguncang hebat. Dengan sisa keberanian yang dia miliki, Drex mendongak untuk melihat ekspresi penuh kecewa sang nenek. "Aku tau kesalahanku sangat besar oma, tapi aku punya alasan kenapa aku nekat melakukannya. Tapi aku mencari Pelangi sesaat aku tau, jika dendamku salah sasaran. Aku mencarinya oma, demi Tuhan aku tak tinggal diam selama beberapa bulan ini. Aku mengalami ngidam selama lima bulan penuh, aku sakit oma tapi aku tetap mencari Pelangi ke beberapa kota terdekat. Bahkan aku pernah kemari. Hanya saja aku tak sampai ke rumah oma, karena terlalu sibuk mengejar informasi yang aku dapatkan." Jelas Drex berharap hati sang oma luluh. "Ijinkan aku menemani Pelangi oma, dia pasti membutuhkanku sekarang. Please..oma.. ijinkan aku memperjuangkan Pelangi sekali saja." Mohon Drex hampir putus asa, suaranya semakin rendah karena frustasi serta rasa bersalah yang teramat dalam terhadap dua wanita beda generasi itu. "Pergilah, jika Pelangi tak menginginkanmu keluarlah dari sana. Jangan memaksakan kehendakmu padanya seperti yang pernah kau lakukan." Ujar oma Saudah sedikit melunak. Bukan tanpa alasan dia mengijinkan Drex untuk menemani Pelangi melahirkan anak mereka. Wanita muda itu butuh stimulasi dari ayah bayinya, mungkin dengan amarah yang tersimpan dalam hati Pelangi. Membuat gadis muda itu memiliki kekuatan saat proses persalinan tiba. Drex bangkit dari posisinya, sebelum masuk ke dalam ruangan bersalin, Drex mencium punggung tangan sang oma dengan penuh kehangatan. Klek Drex mengedarkan pandangannya, yang pertama dia lihat adalah meja deret dengan beberapa orang perawat tengah duduk sambil menulis sesuatu di buku besar. Ada juga yang terlihat sibuk mondar-mandir memeriksa pasien yang tertutup tirai pada masing-masing sisi ranjang pasien. "Maaf pak, anda mencari pasien atas nama siapa?" tanya seorang perawat tersenyum ramah. "Itu..Pelangi..di mana letak ranjangnya?" tanya Drex sedikit gugup. "Oh, nyonya Pelangi...di ranjang paling ujung pak, silahkan masuk mari saya antar." Drex menutup pintu yang tadi setengah terbuka. Pria itu mengikuti arahan seorang perawat dari belakang. Melewati beberapa ranjang tertutup tirai, dapat Drex dengan suara isakan menahan rasa nyerinya pembukaan. Dia beberapa kali membuka video persalinan normal juga Caesar, guna mempersiapkan mentalnya. Kini tak menduga akan menghadapinya secara langsung. Namun saat tiba di ranjang Pelangi, hanya ada keheningan. Wanita itu tak mengeluarkan sedikit pun desisan rasa sakit seperti beberapa wanita di dalam ruangan tersebut. Ada 6 ranjang pasien di ruang bersalin itu, dan terisi empat pasien yang akan melahirkan. Namun hanya ranjang Pelangi yang sunyi tanpa suara. Ranjang di samping Pelangi kosong, sementara di seberangnya terisi pasien yang tengah berteriak histeris memarahi siapa saja yang ada disana. Sebegitu sakitkah proses tersebut? itulah yang ada di benak Drex. Dia mulai merasa was-was akan kondisi Pelangi yang masih sangat muda untuk melakukan proses persalinan normal. "Silahkan pak, ibunya pinter. Seperti sudah berpengalaman saja padahal baru anak pertama. Sejak masuk tidak mengeluhkan apapun, anteng seperti bayi baru lahir." Ujar sang perawat dengan senyum lebar. Drex meringis mendengar kalimat tersebut. Dia tau Pelangi nya wanita muda yang hebat. "Terimakasih sus," ucap Drex tulus. "Jika kontraksinya sudah mulai dekat, rasa sakitnya akan lebih sakit lagi. Tolong di bantu ibunya ya pak, di tenangkan. Bisikin kalimat yang membuat ibunya teralihkan dari rasa sakit yang di rasa kala kontraksi muncul." Ingat sang suster memberikan nasihat. Drex hanya bisa mengangguk paham, dia harap Pelangi mau melupakan sejenak permasalahan yang mereka alami. Drex, menutup kembali tirai yang tadi di buka oleh sang perawat, lalu mulai mendekati ranjang Pelangi. Gadis itu terlihat berbaring dalam posisi miring ke kiri menghadap dinding, seperti yang di instruksikan oleh perawat. Matanya terpejam, bibirnya pucat, tonjolan urat di pelipisnya terlihat jelas. Drex tau Pelangi sedang berusaha keras menahan rasa sakitnya seorang diri. Wanita itu pasti tak ingin membuat sang Oma mencemaskan dirinya di dalam sana, jika terlalu banyak mengeluhkan rasa sakit yang dia alami. Usapan lembut telapak tangan Drex di perut Pelangi, membuat wanita itu membuka kedua mata sayunya perlahan. Beberapa detik kemudian.... Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN